Saturday, February 19, 2011

Aksi nekat berbuah nikmat

Yang ini cerita tentang ribetnya kalau bepergian secara mendadak. Jumat, 11 Februari 2011 lalu, bakda sholat Jumat tiba-tiba kepingin ke Surabaya. Pertama, rencananya bezoek adikku Yudie Sayidno yang sejak 28 Januari 2011 lalu hingga kini masih dirawat di RS Hutama Husada Surabaya guna menjalani operasi yang ke-5 berkaitan dengan penyakit kanker colon-nya. Kedua, Minggu 13 Februari 2011 mau ikutan ngumpul bareng sama temen-temen Alumni PG Soedhono di Madiun.

Ternyata waktu minta tolong sekretaris kantor untuk dicarikan tiket apa aja yang ke Surabaya, hasilnya nihil. Semua penerbangan ke Surabaya habis terjual. Tiket semua KA ke Surabaya juga nggak ada lagi. Ludesnya tiket gara-gara ada hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh hari Selasa, sehingga hari Senin adalah hari kejepit jadi banyak orang yang bepergian ke luar kota. Yach, baru sadar kalau ketemu liburan week end yang panjang. Wuah gimana ya. Berangkat nggak ya? Daripada kebanyakan pertimbangan dan nggak action mendingan nekat aja ‘go show’. Dalam hati kepikir, di Thailand aja bisa jalan’menggelandang’ ke mana-mana, masak di negeri sendiri ke Surabaya aja nggak bisa.

Akhirnya, sorenya langsung aja ke stasiun Gambir. Dan ternyata benar adanya, semua tiket habis. Konyolnya, KA eksekutif sekarang tidak menjual tiket tanpa tempat duduk. Wuah bener-bener ribet. Sambil nongkrong di salah satu cafĂ© yang ada di Gambir, mulailah otak kiri kepakai untuk mencari ide yang ‘out of the box’ gimana caranya bisa ke Surabaya. Pertama, nyoba cari orang yang nggak jadi berangkat yang mau jual tiketnya. Tapi kayaknya beresiko tinggi karena kalau nggak ada bisa batal berangkat. Kedua, nyoba nyari preman atau calo, siapa tahu bisa memberi solusi. Tapi ide yang ini juga agak susah dijalanin, mengingat manajemen PT KA sekarang lagi getol memberantas percaloan tiket dengan menyebar intelnya di mana-mana. Ketiga, ya nekat naik aja tanpa punya tiket nanti urusannya selesaikan nanti. Pas dipikirin sebentar, sepertinya pilihan ini yang paling oke.

Kalau niatnya baik, ternyata segalanya dipermudah oleh Allah SWT. Selesai sholat maghrib berjamaah di musholla Gambir waktu duduk-duduk sebentar, tiba-tiba feelingku kok kepingin menyapa salah seorang porter atau kuli angkut barang stasiun Gambir. Mulailah keluar jurus andalan ‘sok akrab’,” Hai boss, apa khabar? Gimana rame ya penumpang?” Dari hasil obrolan itulah akhirnya, aku minta tolong barangkali ada penumpang yang batal pergi lalu menjual tiketnya. Dia pun langsung dengan gesit nanya2 ke ‘gengnya’. Tidak sampai 5 menit, dia datang lagi dengan bawa satu tiket KA Sembrani ke Surabaya, yang langsung aku bayar dengan member uang lebih untuk jasanya . Alhamdulillah. Ternyata, nggak perlu pakai pilihan terakhir tadi untuk ‘nembak’ atau bayar di atas KA. Tepat pk. 20.00 berangkatlah si Sembrani ini menuju Surabaya.

