Monday, December 10, 2007

Dampak e-mail masuk desa

Mau tahu nggak dampak dari internet masuk desa yang beberapa waktu lalu iklannya banyak ditayangin oleh TV swasta di Indonesia. Manfaatnya memang begitu terasa sebagai ajang komunikasi yang cepat, tapi ternyata bagaikan 2 sisi mata pedang, ada sisi positif dan ada sisi negatifnya.

Karena sudah ‘melek’ internet, yang namanya e-mail juga menjadi makanan sehari-hari di inbox penduduk sebuah desa di daerah pegunungan Temanggung yang sudah terbiasa berinternet ria.

Ceritanya, Sarino yang tukang kayu dari daerah pegunungan Temanggung tadi dapet kerjaan borongan bikin mebel di sebuah hotel berbintang di Yogyakarta.

Sarino berangkat duluan diantar istrinya yang setia Watimah ke terminal bus, dengan janji besoknya Watimah bakal menyusul. Sesampainya di Yogya, karena sudah biasa berkomunikasi lewat e-mail, Sarino langsung mampir ke warnet di seberang hotel, ia segera kirim e-mail ke istrinya yang ada di Temanggung.

Di lain tempat, namun masih juga di daerah pegunungan Temanggung juga, Qatimah seorang istri yang sedang berduka , baru saja mengantarkan jenazah suaminya Parno ke pemakaman. Selesai dari pemakaman Qatimah langsung pulang ke rumah, lantas mau ngecek e-mail, siapa tahu di inbox banyak berita dari sanak saudaranya terkait dengan ‘kepergian’ sang suami yang harus segera di- replay- nya.

Saat buka e-mail, Qatimah menjerit lalu pingsan… Anaknya yang juga ‘melek’ internet kaget, lalu ikut membaca isi e-mail tsb, ia pun mendadak ikut menjerit heran pula.

Ternyata pangkal persoalannya, si Sarino [tukang kayu] yang kirim e-mail dari Yogya salah memencet tombol keyboard, kirim e-mail ke istrinya mestinya watimah@temanggung.co.id salah pencet menjadi qatimah@temanggung.co.id . Maklum jarinya tukang kayu kan segede jempol semuanya, tombol w dan q kan dempetan terjadilah salah tekan tsb. Nah, lho.

Biar nggak penasaran, inilah isi e-mail Sarino yang bikin keluarga Qatimah histeris sampai pingsan.

‘Imah isteriku tercinta,
terima kasih banget yo, sudah mengantarkan aku pergi, tadi pagi,
aku sudah sampai dengan selamat, di sini aku diterima dengan baik,
aku juga senang banget karena banyak teman-teman lama yang sudah duluan sampai,
katanya kamu akan nyusul besok, namamu sudah aku daftarkan di sini,
aku tunggu ya, supaya kita bisa bersama lagi di sini.
oh, ya ternyata di sini lumayan lho panasnya…
salam kangen
suamimu, mas-No.

Wednesday, November 28, 2007

In Memorian 'harjo' Sigit Joko Pangestu


[sebuah catatan yang terlintas]


Rabu, 21 November 2007 yang lalu salah seorang teman bermain waktu kecil di PG Soedhono Madiun telah dipanggil oleh Allah SWT di Tegal. Konon dikarenakan sakit hipertensi. Saya & Kel. Ikut berduka cita yang sedalam-dalamnya, semoga arwah temen kecil kami sewaktu di Madiun ini diterima di sisi-Nya, dan semoga keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan.

Berita duka ini saya dapatkan dari Antok Soemartono yang berdomisili di Yogya. Sayangnya temen-temen lain ternyata juga tak ada yang tahu tentang berita ini. Maklum sejak lulus SMA kami semua, temen sepermainan waktu kecil, telah berpencar untuk kuliah di kota-kota besar yang ada di Indonesia untuk mengejar cita-cita & mencari masa depan yang baik. Mungkin terakhir bertemu dengan Sigit ini ya ketika saya masih kuliah di Surabaya dan sering mondar-mandir ke Yogya. Karena saat itu Sigit atau kita sering memanggilnya Harjo Sigit kuliah di Yogya. Begitulah. Lebih dari 20 tahun saya tak mendengar khabarnya lagi.

