Sunday, March 30, 2008

Sepenggal cerita tentang “Bus SIM Keliling”


Nggak kerasa, SIM A & C tanggal 4 April 2008 ini sudah habis masa berlakunya. Mau nggak mau kan mesti diperpanjang sebelum tanggal tsb. Kebayang 5 tahun yang lalu [karena nggak mau repot ‘dikerjain oknum’], urusan memperpanjang SIM tsb. melalui biro jasa. Alhasil habisnya lumayan mahal [Rp 360,000]. Kali ini, iseng-iseng nanya ke biro jasa yang sama untuk perpanjangan SIM A & C membutuhkan biaya Rp 500,000. [Enak banget ya nyari duitnya???]

Akhirnya, memilih untuk mencoba memperpanjang SIM tsb. sendiri tanpa perlu bantuan biro jasa. Sambil mencoba petualangan baru, kayak apa sih ribetnya? Kan katanya dalam usaha mewujudkan good government service di tubuh POLRI, sekarang ‘ngurus’ SIM & STNK lebih gampang dan nyaman, tanpa harus melalui calo ataupun biro jasa. [maaf ya buat temen-temen yang punya usaha biro jasa khusus SIM & STNK, hehehe…].

Sekaligus mendukung usaha POLRI untuk ‘memberantas praktek pungli & percaloan’ dari dalam instansinya. Kalau nggak dimulai dari diri kita sendiri, tujuan mulia ini akan mubazir. Inilah niat yang saya canangkan, ‘memerangi praktek pungli yang telah membudaya di masyarakat’ yang bikin bangsa ini terpuruk terus menerus. Mau se’repot’ apapun akan ane jabanin!

Tanggal 27 Maret 2008, mulailah browsing di internet, cari info tentang perpanjangan SIM ini, eh ketemu dengan yang namanya layanan SIM keliling. Emang beberapa tahun yang lalu pernah denger kalau Polda Metro Jaya melaunching fasilitas tsb. Tapi kan karena saat berita tsb. dirilis belum perlu, ya informasi tsb. lewat begitu saja. Masalahnya, layanan bus SIM keliling tsb. lokasi mangkalnya berpindah-pindah setiap hari.

Tatkala menanyakan ke telepon yang tertera di WEB resmi POLDA Metro Jaya [ www.lantas.metro.polri.go.id ] dijawab agar menelepon di pagi hari jam 8,00 di hari kapan kita mau memanfaatkan jasa layanan bus SIM keliling ini. Atau bisa juga SMS ke no. 1717 pk. 8,00 di hari yang sama. Juga bisa dilihat di halaman utama WEB resmi POLDA Metro Jaya setiap harinya [ www.lantas.metro.polri.go.id ].

Tanggal 28 Maret 2008 pagi, pk. 08,10 iseng-iseng nyoba nelpon ke no. telepon yang dianjurkan 021 527 6001, ternyata tidak ada satu pun yang menjawab [gimana nich???]. Terus nyoba SMS ke no. 1717 : “mohon info, hari ini 28 Maret 2008 layanan bus SIM keliling untuk wilayah Jak Tim lokasi ada di mana ya?”. Eh, nggak sampai 5 menit SMS telah dibalas : “SIM/STNK Jak Sel di Kebun Binatang Ragunan [SIM hari ini tidak beroperasi], Jak Tim di Pusat Grosir Cililitan, Jak Ut di Mall Pluit, Jak Bar di Carrefour Puri Kembangan, Jak Pus di PT Pelni Jl. Gajah Mada. Jam operasi 08.00 – 13.00 WIB.”

Langsung otakpun ambil keputusan untuk memilih Bus SIM Keliling yang ada di Pusat Grosir Cililitan [PGC] karena lebih dekat dari rumah. Meluncurlah ke PGC. Sampai di PGC sekitar 08.45. Di halaman parkir sudah terparkir Bus SIM Keliling & Bus STNK Keliling.

Di depan Bus SIM Keliling sudah ngantri 5 orang sebelum saya. Saya tanya ke petugas, apakah SIM saya yang habisnya 4 April 2008 nanti boleh diperpanjang sekarang? Karena saya minggu depan 1 April s.d 5 April 2008 ada tugas pekerjaan kantor. Kalau memperpanjang setelah tanggal itu kan kena denda. Ternyata oleh petugas diijinkan untuk itu. [Thanks ya.] Di dompet ada duit Rp 300,000, seharusnya cukup untuk biayanya.