KA Sembrani masuk stasiun Pasar Turi Surabaya tepat pk. 8.00 pagi [telat 1,5 jam, karena di tiket tertulis pk. 6.30]. Langsung aku telpon HP pak Ayub [mantan preman Madura, kenalanku beberapa tahun lalu yang kini ngojek], dia pun dengan senang hati mengantarku ke rumah Yudie di daerah Gubeng Kertajaya. Surprise… Yola [istrinya Yudie] dan ketiga anaknya terkaget-kaget, nggak nyangka bakalan ada tamu. Habis mandi dan sarapan soto Suroboyoan, pk. 9.00 langsung ke RS Hutama Husada bareng Yola dan Tika [putri sulungnya yg kuliah di ITS]. Sesampainya di RS, Yudie Sayidno pun kaget bercampursenang. Maklum, Lebaran kemarin waktu keluarga Sayidno ngumpul di Solo Yudie juga pas dirawat di RS, hanya 3 anaknya yang ngumpul.

Kondisi Yudie masih nampak kurus & lemah dengan selang infuse di tangan kanannya, maklum pasca operasi. Dia tunjukkan jahitan di perutnya hasil operasi terakhir, sekaligus 3 selang & kantong saluran pembuangan yang ada di perutnya. Satu untuk feces, satu untuk urine, satu lagi yang dari ginjal. Di sini aku betul-betul kagum dengan kekuatan, ketabahannya dan keikhlasannya dalam menghadapi cobaan penyakit dari Allah SWT tsb. Seandainya itu aku, rasanya mungkin tak akan sanggup menanggungnya. Salut juga buat Yolanda yang selalu setia mendampingi dan merawat adikku Yudie. Aku hanya bisa menghibur mereka berdua bahwasanya Allah SWT itu menciptakan penyakit pasti ada obatnya, jadi jangan pantang menyerah. Kita semua akan selalu mendoakan agar penyakit yang dideritanya segera disembuhkan oleh Allah SWT, Amin.

Hampir 3 jam aku menemani adikku di RS. Semoga kehadiranku di sisimu bisa menjadi ‘obat’ untuk sakitmu. Siangnya Yola membawakan aku rujak petis yang paling enak se Surabaya. Wow dahsyat nikmatnya. Karena selama ini di Jakarta nggak pernah nemu rujak petis yang senikmat ini. Kira-kira pk. 13.00, masku Wowok dating bezoek, nggak lama kemudian disusul oleh Handaru yang sebelumnya memang ngobrol denganku via HP. Kita berempat pun ngobrol ngalor ngidul sampai puas.

Akhirnya, sekitar pk. 14.00 aku bertiga pamitan sama Yudie & Yola karena mau berangkat ke Madiun menghadiri undangan Oscar Louhenapessy yang menikahkan anaknya di hari itu juga, sekalian besok kita mau berombongan menghadiri acara ngumpul bareng Alumni PG Soedhono. Berat rasanya untuk berpamitan dengan Yudie & Yola, tapi ‘manajemen’ waktu lah yang mengharuskan kita berpisah.

Sepulang dari RS Hutama Husada, aku dan Handaru langsung ke rumah makan bu Rudy untuk beli titipan istriku yang kalau ke Surabaya sama Yola selalu mampir ke situ. Terus langsung ngumpul dulu di rumah Mas Wowok, barulah nanti ke stasiun Gubeng mau naik KA Sancaka [Surabaya-Yogyakarta].

Sesampainya di stasiun Gubeng, ternyata tiket Sancaka juga sudah ludes, dan saat ini PT KAI tidak menjual tiket berdiri. Yaach… ‘hukum week end panjang’ ternyata juga terjadi di Surabaya, banyak orang bepergian. Akhirnya, mas Wowok ambil keputusan untuk langsung naik tanpa punya tiket. Bukannya nggak mau beli tiket lho… tapi emang nggak ada yang dibeli, hehehe. Karena kita harus berangkat ke Madiun saat itu juga. No compromise. Begitulah bak preman tua, pas kondektur nagih tiket, mas Wowok langsung bisik-bisik sambil tangannya memberikan salam tempel. Beres. Di Indonesia, apa sih yang nggak bisa?