Di komplek tempat tinggal kami waktu kecil dulu, memang kami sudah seperti keluarga. Yang sampai saat ini masih terlintas dalam ingatan saya, Harjo Sigit ini dulu adalah kipper terbaik team sepakbola anak-anak PG Soedhono. Dan saat beranjak dewasa, olah raga kami memang beralih ke Tennis. Dan Harjo Sigit juga termasuk petenis yang handal turut mewakili PG Soedhono bila bertanding dengan PG-PG lain. Sigit punya keistimewaan kedua tangannya [kiri/kanan oke] mampu memegang raket dengan sama baiknya. Di grup musik, Sigit juga punya andil untuk kami, karena dia juga seorang drummer yang cukup handal.

Masih banyak lagi kenangan-kenangan masa kecil yang sebenarnya ingin saya ceritakan. Tapi yang saya masih ingat dan saya merasa bersalah pada Harjo Sigit waktu itu adalah ketika kami begadang di Gedung Pertemuan PG Soedhono. Saat itu kami selesai nge-band, nyambung dengan bermain billiard. Saat asyiik main billiard, ternyata Harjo Sigit tertidur di tempat gamelan [kira-kira jam 1 malam]. Yang namanya jiwa remaja, saat itu saya ‘kerjain’ dia dengan mengguyurnya dengan air segayung. Sambil kaget, terbangunlah ia. Kami pun tertawa bersama, maklum yang namanya masih ABG, kalau bias ngerjain temen kan kayaknya sukses banget. Pada waktu itu, di antara kami [remaja PG Soedhono] kalau lagi begadang ada yang tertidur ya wajib dikerjain. Eh, ternyata keesokan harinya Harjo Sigit sakit ‘masuk angin’ dan tidak masuk sekolah. Ada rasa sesal saat itu. Sigit, maaf ya… Selamat jalan friend!

Lepas dari kenangan masa kecil tsb, kepergian Harjo Sigit juga tiba-tiba menyadarkan saya dan beberapa teman lain bahwa ternyata kami semua saat ini telah menjadi bapak-bapak yang berusia kepala 4. Totok dan Andi yang saat saya khabari sedang ada urusan bisnis di Banjarmasin pun terkaget-kaget dan menyadari pula bahwa kita telah tua. Mereka berdua pun punya keinginan untuk setahun sekali minimal ada ‘kumpul-kumpul’ alumni ‘bocah’ PG Soedhono. Tempatnya terserah, boleh di mana saja. Mumpung masih ada umur katanya. Mudah-mudahan rencana besar ini dapat terwujud.

Inilah sedikit pengantar dari saya seputar kepergian teman masa kecil kami semasa di PG Soedhono Madiun. Semoga di lain waktu saya bias menulis kenangan-kenangan indah saat kami kecil dulu bermain di bawah pohon asem nan rindang dan diiringi musik desiran jajarn pohon cemara yang mengelilingi jalanan komplek PG Soedhono. Bukankah masa lalu itu memang perlu dikenang?

Silakan temen-temen menganggapinya atau mungkin kepingin sharing cerita-cerita lain dengan menuliskan komentarnya, your comments please!

Sayang anak... sayang anak...


Menyikapi anak-anak sebagai target market

Orang tua mana sich yang gak sayang anak? Saya yakin sebagai orang tua yang sayang anak, pasti selalu berusaha untuk menyenangkan buah hatinya. Namun sadarkah kita, rasa sayang kita terhadap anak ini ternyata menjadi salah satu bahan pertimbangan utama bagi sebagian produsen yang memang sengaja menyasar anak-anak sebagai target market-nya.

Contoh paling gampang, yang terjadi dalam keseharian kita, begitu ada suara tet tot- tet tot tukang balon, anak pun langsung merengek untuk minta dibelikan. Tukang balon pergi, terdengar lagi, suara penjual es krim keliling dengan musiknya yang khas, anak-anak pun langsung merengek lagi. Tidak lama kemudian tukang odong-odong yang berkeliling sambil memperdengarkan lagu anak-anak.