Setelah KTP dan kedua SIM tsb. difotocopy oleh petugas [biaya fotocopy untuk 3 lembar Rp 3,000], langsung diminta untuk mengisi formulir permohonan perpanjangan SIM. Sayangnya, saya nggak bawa ballpoint jadinya untuk mengisi formulirnya harus menunggu orang yang bisa meminjamkan ballpoint-nya. Inilah masalah yang bikin agak lama. Saat mengisi pun juga memerlukan waktu agak lama, karena harus mengisi 2 formulir [SIM A & C]. Akhirnya, pk. 09.10 formulir tsb. berhasil saya serahkan ke petugas. Tibalah ke tahap menunggu panggilan untuk difoto [nggak disediakan kursi jadi ya pada berdiri ‘berceceran’ di sekitar bus tsb].

Pk. 09.20, dipanggil naik ke atas bus untuk photo session, sekaligus dicek ulang data yang akan tertera di SIM kita [Nama, Tgl. Lahir, Alamat]. Petugasnya pun ramah dalam melayani para pemohon SIM. Berbeda jauh dengan pengalaman saya ‘ngurus’ perpanjangan SIM di SAMSAT Jl. Daan Mogot 5 tahun yang lalu, di mana petugasnya cuma ramah sama duit kita [waktu itu kan lewat Biro Jasa].

Selesai foto diminta untuk membayar Rp 170,000 untuk SIM A & C tsb. [jadi @ Rp 85,000]. Surprise banget! Sungguh di luar expectation saya sebelumnya. [perkiraan saya paling murah Rp 200,000 untuk 2 SIM tsb]. Bayangin pula kalau mesti ‘ngurus’ lewat biro jasa atau calo yang budgetnya sekitar Rp 500,000.

Sambil ngobrol, petugas tsb. juga menginformasikan bahwa mulai awal April 2008 ini layanan SAMSAT akan buka kantor di PGC ini, dan beberapa mal lainnya [salah satunya Mal Taman Anggrek dll.]. Jam bukanya juga seiiring dengan bukanya Mal tsb. Jadi konsepnya, sambil belanja kita bisa memperpanjang SIM & STNK. Sabtu Minggu juga buka. Jadi nggak ada lagi alasan untuk kita nggak ada waktu untuk memperpanjang SIM or STNK. Hebat ya… terobosan yang dilakukan POLRI.

Pk. 09.25, kedua SIM baru saya diserahkan. Saya hitung, waktu yang diperlukan juga lumayan singkat [lebih lama ngisi formulirnya dibanding bikin SIM nya]. Pk. 09.30 saya sudah keluar dari areal parkiran PGC. Jadi dari saya tiba di PGC hingga pergi meninggalkan PGC hanya membutuhkan waktu 45 menit saja. Betul-betul puas saya dibuatnya. Baru kali ini saya merasakan berurusan sendiri dengan birokrasi begitu lancar & efisien dari segi waktu. Kalau semua instansi pemerintah yang terkait dengan layanan public bisa seperti ini semua, saya yakin negeri ini akan melangkah lebih maju. Salut juga ane ama reformasi POLRI.

Setelah mengalami sendiri bagaimana mudahnya ‘urusan’ memperpanjang SIM ini, saya anjurkan kepada siapa saja agar memanfaatkan layanan perpanjangan SIM & STNK melalui Bus Keliling ini. Dijamin kesan ribet & repot yang selama ini melekat jika kita bicara ‘urusan’ dengan SAMSAT, akan langsung sirna saat itu juga. Coba & buktikan.

Informasi tambahan bagi yang mau memanfaatkan layanan ini:

-Pagi pk. 08.00, cari tahu keberadaan Bus SIM Keliling dengan SMS 1717

-Bus SIM Keliling DKI hanya melayani perpanjangan SIM ‘keluaran’ Polda Metro Jaya

-SIM yang kadaluarsa lebih dari 1 tahun juga tidak bisa dilayani

-Bawa KTP & SIM aslinya

-Berpakaian yang sopan & layak untuk difoto

-Siapkan uang pas [seringnya nggak ada kembalian]

-Siapkan payung [kalau pas musim hujan], karena tidak ada tempat berteduh

-Siapin juga air minum biar nggak kehausan bila menunggu saat teriknya matahari

-Sebaiknya datang lebih pagi [pk 8.00] , karena makin siang makin berjubel antriannya


Masukan untuk Bus SIM Keliling

-Meja & kursi untuk mengisi formulir isian sebaiknya diperbanyak

-Sistim antriannya, meski sudah lumayan baik, kalau bisa menggunakan Ticketing System seperti di Bank. Kalau antriannya membludag ‘takutnya’ jadi kacau

-Perlu disediakan papan informasi tentang ‘aturan main’ dan penjelasan apa saja yang bisa dilayani & tidak bisa dilayani [banyak yang ditolak padahal sudah ‘ngantre’]


Peluang usaha :

-Jualan minuman/snack dll. [juga ballpoint] kerja sama dengan bus SIM Keliling ini

-Menyewakan kursi lipat juga oke lho…

-Bisa untuk ajang sampling product bagi yang punya tim SPG

-Bisa beriklan melalui X-banner, spanduk, tenda ruang tunggu

Monday, March 24, 2008

Perang tanding tarif ponsel, siapa sih yang untung?