Sampai di Madiun pk. 17.30, tadinya janjian sama Antok Sumartono yang mau jemput di stasiun Madiun, tapi ternyata rombongan Antok Sumartono dari Yogya baru sampai di Karang Anyar . Untunglah, aku masih menyimpan nomer HPnya Yudi Cenguk. Akhirnya, YUdi Cenguk-lah yang menjadi ‘dewa penolong’ dengan mengirim mobil plus supirnya ke stasiun. Terima Kasih ya!

Udara Madiun terasa dingin karena masih hujan rintik-rintik, perut pun jadi terasa lapar. Langsung kita meluncur ke nasi pecel Yu Gembrot, karena tadi pas di kereta Sancaka kita sudah membayangkan wisata kuliner ke situ. Dan apa yang kita bayangkan selama di kereta menjadi kenyataan. Nasi pecel dengan lauknya terasa nikmat di lidah. Dahsyat! Madiun memang terkenal nasi pecelnya yang khas, pokoke mak nyus lah!

Urusan perut selesai barulah kita mampir ke rumah Oscar Louhenapessy. Sebenarnya undangannya pk. 12.00 siang tadi, tapi nggak apa-apa yang penting kan kehadiran kita untuk bersilaturahim. Di rumah Oscar, ternyata semua handai tolannya masih komplit. Jadi sebenarnya sebelum reuni besoknya kita sudah reuni duluan sama keluarga besar Louhenapessy. Kalau saja Yudi Cenguk nggak nelpon bisa jadi kita ngobrolnya sampai malam.

Pukul 20.00. akhirnya kita dibawa supir ke Gorang-gareng ke rumah Yudi Cenguk yang ternyata rombongan Yogya [Antok Sumartono, Benny Sayidno, dan Tuti Djoko Pangestu] sudah berkumpul pula di situ. Lagi-lagi, kita ngobrol ngalor ngidul sampai malem, itung-itung pemanasan untuk acara ngumpul bareng Alumni PG Soedhono besok.
Pk. 22.00, yang asik pada ngobrol aku tinggal tidur. Eh, pk 23.00, dibangunin diajak ke Hotel Merdeka Madiun ditunggu sama rombongan mas Kikiek Haryodo. Terpaksa aku ikut daripada ditinggalin di rumah gede, kosong, sendirian pula [Yudi Cenguk dan keluarganya tinggal di rumah lain lagi yang jaraknya 5 rumah dari situ]. Rumah Yudi Cenguk kita kunci dari luar [Cenguk nggak tahu kalau malem2 kita nglayap lagi]. Lama nggak ketemu sama mas Kikiek dan rombongan, akhirnya begadanglah kita sampai pk. 03.30. Dan seperti jaman dulu waktu masih di Soedhono, kalau sudah ngumpul ramainya bukan main.

Pk. 04.00 pagi, kita masuk lagi ke rumah Yudi Cenguk dengan badan terasa capai, tulang terasa remuk, tapi hati senang dan puas banget. Tidur. Nanti pk. 10.00 recananya berangkat ke Soedhono.

Maluku sama guru anakku


Setiap kali anak-anak rapotan yang harus diambil oleh orang tuanya, selalu istriku menyerahkannya urusan ini padaku. Katanya, “Dia kan anakmu…”. Lha gimana ini, kan bikinnya bareng-bareng, jadi mestinya harus tanggung jawab bersama lah. Begitulah, sejak anak-anak di bangku SMP selalu aku terus yang harus berhadapan dengan guru wali kelasnya. It’s oke, itung-itung buat refreshing. Kalau urusan ambil rapot anakku yang nomer 1, cewek, Adhika yang di SMAN 81 [sekarang di FE-UI], biasanya sih nggak pernah ada masalah. Tapi tak urung, kalau pas ambil rapot anakku yang nomer 2, seringkali aku dibuat malu dan ‘mati gaya’ di depan ibu guru anakku dan para orang tua murid lainnya.