Begitu seterusnya, dalam satu hari kalau dihitung bisa ada puluhan pedagang keliling di sekitar rumah kita yang target marketnya adalah anak-anak. Pesan atau ‘jualan’ mereka pun secara langsung dapat ditangkap oleh anak-anak, karena langsung ada action yaitu rengekan anak-anak untuk dibelikan. Sama halnya, tatkala kita berada di Mall, di terminal, di stasiun, di kereta, di bus, di halte, begitu banyak pedagang yang mebidik anak-anak sebagai target market. Pastinya Anda semua sering mendengar pedagang yang menjajakan dagangannya secara persuasif “sayang anak… sayang anak…”

Dari TV yang ditonton pun ada ratusan pesan iklan dari produk yang diperuntukkan anak-anak memborbardir setiap harinya. Mulai dari snack, permen, susu, vitamin, suplemen, shampoo, minuman ringan, sepatu, sandal, pakaian, tempat hiburan, dsb. Dan hebatnya, pesan iklan yang sering mereka dengar ternyata bener-bener ‘nancep’ di kepala anak-anak.

Coba, ajak anak-anak ke Indomart terdekat, dan biarkan mereka ambil yang mereka mau, pastinya yang akan diambil adalah produk-produk yang iklannya telah tertanam secara tidak sadar di kepala mereka. Artinya, tugas iklan sebagai penyampai pesan ke target yang diinginkan si produsen betul-betul sampai, dan si target pun ingin membelinya tatkala melihat produknya ada di depan mata..

Namun seringkali, banyak iklan yang targetnya bukan anak-anak bias dan menyasar ke anak-anak. Ini yang harus kita waspadai bersama. Contoh paling gampang ya iklan hand-phone yang seringkali membuat mereka sebentar-sebentar minta untuk mengganti hand-phone -nya dengan.model keluaran terbaru. Kalau sudah begini sebagai orang tua, kita harus mampu memberikan pencerahan untuk mereka.

Dari paparan di atas, secara tidak kita sadari ternyata anak-anak usia 4 hingga 13 tahun, saat ini sudah mulai dianggap sebagai konsumen yang prospektif dan potensial. Dan ternyata yang namanya market dengan segmentasi khusus anak-anak itu ada dan besar sekali.

Memangnya anak-anak punya uang untuk membeli itu semua, kok dianggap sebagai target market yang ‘empuk’?

Jangan salah, yang namanya anak-anak itu ternyata mampu mempengaruhi orang tuanya [ibunya] untuk membeli yang mereka mau [ingat, sayang anak… sayang anak]. Selain itu, biasanya, anak-anak kalau menginginkan sesuatu akan membelanjakan seluruh uang yang dimilikinya, bahkan rela memecah ‘celengan’-nya.

Nah berbahagialah bagi mereka yang telah memiliki usaha dengan target market anak-anak. Berarti Anda telah berada di jalur yang potensial. Tinggal bagaimana belajar dari perilaku anak-anak agar mampu menciptakan terobosan-terobosan baru tatkala menjual produk Anda ke anak-anak yang menjadi target market.

Dan yang juga penting untuk diperhatikan, produk yang Anda jual harus mampu menyentuh emosi dan tataran psikologis si Ibu. Setidaknya ibu harus merasa bahwa produk yang ditawarkan tsb memang pantas dibeli. Karena, pada kenyataanya ibulah yang memutuskan produk tsb. layak dikonsumsi atau dipakai oleh anak-anaknya.

Selebihnya, produk yang Anda tawarkan harus dapat menjamin kesehatan, keselamatan, bikin anak-anak jadi lebih cakep, dapat membantu mereka tambah pintar, dapat menjadikan mereka happy. Karena hampir semua ibu selalu mendambakan anaknya tumbuh pintar, sukses, dan juga happy.

Ingat, tatkala seorang ibu membelikan pakaian yang bagus, makanan dan minuman yang sehat, mainan yang mendidik, bacaan yang menambah wawasan, dsb. ia akan merasa telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi anak-anaknya sebagai curahan kasih sayangnya.