Kalau kita amati, sebagai pengguna ponsel, akhir-akhir ini ada fenomena menarik tentang perang tarif yang sedang gencar dilakukan oleh beberapa provider. Iklan pun juga menjadi ajang ‘perang tanding’ ini. Lihat saja iklan yang ditayang di beberapa TV swasta nasional. Iklan XL yang ‘kawin dengan monyet’ menjanjikan tarif 0,1 per detik, belum lama tayang sudah dibalas dengan iklan IM3-nya Indosat versi ‘pantai’, yang menjanjikan 0,0001 per detik. Lucu banget. Kayak anak kecil aja, ‘dicubit’ eh cepet-cepet mbales ‘nyubit’. Hehehehe…

Seandainya tarif baru yang diberlakukan oleh para operator itu benar adanya, berarti kan selama ini konsumen dibohongi [dikenai tarif mahal], buktinya kok sekarang mereka berani pasang tarif yang jauh lebih murah daripada yang berlaku sebelumnya??? Sama dengan, selama ini para provider tsb. sudah menikmati untung ‘gede’.

Kali ini, saya nggak mau membahas apakah tarif-tarif tsb. bener atau tidak [karena saya nggak pakai XL maupun IM3], tapi lebih kepingin menyoroti siapa-siapa saja yang sebenarnya diuntungkan dengan adanya ‘perang tariff’ ini.

  1. Paling untung ya pastinya si pemilik bisnis tsb. Semakin ‘menjanjikan’ tarif murah akan semakin banyak jumlah pelanggan yang bakalan masuk ke jaringan mereka. Dan tentunya akan lebih banyak lagi fulus masyarakat yang bakal ‘disedot’.
  2. Stasiun TV dan media iklan lainnya, yang jelas bakalan gembira karena bisa memperoleh gelontoran ‘jor-joran’nya budget iklan yang tentunya untuk perang iklan ini spending-nya ‘gede’ juga.
  3. Advertising agency yang meng-handle Client yang lagi asyik ‘perang iklan’ tsb. As a marketing & communication consultant sudah pasti banyak pula meraup untung. Jaman gini ada yang jor-joran iklan, asiik buaaanget!
  4. Public Relation Consultant-nya juga pasti ikutan dibayar untuk membangun image yang diinginkan.
  5. Production House, Director Film [sutradara iklannya], dan jajaran tim produksi iklannya. Bayangin aja, nggak sampai sebulan sudah bikin iklan dua kali. Bayangkan, Budget produksi iklan TV paling murah saat ini sekitar 500 jt-an.
  6. Para penjual product para provider tsb. [mulai dari grosir, agen, sub agen, outlet, dst.], karena semakin gencar diiklankan akan semakin banyak yang kepingin membelinya. Pastinya kan ada untungnya.
  7. Para konsumen atau end user-nya. Kalau memang tariff murah ini benar adanya, jelas masyarakat akan menikmati. Bisa bertelepon-ria sepuasnya dengan tarif yang ‘miring’.


Hanya saja, untuk masyarakat konsumen, kok feeling saya meragukan akan ‘tarif murah’ yang dijanjikan tsb. Pengalaman selama ini, kalau ada fihak yang dirugikan adalah selalu konsumen. Merekalah sebenarnya yang akhirnya ‘membiayai’ semua budget yang telah dikeluarkan untuk ‘perang tanding’ iklan tsb. Ingat, mana ada di dunia ini orang bisa menikmati ‘kenyamanan’ tanpa dipungut bayaran??? Yang namanya promosi, iklan & sejenisnya, kan selalu pada akhirnya dibebankan ke konsumen atau end user. Ini kan pinter-pinternya mereka mengemas dengan trick-trick promosi yang canggih. Betul nggak?

Pertanyaannya, apa saja syarat & ketentuan yang berlaku untuk tarif Rp 0,0001 /detik tsb? Kan tidak pernah dijelaskan secara ‘gamblang’ saat penayangan iklan tsb. Alasannya, tidak tersedianya ruang & waktu [lagu lama ah..] Padahal informasi ini jelas penting.

Yang saya juga heran, kok sepertinya ‘perang iklan’ tsb. bermuara ke ‘perang kreativitas kata-kata’ yang ‘takutnya’ berujung kepada pembohongan & pembodohan masyarakat konsumen Indonesia.