Sekali … waktu itu, pas anakku nomer 2 yang bernama Wira masih kelas 3 SMP saatnya pembagian rapot bayangan. Seperti biasa, setelah semua orangtua/wali murid ngumpul di kelas, ibu guru wali kelas namanya bu Yanti lalu memberikan pengantar, “Over all nilai anak-anak lumayan banyak peningkatan, dan asal bapak & ibu tahu bahwa anak-anak di kelas ini juga ada beberapa yang mulai ‘jadian’”. Dalam hati aku mikir “Sopo yo bocah… masih SMP kok pada pacaran?” Ibu guru pun melanjutkan, “ Hanya saja ada ‘pasangan’ yang perlu untuk diingatkan, karena sejak ‘jadian’ yang cowok tadinya 10 besar melorot ke ranking 37 dari 40 murid. Sebaliknya, yang cewek tadinya ranking 17 naik menjadi masuk 10 besar”. Dalam hati aku berguman, “Nah lho. Makanya jangan pacaran dulu”. Karena penasaran dan kita-kita para orang tua juga sudah biasa ketemu dan saling kenal, aku pun bertanya siapakah yang dimaksud ibu guru yang harus diingatkan? “Maaf pak… “ kata ibu guru, “… yang saya maksud adalah Wira putra bapak”. Duaar… GedUbraaaak. Langsung deh ane mati gaya, malu aku sama semua yang ada di ruang kelas. Baru tahu aku kalau anakku sudah ABG dan mulai punya TTM. Konyolnya, kok aku tahunya justru dari ibu guru.

Maluku yang kedua, waktu anakku baru 3 bulan diterima di SMA. Tiba-tiba, anakku menelpon kalau aku harus ke sekolahnya menghadap guru Wali Kelasnya. Keesokan harinya, aku langsung ke SMA-nya. Terus ketemu wali kelasnya. Saat ketemu itulah, ibu wali kelasnya Wira bilang “Bapak belum tahu ya julukannya si Wira?. Wira itu terkenalnya cowok paling ‘keren’ di angkatannya…. Sayangnya sekarang bermasalah dengan ibu guru Fisika, kalau Bapak nggak menemui dan minta maaf, Wira nggak boleh ikutan pelajaran Fisika untuk seterusnya”. Gedubraak… Jegeeerrr! Gimana ibu guru ini, ane habis ‘diangkat tinggi’ [anak ane dibilang keren] … eh langsung ‘dibanting’. Lagi-lagi ane mati gaya dan speechless.

Di ruang BP, diketemukan dengan guru BP dan ibu guru Fisika. Lalu ibu guru Fisika menjelaskan duduk persoalannya, pas pelajarannya anakku Wira asyik sendiri corat-coret di buku yang ternyata coretannya menyinggung perasaannya sambil memperlihatkan bukti nyata berupa buku anakku lengkap dengan corat-coretnya. Di buku anakku ada corat-coret [kerjaan anakku sejak SD emang bikin gambar-gambar kartun model manga atau kartun Jepang] bahwa hari itu ada ulangan 4 mata pelajaran salah satunya adalah Fisika. Di sampingnya ada tulisan gede : ANJING. Nama binatang ini yang rupanya membuat ibu guru Fisika tsb. Berang! Dalam hati aku heran, ibu guru ini gimana sich… anak kreatif begini kok dimusuhi? Wkwkwk. Dia nggak tahu kalau pas SMP si Wira pernah dihukum membersihkan meja satu kelasnya dengan kertas ampelas gara-gara kepergok sedang asyik menggambari mejanya.

Lalu aku pun menjelaskan bahwa waktu kecil, anakku Wira ini adatnya jelek. Kalau lagi marah, jengkel atau pun stress suka teriak-teriak, ataupun memaki-maki, bahkan gebrak-gebrak meja. Dan sejak umur 4 tahun dia ketahuan punya sakit Asma, jadi kalau lagi marah atau emosi atau di mobil kena macet tiba-tiba bisa kambuh sesak nafasnya. Nah, untuk menghilangkan ‘adat’ buruknya itu saya mengajari nya agar kalau sedang marah, jengkel, atau stress ambil kertas dan alat tulis lalu tuangkan aja dengan corat-coret atau gambar kartun sampai keluar semua uneg-uneg ataupun masalah yang menjengkelkannya. Tentunya, dengan tujuan supaya nggak menjadi pemicu penyakit Asmanya kambuh. Sejak saat itu hobinya adalah corat-coret, gambar, bikin komik, bikin desain kaos bola, dll. Dan saya selalu sediakan kertas 1 rim untuk terapinya ini.