Adakah pendapat lain yang bisa kita sharing dan diskusikan bersama?

Tuesday, October 30, 2007

Njelimetnya kata 'maaf'

Saya yakin, kata yang paling banyak digunakan pada ‘Lebaran season’ adalah kata ‘maaf’. Bayangkan, setelah orang tua dan keluarga terdekat kita … setiap kali ketemu dengan temen, saudara, tetangga, kenalan, bahkan orang yang baru kita kenal pun pasti kata ‘maaf’ ini yang bakal terucap. Belum lagi yang diucap lewat telepon, dikirim via SMS, dan e-mail. Terpikir nggak berapa keuntungan yang diraih oleh para operator seluler dengan kata ‘maaf’ ini? Dahsyat kan!

Kalau direnungkan lebih jauh, sebenarnya masih bermakna nggak sih kata ‘maaf’ ini? Karena begitu mudahnya kita mengumbar kata ‘maaf’ ini. Seolah tersirat, begitu gampang pula kita berbuat salah kepada orang lain. Apa nggak kesannya malah klise belaka? Atau memang sekadar ritual saja. Karena di bulan ini memang semua orang aktif mengobral kata ‘maaf’. Lha berarti kita cuma ikut-ikutan aja dong. Nah lho, kalau cuma ikut-ikutan kata ‘maaf’ yang terucap nggak dari hati dong. Kalau ‘nggak dari hati berarti permohonan ‘maaf’nya nggak tulus jadinya… wuah gawat!

Padahal untuk memohon maaf, kita kan harus sadar sepenuhnya bahwa kita pernah berbuat salah atau pernah berbuat yang menyakiti orang. Karena kalau kita minta maaf kepada seseorang berarti ada tersirat makna bahwa kita sungguh-sungguh menyesali apa yang telah kita perbuat, dan berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya lagi. Lalu benarkah kita telah berbuat salah atau pernah menyakiti ratusan orang atau bahkan ribuan orang yang telah kita kirimi kata ‘maaf’? Pusiiing lah kalau dipikirin sampai njelimet begini.

Begitu pula kepada teman-teman yang sering berkunjung ke blog ini, haruskah hamba memohon maaf kepada Anda semua? Salah apa ya daku? Paling-paling kalau saya menyadari kesalahan saya, ya sebatas saya sudah lama tidak meng-update blog ini. Tapi kembali lagi, apakah hal ini bisa dianggap kesalahan saya kepada para pembaca blog ini? Wong ini blog saya kok… jadi ya suka-suka gue dong… mau saya update atau nggak? Betul nggak?

Kalau terus saya pikirin, saya jadi tambah bingung… bagaimana saya harus minta maaf, kan saya nggak tahu salah saya? Tapi daripada terus-terusan mikir pakai akal sehat malah ngaco jadinya terus malah jadi capek sendiri… dan daripada saya dibebani rasa bersalah yang nggak ketahuan ujung pangkalnya, dan mumpung masih dalam suasana Lebaran, saya akhiri pikiran akal sehat saya. Lebih baik saya menjalankan ajaran agama saya untuk selalu membangun tali silaturrahim dengan siapa saja dan saling memaafkan di bulan baik ini.

Untuk itu, dengan segala ketulusan hati, dalam kesempatan pertama setelah sekian lama saya nggak ‘ngeblog’ saya mengucapkan : “Selamat Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir & Bathin”.

Pemalas ngomongin malas

Malas adalah salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang singkat tapi artinya jelas dan tegas. Semua orang pasti akrab dengan kata yang satu ini, karena pasti pernah mengalaminya. Bahkan kalau tak salah, kata malas ini berkonotasi negative dari sejak diciptakan, makanya oleh para orang tua yang bijak malas diibaratkan sebagai ‘penyakit’ yang harus dihindari sejak kita kecil, kalau perlu dienyahkan selamanya dari sifat & kepribadian manusia.

Malas, inilah kata yang paling tepat untuk menggambarkan keadaan saya sebulan terakhir ini. Saya tidak mau menyalahkan penyebabnya, tapi harus jujur bahwa julukan sebagai si ‘pemalas’ lah yang cocok buat saya.