Dalam menyikapi fenomena ini jelas sikap kritis kita diuji. Jangan mau menjadi korban iklan. Dan jangan mudah terjebak dengan bujuk rayu ‘perang iklan’ tsb. Kalau dulu usai penayangan iklan di TVRI [Siaran Niaga] selalu diperingatkan kepada para pemirsa agar ‘teliti sebelum membeli’, alangkah baiknya sekarang dalam menyikapi tawaran tarif murah tsb., konsumen juga dapat memahami sejelas-jelasnya mekanisme & cara kerja sejatinya tariff murah tsb. Tentunya, agar dapat memanfaatkan secara ‘cerdas’ tarif murah tsb.

Saat ini sebenarnya apa sih yang diharapkan konsumen di Indonesia? Apakah benar tarif murah atau Bonus? Atau lebih jauh lagi, misal pelayanan yg baik? Karena biasanya kalau pelanggannya sudah ‘membludak’, urusan pelayanan ke konsumen menjadi amburadul. Nah loh…

Mudah-mudahan temen-temen semua berada di pihak yang diuntungkan.

Wednesday, March 05, 2008

Serba-serbi www

Jujur saja, meskipun setiap hari bergaul dengan internet ternyata saya merasa tetap saja ‘ada jarak’ dengan teknologi yang satu ini. Persis seperti gambaran dari Karl Marx [filsuf] saat bertutur tentang alienasi [keterasingan] manusia dengan teknologi ciptaannya. Semakin kita kepingin tahu lebih jauh terkait dengan kemajuan sebuah teknologi, semakin terasa jauh jarak kita dengan teknologi itu sendiri. Akhirnya, daripada ribet ya lebih baik jadi manusia ‘sok tahu’ aja. Beres???

Begitulah, suatu kali saat lagi ‘browsing’ di internet pakai pc di rumah, anak saya iseng nanya tentang singkatan apa sih www itu? Wuah, pertanyaannya sih mudah. Tapi nyari jawabannya yang ternyata nggak mudah [meskipun setiap kali kita buka situs atau web selalu memulai dengan singkatan www tsb]. Karena lagi asyik browsing dan bukan untuk tugas sekolahannya jadinya ya males nyari ke mbah google. Dengan ‘sok tahu’ saya jawab : “welcome wonderful world, mas!”. Asumsi saya, internet tuh kan banyak memberikan kemudahan untuk menjelajahi keindahan dunia maya. Makanya kayaknya yang pas ya itu ‘welcome wonderful world’.

“Ngaco ah bapak… kalau cuma asal ‘dipas-pasin’, adik juga tahu… malahan kepanjangannya dalam bahasa Indonesia lagi, ‘wahana wira wiri’. Kan internet tempat atau sarana kita mondar-mandir nyari segala macem data dan pengetahuan,. Atau bisa juga ‘widya wisata wacana’, kan kunjungan [browsing] untuk mencari berbagai pengetahuan dan wacana baru”, protesnya.

“Terserahlah! Yang penting nyambung…hehehe ” jawab saya.

Kakaknya [yang lagi asyik ber-friendster-ria pakai laptop di samping saya] nggak mau kalah akhirnya ikut nimbrung. “Kayaknya sih kepanjangannya ‘we win world’, kan dengan internet kita bisa menguasai dunia. Atau mungkin ‘walk world wide’, karena kita bisa berjalan-jalan & menjelajah ke seluruh dunia via internet!”.

“Wuah, urusan sepele jadi serius juga nich…” celetuk saya sambil melirik ke ibunya anak-anak. Karena selama ini istri saya adalah orang yang paling nggak urusan sama internet. Tapi dia adalah ‘polisi’ bagi anak-anak saya, kalau mereka sedang browsing. Maklum istri saya selalu merasa bahwa kalau anak-anak ‘diumbar’ buka internet, takutnya browsing ke situs-situs yang ‘nggak bener’. Lha terus nanti ‘kebablasan’ dan merasa ‘dewasa’ sebelum waktunya. Padahal mereka kan masih perlu didampingi.

Memang selama ini, anak-anak memanfaatkan sambungan internet hanya sebatas buka email, baca berita olah raga online [sepak bola], mencari data atau referensi bila ada PR, chatting via YM sama temen kalau pas mengerjakan tugas, download musik lengkap dengan lyric dan chord nya. Kalau yang agak ‘pemborosan’ paling ya friendster.

Setelah berpikir sejenak istri saya ikutan komentar. “Kalau buat mama, www itu singkatan ‘waktunya was was’. Soalnya, anak-anak kalau sudah di depan computer dan buka internet jadi lupa waktu, dan lupa sholat. Asyiik sendiri, apa saja sich yang dikerjain kalau lagi internetan??. Jadi mama nggak setuju kalau anak-anak berlama-lama on line tapi bukan untuk ngerjain tugas sekolah”. Begitulah. Saat ada kesempatan untuk ‘curhat’ dan memberi nasehat, langsung saja istri saya nyerocos.