Begitulah, karena hari itu mendadak ada ulangan 4 mata pelajaran dan nggak siap menghadapinya, bisa jadi dia tertekan, marah, stress, sehingga langsung secara spontan dia ungkapkan dalam bentuk corat-coret di bukunya. Sialnya ibu guru Fisika ternyata memergoki coretannya dan tersinggung. Saat itu juga, aku mohon maaf ke ibu guru tsb. Dan mohon agar kelakuan anakku dimaafkan pula. Dalam hati aku berpikir, mungkinkah semua kenakalan & kejahilanku jaman kecil dulu menurun ke anakku? Wuah kalau ya, berarti ilmu Biologi tentang Genetika benar adanya. Ah, kenapa juga dipikirin? The Show Must Go On!

Maluku yang ketiga terjadi waktu ambil rapot bayangan Semester 1, kelas 2 SMA baru-baru ini. Giliran konsultasi dengan Wali Kelasnya, aku dijelaskan bahwa nilai-nilainya masih di bawah standar. Kalau jurusan IPA pelajaran fak-nya minimal harus 8. Kalau nanti pas semesteran tidak berubah, takutnya bisa tidak naik kelas. Kalau tidak naik kelas berarti harus keluar dari sekolah ini. Yachh, ini bocah gimana sich? Kerjaan cuman sekolah aja kok nggak becus. Lalu guru wali klasnya juga berterima kasih karena pernah diantar pulang ke rumah sama anakku Wira. Dalam hati aku membatin : “Oh, rupanya kalau ke sekolah bawa mobil kerjanya nganter gurunya pulang. Berarti Wira deket sama ibu guru ini. Kalau deket sama gurunya biasanya dia sangat patuh dan mau dengerin nasehatnya”. I got the point. Langsung aku mohon kepada ibu guru wali kelas untuk memberikan nasehat agar dia mau belajar dan punya niat untuk menjadi lebih baik lagi. Karena menurut pengalaman, si Wira ini biasanya Cuma mau dengerin nasehat orang-orang yang diseganinya. Bayangin aja, saya dan ibunya nyuruh potong rambut aja nggak pernah mau. Giliran pelatih basket di klub basketnya [Roda Tama] nyuruh potong gundul, langsung dia potong gundul plontos. Ibu guru wali kelas pun setuju.

Malemnya, pas ketemu Wira, langsung aku minta agar mengurangi kegiatannya supaya kalau malam tidak terlalu capai dan punya waktu untuk pelajarannya. Akhirnya, kita kompromi, Wira memilih untuk tetap aktif latihan basket di sekolah dan di klub basketnya. Kegiatan lainnya seperti futsal, ngeband dan les drumnya berhenti dulu untuk sementara waktu sampai lulus SMA. Berarti sekarang kegiatannya tinggal basket aja, karena Wira ditunjuk oleh teman-temannya untuk jadi kapten tim basket di SMA-nya. Hasilnya, pas ambil rapot semester 1, bulan Desember yang lalu, ibu guru wali kelas dengan senangnya menjelaskan bahwa rapot anakku cukup bagus. Wuah lumayan juga strategi yang aku terapkan ternyata membawa perubahan yang signifikan. Syukur Alhamdulillah.

Wali kelas juga menjelaskan kalau anakku Wira juga terpilih untuk ikutan program pertukaran pelajar ke salah satu SMA di Singapura bulan April 2011 nanti. Tentunya kalau orangtuanya mengijinkan. Ya boleh lah bu. Siapa tahu dengan punya pengalaman belajar bersama dengan anak-anak SMA di Negara yang lebih maju dia nantinya bisa termotivasi dan terpacu untuk ‘go International’. Kan dari kecil Wira kepinginnya bisa belajar Art & Design Graphics dan menggambar Manga ke Jepang. Semoga ‘mimpimu’ diridhoi dan dikabulkan Allah SWT dan bisa menjadi kenyataan, nak! Amin.