Malas untuk beraktivitas dan juga bekerja. Gawat padahal saya masih TDB, yang tentunya mash sangat membutuhkan pekerjaan saya saat ini. Malas gara-gara puasa? Ah yang bener aja. Bukankah selama berpuasa justru kita harus tetap beraktivitas. So jangan nyalahin puasa sebagai kambing hitam atau untuk menutupi sifat malas ini. Sekali malas ya malas aja. Khabar baiknya, untung saya tidak malas untuk menjalankan kewajiban puasa ramadhan.

Malas buka email, malas ngeblog? Ya, itulah yang terjadi dalam kurun sebulan terakhir ini. Padahal aktivitas ngi-mail & ngeblog jelas-jelas banyak gunanya sebagai ajang komunikasi, sharing pengalaman, wadah berkomunitas, dsb. tapi gara-gara malas ya nggak kesentuh juga. Namanya juga lagi malas euyy…

Malas ini seringkali saya sadari berdampak negatif buat diri saya pribadi. Apalagi kalau sudah mendarah daging, sampai-sampai kita tidak menyadari keberadaannya, karena seringkali kita kemas dengan kata lain yang lebih lembut seperti ‘santai aja’ atau ‘nyantai dulu ah’, ‘slow aja’, ‘kalem aja’, ‘ah entar juga masih ada waktu’, ‘gampang lah nanti aja’, dsb. Kalau saya renungkan lebih jauh, gara-gara malas kuliah saya pernah molor dan ketinggalan wisuda. Malas ‘ngurusin’ juga pernah bikin bisnis saya waktu mahasiswa [yang berangkatnya dari semangat cari tambahan uang saku] saya tinggalkan. Padahal kalau saya terusin mungkin sekarang udah jadi gede kali ye? [maklum dulu kan kepinginnya bukan jadi pengusaha tapi jadi pegawai]

Malas rutin ngontrol toko seluler juga pernah berujung omset menurun dan akhirnya ‘dikadalin’ karyawan dan akhirnya malah harus bubar. Malas ngontrol pengelola bisnis rental mobil juga berakibat hilangnya setoran 9 bulan, akhirnya berujung saya pindahkan ke pengelola yang lain. Yang terjadi baru-baru ini, gara-gara terlambat karena malas nyiapin proposal & konsep advertising & communication, bulan kemarin saya kehilangan peluang untuk ‘ndapetin’ kerjaan dari salah satu calon gubernur Jawa Timur. Nyesel. Anehnya, saya kok nggak pernah kapok dan jera dengan sifat malas saya ya? Karena saat malas itu muncul kok sempat saya biarkan berlama-lama hadir di dalam diri saya… hehehe…

Malas memang sudah menjadi sifat pribadi yang unik. Jadi kalau kita berhasil mengatasi kemalasan kita, berarti kita berhasil mengalahkan diri kita sendiri. Yang ini penting banget!

Malas… akhirnya sekali lagi kusadari sepenuhnya bahwa banyak dampak negatifnya daripada positifnya. Makanya, kulawan dia dengan sekuat tenaga. Kalau toh akhirnya tulisan ini selesai dan saya posting di blog, ini sangat besar artinya bagi diri saya pribadi. Karena berarti saya berhasil berjuang sekuat tenaga untuk mengalahkan diri saya pribadi khususnya sifat malas yang memang menjadi penyakit kambuhan sejak dulu.

Malas? Kok saya jadi malas ya … ngomongin malas.

Saturday, July 28, 2007

Ya Allah ampunilah hambamu ini… saat ini baru 19 anak yang bisa kubantu



Menjelang tahun ajaran baru kemarin menjadi hari yang paling sibuk dan deg-degan bagi sejumlah orang tua yang buah hatinya sudah duduk di bangku sekolah. Ada saja kebutuhan yang harus disiapkan agar proses belajar anak menjadi lancar nantinya. Begitu juga yang saya dan istri alami, selain harus menyiapkan dana untuk daftar ulang kedua anak saya, masih banyak keperluan dan perlengkapan sekolah yang harus dipenuhi seperti : buku, sepatu, alat tulis, seragam dsb. Memang dana untuk keperluan ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, tapi tetap saja prakteknya jumlahnya melebihi yang sudah direncanakan.