Kalau diterusin bakalan jadi lebih ngelantur lagi, akhirnya saya bilang ke istri dan anak-anak,”kapan-kapan kita cari kepanjangan sebenarnya dari www ini, oke??” Wong nggak tahu kepanjangannya aja kita sudah bisa menjelajah dunia maya dengan tanpa batas, ngapain juga menghabiskan waktu ngurusin apa kepanjangan sebenarnya www itu. Hehehe… Sok tahu banget ya…

Terlepas dari singkatan apa sebenernya www itu, kenyataannya pertumbuhan ‘dunia on line’ saat ini di Indonesia dan dunia memang pesat. Internet memang terbukti mampu menciptakan gaya hidup baru bagi penggunanya [browsing, chatting, ngeblog, ngefriendster, bikin komunitas, bikin milis, dsb.]. Dan sebagai pengguna akhir [end user], yang namanya internet memang memberi kemudahan tiada tara. Pastinya kita semua setuju dong. Makanya, buat saya pribadi www cocoknya adalah singkatan dari ‘wild wild world’ atau dunia yang ‘liar banget gitu lho’.

So selamat berselancar memanfaatkan atau sekalian menaklukkan wild wild world, dunia liar yang menyediakan berjuta kemudahan ‘apa aja’ termasuk ‘peluang’ hari ini dan nanti.

Sunday, January 06, 2008

Komputernya yang salah...

Tanggal 5 Januari 2008 kemarin, saya & istri diundang SMAN 81. Ceritanya meskipun liburan sekolah, pembagian raport Adhika, putri pertama kami yang di kelas X, tetap dilaksanakan oleh fihak sekolah.

Setelah berkumpul di kelas, kami para orang tua diberi penjelasan bahwa sistem rapotan beberapa sekolah unggulan di DKI Jakarta sekarang sudah menggunakan komputerisasi dan on-line melalui server di kantor Depdiknas, jadi prosesnya agak lama dan ribet [belum-belum sudah excuse duluan nich]. Penjelasan pun dilanjutkan bahwa kalau nantinya ada data nilai yang belum sesuai dengan nilai hasil ulangan para siswa harus segera dilaporkan dan dikoreksi.

Akhirnya, rapot pun dibagikan. Setelah para orang tua & wali siswa melihatnya, muncullah banyak pertanyaan. Karena banyak di bagian penilaian kompetensi, siswa yang nilainya bagus, diberi penjelasan pencapaiannya belum tuntas? Nah lho… Guru wali kelas pun akhirnya berusaha untuk memberi jawaban secara diplomatis : “Maaf pak ini komputernya yang salah! Kalau komputernya ada di sekolah ini saja, saya jamin nggak bakal ada kesalahan. Kami fihak sekolah dapat olahan data dari Kanwil Depdiknas pak.”

Saya juga sempat berargumentasi “kalau belum siap kenapa rapot harus dipaksakan untuk dibagikan saat ini”. Ini kan namanya, mereka yang kerjanya nggak bener, ngisi data nilainya asal-asalan dan kita yang disuruh mengkoreksinya. Kesimpulan saya yang juga tiap hari pakai computer, si para operator computer ini cuma main copy & paste saja. Karena saat kita mencocokkan nilai, isi penjelasannya sama semua. Yang nilainya bagus sama yang kurang bagus penjelasannya sama. Gila banget ya…Padahal mereka digaji di bagian komputerisasi ya harus kerja yang teliti dan benar serta akurat. Karena menyangkut nilai hasil ulangan. Gimana nich?

Jadi inilah tipikal para pegawai di republic tercinta saat ini. Kerja asal-asalan. Maunya cepat selesai dan dapet duit [kalau ini diproyekin]. Kalau ada trouble selalu mencoba mencari ‘kambing hitam’. Saya pribadi jadi kasihan sama yang namanya computer, selalu dijadikan kambing hitam & bulan-bulanan kesalahan. Padahal computer kan hanya alat bantu yang tugasnya untuk mempermudah hidup & kerja manusia. Kenapa nggak pernah menyalahkan kerja si manusianya yang berada di belakang computer yang memang kerjanya amburadul dan cuma UUD [ujung-ujungnya duit gitu lho…]. Wuah ‘curhatnya’ jadi kepanjangan. Maaf bagi temen-temen yang nggak berkenan.

18 tahun perkawinanku



30 Desember 1989, adalah salah satu hari paling bersejarah buat saya & istri. Kenapa? Karena pada hari tersebut, kami berdua mengucap janji atau ikrar untuk hidup bersama yang disahkan melalui upacara akhad nikah by pak penghulu & disaksikan oleh keluarga saya & istri. Jadi kalau dihitung, nggak terasa perjalanan bahtera rumah tangga kami sudah selama 18 tahun.