Wednesday, February 16, 2011

Resolusi Adhika


Believe it or not, yang namanya energi positif ternyata memang sangat dahsyat kekuatannya. Kali ini mau sharing tentang anak sulungku cewek bernama Adhika.

Waktu kelas 2 SMA, di buku 'gado-gado'nya [buku catatan belajar & coretannya] ditulisnya besar-besar FE-UI 2010. Wow, rupanya ini anak menuliskan resolusinya. Lalu sambil iseng kutanya mengapa ia kepingin memilih FE-UI kenapa nggak ITB, karena yang kutahu para sahabatnya sejak SMP pada kepingin kuliah di ITB. Adhika pun menjawab dengan yakinnya "ngapain ikut-ikutan temen. Aku pinginnya FE-UI kok..." Lho kok FE-UI??? Adhika pun menjawab bahwa di FE-UI seabreg kegiatannya. "Aku kepingin ikutan panitia 'Jazz goes to Campus', trus mau ndatengin musisi jazz Amrik. Aku kepingin pameran foto. Aku kepingin... dst." Wuih, banyak banget maunya.

Memang anakku yang ini sejak SMP selalu aktif dengan berbagai kegiatan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Jadi OSIS lah, jadi panitia Pentas Seni-lah, ke panti asuhan lah, penelitian ke Lombok-lah, dsb. Bayangin aja, mulai SMA kelas 1 s.d. kelas 3 setiap hari hampir rata-rata pulangnya selalu di atas pk. 9 malem. Hebat kan. Ibunya tiap hari ketar-ketir nungguinnya. Jadi gara-gara kakak kelasnya yang di FE-UI promosi ke SMAN 81 bahwa di FE-UI seabreg kegiatannya, ya akhirnya Adhika bener-bener yakin bahwa di situlah tempat kuliah yang pas buat dia.

Sebagai orang tua, terpaksa aku cuma bisa mendoakan agar semua yang diinginkannya bisa terwujud. Tentunya, dengan tidak lupa mengingatkan untuk selalu mempersiapkan diri.

Seiring berjalannya waktu, ketika selesai ujian SMA, iseng-iseng aku tanya lagi "mau daftar ke mana?". Adhika pun menjawab tetap dengan yakinnya "Ya.. FE-UI lah!". Aku coba cari data tentang passing grade FE-UI via mbah google, ternyata untuk UI yang tertinggi passing grade-nya dan terbanyak pendaftarnya adalah FK-UI & FE-UI. Nah lho. Gawat juga, akupun minta Adhika supaya cari cadangan juga. "Kalau begitu cadangannya mau daftar ke Universitas Swasta mana?", tanyaku lanjut di lain kesempatan. Adhika pun menjawab, "Ngga usah lah pak...".

Namun akhirnya, ketika UGM mulai buka pendaftaran lebih dulu daripada UI, dia minta duit buat daftar UGM sebagai cadangannya. Begitulah, akhirnya Adhika ikutan test FE-UGM dan juga kemudian FE-UI. Ternyata UGM pengumuman duluan, dan Adhika termasuk yang diterima. Alhamdulillah, enteng sudah pikiran bapaknya denger Adhika sudah dapat sekolah. Dan hanya diberi waktu 1 minggu untuk daftar ulang dan menyesaikan semua administrasinya ke kampus UGM. Ia pun rombongan sama temen-temennya SMAN 81 yang diterima di UGM daftar ke Yogya barengan.