Tanggal 10 Juli 2007, setibanya di rumah dari sekolah anakku membereskan urusan administrasi, tiba-tiba muncul Afni, salah seorang anak yatim klas 5 SD, yang memang sering main ke rumah [selama ini Afni & 3 saudaranya memang setiap bulan kami bantu meskipun hanya sedikit]. Ia pun mengeluhkan tentang biaya daftar ulang dan untuk beli buku. Istriku memang sering berpesan kepadanya kalau ada kebutuhan untuk sekolah yang mendesak, selama ‘kita bisa’ pasti dibantu.

Saat itu pulalah, aku merasa ‘diingatkan’ bahwa pada sebagian harta kita ada hak untuk orang lain yaitu untuk mereka yang lemah [dhuafa], ada hak anak-anak yatim, piatu & yatim piatu yang harus segera aku berikan. Rasulullah juga mengajarkan kepada setiap umatnya untuk selalu membantu mereka-mereka ini. Tak hanya itu, infak dan sedekah pun merupakan wujud kesadaran tertinggi akan sebuah makna kepemilikan setiap sen harta yang kita peroleh. Apapun bentuknya, harta yang kita miliki saat ini adalah salah satu nikmat yang Allah berikan kepada setiap hamba-Nya. Jadi sudah seharusnya bila dibagikan pula kepada yang berhak.

Moment-nya sangat tepat, mereka saat ini jelas memerlukan bantuan untuk memulai sekolah kembali. Apalagi aku sudah sepakat dengan temen-temen mastermind TDA-Jakarta Timur untuk bersedaqoh minimal 20% dari hasil usaha yang kita peroleh. Biasanya menjelang Idul Fitri dan bulan Januari, santunan ke anak yatim/piatu ini kita sumbangkan ke sebuah yayasan di daerah Jatiwaringin [sekaligus kedua anakku juga biar punya kepedulian & empati tatkala berinteraksi dengan mereka di asrama]. Tapi kali ini, aku terpikir untuk memberikannya ke mereka yang ada di dekat lingkungan komplek tempat tinggal kita [jadi memang harus dicari].

Langsung aku berunding dengan istri untuk mengumpulkan anak-anak yatim, piatu dan yatim piatu yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggal kita. Dana yang ada untuk program ini, setelah diperhitungkan dengan cermat selayaknya dapat dibagikan kepada 20 anak. Esensinya nya lebih ke arah membantu meringankan beban para anak yatim, piatu & yatim piatu yang masih sekolah [terserah uangnya nanti mau dipakai untuk apa : daftar ulang, beli buku pelajaran, beli perlengkapan sekolah atau apa saja]. Paket buku tulis dan alat tulis sudah disiapkan oleh istriku dan siap dibagikan.

Tanggal 15 Juli 2007 pk. 16.00 [besoknya kan sudah tahun ajaran baru], akhirnya ada 19 anak yatim/piatu dan yatim piatu yang bisa datang, di hari itu pula kami mengundang pak ustadz Sukarman [dari perguruan SMP/SMA Hutama] untuk sedikit memberi masukan dan siraman rohani kepada kami sekeluarga dan 19 anak tsb. Akhirnya, acara selesai dengan baik pk. 16.30.

Ya Allah ampunilah hambamu ini… saat ini baru 19 anak yang bisa kubantu

Saturday, July 14, 2007

Be Happy Now

Anne R. C. Neale

Life is a journey, that we all know,
And we keep busy all the time, that is so,
But what about your happiness, that's important too,
Be happy this day, NOW, that is the thing to do,

Don't wait until you get things that you'd like,
Don't just keep thinking everything will be all right,
The time is now to smell the “roses” you see,
Before you know it your life will be over and you'll be in eternity,

Don't get so wrapped up in your daily life
Be sure to have some fun in your life's strife,
Don't waste this day, enjoy it and have fun, And be sure to give
Thanks for your blessings to the Holy One.