Tidak seperti biasanya, yang setiap kali tanggal 30 Desember, istri saya selalu menyiapkan nasi kuning dkk. untuk perayaan sederhana bersama anggota keluarga. Kali ini, saya, istri & 2 anak kami sepakat untuk merayakannya dengan makan bersama di luar. Di salah satu kafe yang ada di CITOS [cilandak town square], kami berempat lunch bersama sambil ngobrol-ngobrol kilas balik perjalanan hidup kami sekeluarga. Kedua anak saya juga banyak memberikan masukan bagi kehidupan keluarga kami selanjutnya. Begitulah perayaan ultah perkawinan kami yang ke-18, kami coba rayakan secara sederhana tapi berkualitas.

Di hari yang bersejarah ini, kami berdua juga mencoba untuk merenung dan mengkilas balik perjalanan hidup keluarga kami. Tentunya dengan tujuan agar dapat mengetahui sebenarnya selama ini apa saja sih kekurangan kami dalam berumah tangga.

Yang juga cukup membuat surprise, nggak terasa ternyata anak-anak sekarang sudah beranjak dewasa. Kalau bahasa gaulnya ABG [anak baru gede]. Jadi rencananya kami harus mulai focus & serius untuk mendampingi mereka di masa ABG-nya ini. Tentuya sesuai dengan plan jangka panjang untuk mendidik mereka agar bisa menjadi anak-anak yang soleh & solehah serta memiliki masa depan yang lebih baik. Untuk itu, sesuai teori psikologi popular, kami harus bisa dekat selalu dengan mereka, banyak waktu bersama mereka, salingterbuka, banyak sharing, banyak waktu untuk gaul & interaksi dengan mereka, mampu menjadi orang tua sekaligus juga menjadi ‘teman’. Mudah-mudahan bisa terlaksana. Mengingat hidup di kota metropolitan dan di jaman gini, kalau lengah sedikit bisa gawat. Sudah banyak contohnya, bagaimana para ABG yang akhirnya terperosok ke dalam pergaulan yang ‘gak bener’.

Kami berdua juga akan banyak memperdalam keimanan kami, dan berusaha untuk bisa menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan Islam. Berusaha untuk bisa beramal, bersedaqoh, berinfaq, berzakat, dan membantu kaum dhluafa termasuk anak yatim/piatu dan juga yatim piatu lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini berencana untuk bisa menabung di tabungan khusus untuk menunaikan ibadah haji. Kalau sudah siap ya mendaftarkan diri untuk berangkat ke tanah suci. Insya Allah, semoga segalanya lancar. Amin.

Terakhir, yang penting juga, kami juga sadar ternyata ‘sudah umuran’ alias sudah beranjak tua, dan nggak tahu sampai kapan masih diberi hidup, makanya di dalam sisa umur yang masih ada ini kepinginnya hidup kami dapat bermanfaat untuk kehidupan orang banyak baik masyarakat di sekitar tempat tinggal kami dan juga masyarakat luas. Semoga. Amin.

Monday, December 17, 2007

Sepenggal cerita seputar Idul Adha

Tak terasa Hari Raya Idul Adha datang menjelang. Di mana kita sebagai umat Islam yang mampu secara ekonomi diwajibkan untuk ber-qurban.

By the way, ngomong-ngomong soal qurban, sejak tinggal di komplek saya [14 tahun] saya selalu sedih melihat daging qurban yang akhirnya menumpuk dan hingga sore belum tersalurkan kepada yang berhak. Tatkala saya tanyakan kepada panitia, katanya semua para penerima daging qurban yang ada di sekitar komplek sudah menerima semua. Yang sisa ini konon hendak disalurkan ke tempat lain, tetapi menunggu kordinasi dari pak ustadzs.

Pernah saya berkeliling ke komplek perumahan sebelah, dan juga yang ada di sekitar, hal serupa juga terjadi. Wuah, gimana nich? Rupanya, kalau di daerah Jabodetabek, ‘keberlimpahan’ seperti ini, bisa-bisa memang sering terjadi. Pernah di tahun berikutnya, saya usul ke panitia qurban agar, pemotongan hewan qurban tsb. dilakukan dalam beberapa hari kemudian. Niatnya, agar distribusinya bisa sampai kepada mereka yang berhak entah di mana. Mereka menjawab prakteknya akan sulit dilakukan karena tukang potongnya juga sulit untuk didatangkan lagi, transportasinya, dan ibu-ibu yang membantu membagi daging qurban juga maunya kerja seharian dan selesai. Atau kita serahkan saja ke panitia qurban nasional yang jangkauan distribusinya se-Indonesia. Jawab mereka, banyak dari pemilik hewan qurban yang tidak menyetujuinya. Ya wis lah!