Giliran SIMAK UI pengumuman, Adhika nggak berani melihat koran. Lalu aku menghiburnya, "kalau nggak diterima FE-UI nggak apa-apa, kan sudah dapet FE-UGM yang bagus juga." Tetap aja dia nggak mau lihat. Akhirnya, diam-diam aku lihat nomer testnya dan kucocokkan dengan pengumuman yang ada di koran. Alhamdulillah, ternyata Adhika diterima juga di FE-UI. Akhirnya, barulah dia berani melihat sendiri terus dilanjut sujud syukur.



Sekarang Adhika begitu enjoy banget dengan kampusnya, teman-temannya, dan kegiatannya. Baru juga semester 1, dia sudah terlibat ikutan klub fotografi FE-UI, kerjaanya kalau Sabtu atau Minggu hunting foto kemana-mana. Bahkan sudah bikin plan buat hunting foto ke Bangka dan mau 'back packer'-an ke Vietnam & Kamboja. Terakhir ini juga ikutan jadi panitia seminar internasional tentang perdagangan bebas di kampusnya.

Begitulah, 'mimpi' anakku berupa resolusi pas kelas 2 SMA dulu ternyata akhirnya menjadi kenyataan. Aku dan ibunya selalu berdoa dan bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan segala sesuatu yang terbaik buat keluargaku, dan memohon agar semua cita-cita anakku dapat dikabulkan. Amin.

Thursday, August 20, 2009

Marhaban Yaa Ramadhan

Puasa Ramadhan datang menjelang. Seperti yang lalu-lalu, bulan suci umat Islam ini memang sudah ditunggu-tunggu oleh kita semua. Melalui tulisan ini, saya mengajak semuanya yang diwajibkan menjalankan ibadah puasa, untuk menguatkan kembali niat dan semangat kita dalam menjalankan ibadah puasa kali ini.

Alangkah baiknya pula selama bukan suci ini bila kita bisa memperbanyak berdoa semoga Allah memberikan tenaga , kelapangan dan kesempatan nebgerjakan ibadah puasa ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Tentunya dengan harapan semoga Allah akan memberikan taufik & hidayahnya bagi kita semua, sehingga kita mengerjakan puasa dengan hati yang ikhlas dan hanya untuk mengharap ridho-Nya. Selain itu, bulan ramadhan juga dapat kita gunakan untuk mendidik diri, keluarga dan lingkungan terdekat kita ke arah pemantapan iman & taqwa kita semua kepada Allah SWT.

Untuk itu, saya mohon keikhlasannya Anda semua untuk memberikan maaf atas segala kekhilafan dan kesalahani baik berupa perkataan maupun tindakan. Marhaban Yaa Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir & bathin.

Harapannya, semoga saya dan Anda semua dapat menyambut bulan suci Ramadhan --bulan nan penuh berkah, bulan pengampunan dan perjuangan-- dengan penuh sukacita, dan siap baik secara fisik, mental maupun ilmu sehingga nantinya kita semua bisa menjadi manusia baru yang mendapatkan segala berkah & kebaikan selama bulan Ramadhan ini, dan tentunya agar kita semua menjadi umat muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Amin.

Friday, July 24, 2009

‘Berbagi’ di hari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW






Tanggal 20 Juli 2009 kemarin adalah hari libur nasional berkaitan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tiba-tiba terpikir kok kepingin memaknai hari besar dan bersejarah bagi umat Islam ini dengan sesuatu yang bermanfaat. Memang untuk urusan agama & keimanan, kita sekeluarga berusaha untuk terus belajar dan belajar agar lebih baik lagi. Saya pribadi pun ingin mengajarkan kepada anak-anak apa saja kewajiban kita sebagai muslim yang harus dilakukan, tentunya agar di kemudian hari nanti ketika mereka sudah dewasa dapat menjadi umat muslim yang baik & benar yang selalu mengamalkan ajaran agamanya..

Setelah berembug dengan istri & anak-anak, akhirnya tercetus ide untuk berbagi dengan para anak yatim, piatu, dan dluafha. Mumpung juga masih terkait dengan dimulainya tahun ajaran baru, di mana banyak dari mereka yang membutuhkan biaya extra untuk membeli buku, seragam, dsb.