Bukannya mau ngomongin masalah ikhlas nggak ikhlas berqurban, tapi saya lebih menyoroti masalah pendistribusian daging qurban tsb, yang menurut pengamatan saya kok nampak tidak ‘nyampe’ kepada yang berhak. Padahal di banyak desa di pelosok sana, seperti di Blitar Selatan, Trenggalek, atau entah di mana lagi, banyak kaum papa yang tak tersentuh dengan pembagian daging qurban di Hari Idul Adha ini. Sampai saat ini pun saya selalu masih terusik, dan memikirkan bagaimana agar mereka-mereka yang tinggal jauh di pelosok sana dapat ikut menikmati qurban.

Pernah di tahun 2002 lalu, karena kepingin qurban tsb. bisa ‘nyampe’ ke pelosok desa, saya beli sepasang kambing di Blitar dan saya titipkan ke mas Yanto, yg suaminya PRT almarhum mertua saya. Sistemnya adalah ‘maron’ atau bagi hasil, jadi setiap ada anak yang berjumlah genap kita bagi dua, kalau cuma satu ya buat dia. Nantinya, setiap tahun [Idul Adha] mas Yanto harus antar kambing jantan yang menjadi hak saya untuk dijadikan qurban di desa pelosok di Blitar sana. Jadi saya nggak perlu repot membeli kambing setiap datangnya Idul Adha.

Tapi ternyata matematika ternak kambing ini [yang harusnya sudah beranak pinak] nggak berjalan seperti yang diharapkan. Hingga Lebaran kemarin, saya ‘ngontrol’, jumlah kambingnya kok cuna ada tiga ekor, sepasang indukan dan anaknya satu ekor [yg jadi hak mas Yanto]. Berbagai alasan disampaikan oleh mas Yanto ini, katanya pernah beranak 4 tapi kena serangan penyakit dan mati semua, terus pernah beranak lagi 3, pas baru usia 2 minggu juga mati. Yang sekarang ini, tadinya beranak 4 tapi yang 3 ekor juga mati, jadi hanya bersisa satu ekor. Lho kok?

Saya pun hanya bisa menerima penjelasan tsb. apa adanya, namun dengan bertanya-tanya dalam hati. Tapi daripada menduga-duga yang nantinya malah berujung ke buruk sangka atau su-udzon, lebih baik saya ambil hikmahnya saja, dan tetap be positive thinking. Barangkali Allah SWT memang belum mengijinkan rencana & niat baik saya untuk ber-qurban di desa pelosok sana. Atau memang Allah SWT menghendaki saya ber-qurban hanya di seputaran Jabodetabek saja [yg dekat dengan tempat tinggal saya]. Karena bisa jadi memang masih banyak yang belum mendapatkan jatah qurban. Akhirnya, saya putuskan untuk tetap ber-qurban [‘patungan’ bertujuh beli Sapi] dan mempercayakannya ke pengurus musholla yang ada di komplek tempat tinggal saya.

So, sambil tetap niat sepenuh hati untuk menjalankan ibadah secara pasrah & ikhlas. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar…

Saya bersama seluruh keluarga besar mengucapkan Selamat Idul Adha. Semoga amal & ibadah kita semua diterima Allah SWT, dan juga mendapat ridho-Nya. Amin.

Saturday, December 15, 2007

Waktuku


Waktu, hari ini baru kusadari bahwa ternyata yang namanya waktu betul-betul begitu cepat berlalu. Rasanya [perasaan saya] baru saja memasuki tahun baru 2007, bulannya Januari, nggak terasa sudah berganti April, terus Agustus. Eh, masuk September [Ramadhan] terus nyambung Oktober [Idul Fitri], eh saat ini sudah masuk ke bulan Desember 2007 [Idul Adha]. Tidak lama lagi 2007 ketinggalan waktu. Dan kita sambut 2008.

Waktu pula yang menjadikan saya bertambah usia. Meski terasa dalam diri, kok kayaknya usia berapa saja rasanya sama [nggak ada perubahan gitu], seperti waktu masih muda ya? Padahal tak tahu kita berapa usia yang masih bersisa yang menjadi milik kita, karena waktu untuk kita adalah rahasia Allah semata. Lalu haruskah menyia-nyiakan sisa waktu yang ada. Logikanya, sudah seharusnya kita memanfaatkan waktu yang ada untuk segala aktivitas yang bermanfaat baik untuk diri kita dan juga orang lain [kemaslahalatan umat].

Waktulah yang mendadak membuat tercenung dan memaksaku merenung. Mengkilas balik, apa saja yang telah kuperbuat di waktu-waktu yang lalu. Terlintaslah semuanya di depan mata, segala aktivitas di tahun-tahun yang telah berlalu.. Dan waktu tiba-tiba membuka mata bahwa begitu mudahnya saya menyia-nyiakan waktu yang ada. Terbukti dengan begitu banyak rencana [action plan] yang tak terlaksana. Lagi-lagi ada rasa sesal kenapa begitu sering menunda dan menunda. Yang tersisa, deretan pertanyaan untuk diri pribadi. Kenapa begitu sedikit rencana yang telah ditata dapat terlaksana? Apa saja ya rencana yang tertunda? Kenapa ditunda kalau itu sudah masuk di dalam rencana? Berarti waktu yang ada nggak mencukupi? Nggak punya waktu? [Orang bijak bilang, yang merasa nggak punya waktu, berarti termasuk golongan yang tidak dapat mengatur & memanfaatkan waktu].

Waktu yang dimiliki semua orang jumlahnya sama. 24 jam sehari. Tapi dalam hal memanfaatkan waktu, ternyata masing-masing dari kita bisa berbeda caranya. Sehingga berbeda pula hasilnya. Ada yang selama kurun waktu tahun 2007 ini berhasil mencapai goal-goal yang spektakuler dari target yang telah dicanangkan. Tapi banyak juga yang merasa seperti masih jalan di tempat, meskipun waktu telah berlalu begitu cepat. Dan begitu mudahnya waktu disalahkan sebagai kambing hitam, “waktunya cepet banget berlalu”, “aku nggak punya waktu”, “waktunya mepet sich”, “nggak ada waktu lagi…”, “coba kalau masih ada waktu, pasti beres!”, “waktunya kurang tepat sich”, dan masih banyak lagi. Kenapa nggak kita coba untuk mencari kesalahan itu dari dalam diri kita sendiri yang memang kurang pintar me-manage waktu? Lalu berusaha untuk memperbaikinya di waktu-waktu yang akan datang.

Waktunya tiba pula bagi kita semua untuk bersyukur. Begitu banyak sebenarnya yang telah kita nikmati selama perjalanan hidup ini, Bersyukur pula atas segala hal yang telah berhasil diraih selama ini bersama sang waktu. Prestasi apapun yang telah dicapai setidaknya menjadikan kita lebih arif dalam hal memaknainya. Setidaknya seiring berjalannya sang waktu, sekecil apapun, pasti ada hal-hal yang telah kita perbuat yang bermanfaat untuk kemajuan diri kita pribadi khususnya, dan masyarakat umumnya.

Waktu juga begitu penting bagi mereka yang menamakan diri sebagai calon pengusaha. Karena biasanya, untuk memulai take action buka usaha, waktu yang tepat juga menjadi moment penting. Tatkala bertanya kapan harus mulai take action, jawabannya pun sudah pasti nggak ada waktu yang tepat selain ‘sekarang juga’. Konon, berdasarkan pengalaman, kalau tidak segera memulai usaha ‘sekarang juga’, sampai kapanpun nggak bakalan pernah ‘take action’. Akhirnya saat waktu telah berlalu, barulah muncul kesadaran di kemudian waktu, kenapa ya kok nggak memulai pada waktu itu? Bagi yang telah menjadi pengusaha, waktu juga menjadi penting tatkala hendak memanfaatkan berbagai peluang yang ada. Jangan sampai gara-gara tidak mampu mengatur waktu, peluang usaha yang hadir di depan mata, berlalu begitu saja bersama waktu.

Waktu yang tepat, bagi yang belum memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, segeralah membuat rencana. Seperti apakah tujuan hidup masa depan yang Anda impikan? Jangan sampai untuk diri kita sendiri, kita lalai membuat perencanaan 1 tahun ke depan, 5 tahun ke depan dan juga 10 tahun dari sekarang. Mau diarahkan kemanakah jalan hidup kita? Berusahalah untuk memaksimalkan waktu yang ada dengan seksama mewujudkan segala rencana hidup Anda.. Karena seiring bertambahnya usia, kalau tetap bercita-cita mulia untuk menjadi pengusaha, tetapi belum juga take action dan punya usaha, Anda akan semakin berpacu dengan waktu. Sadarilah yang namanya waktu tidak pernah bisa diulang kembali.

Waktu, kok rasanya nggak ada habisnya ya kalau kita bahas lebih jauh lagi. Lha nanti waktunya habis hanya untuk bikin tulisan ini. Padahal kan sudah berkomitmen untuk memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Daripada kehilangan waktu untuk aktifitas yang lain, lebih baik saya sudahi dulu diskusi tentang waktu ini. Takut ah... kan detik demi detik, waktu selalu berlalu…dan berlalu…