Dalam satu riwayat Nabi Muhammad SAW menegaskan : “Barang siapa di antara kaum muslimin yang menanggung makan dan minum anak yatim, maka Allah akan memberikan kecukupan penghidupan baginya, serta mengharuskan dia masuk surga kecuali bila dia melakukan dosa yang tak terampuni” [HR Turmudzi].

Mulailah kita bagi tugas. Aku & anak-anak menyiapkan tempat di rumah dan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara ini.. Istri langsung ke rumah ustadz Nur Cahaya, [lulusan UIN yang juga guru ngaji anak-anak di rumah] untuk meminta kesediaannya memberi sedikit tauziah dalam acara tsb.

Sorenya, pk. 16.00 rombongan 20 anak-anak Yatim, Piatu & Dhluafa -- yang ada di sekitar komplek tempat kita tinggal – langsung berdatangan. Acara pun langsung kita mulai. Meskipun duduk berdesakan di karpet di ruang tamu kami, tapi nampak mereka semua gembira menerima undangan keluarga kami.

Ustadz Nur Cahaya memulai siraman rohaninya dengan mengingatkan kita tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, dan pentingnya kita melaksanakan kewajiban Sholat 5 waktu. Kemudian dilanjut dengan cerita menarik yang membangkitkan semangat anak-anak Yatim, Piatu & Dhluafa agar tetap semangat belajar dan tetap focus kepada apa yang dicita-citakannya. Kalau kita mau berusaha pasti nantinya selalu ada jalan untuk meraihnya. Walaupun kondisi ekonomi kita serba minim, yang penting tetap semangat untuk bisa meraih prestasi sehingga nantinya kan bisa mendapat beasiswa dsb. Dan hal itu sudah dibuktikan oleh ustadz Nur Cahaya sendiri yang selalu mendapat beasiswa dan akhirnya telah berhasil lulus kuliah di UIN [Universitas Islam Negeri Jakarta].

Akhirnya, pk. 17.00 acara ini kita tutup dengan doa bersama. Sejujurnya, apa yang kita sekeluarga lakukan saat ini dalam hal berbagi dengan anak yatim, piatu & dhluafa memang belum seberapa bila dibandingkan dengan total kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun setidaknya tujuan saya untuk belajar menjadi umat muslim yang lebih baik dan mempraktekkannya serta mengamalkannya bersama istri & anak-anak bisa terlaksana. Karena buat apa kita menjadi umat muslim kalau tidak pernah mengamalkan ajarannya dalam kehidupan. Ya, Allah maafkan hambamu ini, karena baru 22 anak yatim, piatu & dhluafa yang saat ini bisa saya bantu. Semoga di lain kesempatan atas Kehendak-Mu Ya Allah bisa lebih banyak lagi anak yatim, piatu & dhluafa yang bisa saya bantu. Amin.

Friday, June 19, 2009

Benarkah iklan paling efektif adanya di bioskop?




Masih ngomongin soal iklan, kalau dipikir-pikir, iklan yang paling efektif dalam menjangkau target sasarannya sepertinya adanya di bioskop. Lho kok bisa?

Begini penjelasannya. Kita semua tahu, tatkala di bioskop hendak memutar film, seperti biasa selalu ada serangkaian pesan iklan yang diputar untuk para pemirsa bioskop. Nah, sebagai penonton tentunya kita tidak bisa ‘lari’ ataupun menghindar dari ‘serangan’ pesan iklan tsb. dan mau nggak mau akan melihatnya. Kalau nggak mau melihat paling bisanya Cuma tutup mata, tapi telinga kan masih mendengarkan pesan iklannya. Ingat, Cuma di bioskop tempat di mana pemirsanya tidak bisa mengontrol iklan yang ditayangkan. Bandingkan dengan keefektifan dari iklan TV, di mana dengan begitu mudahnya pemirsa menghindar dari rangkaian pesan iklan.

Lebih dari itu, bagi pemasar yang target audience-nya ‘orang muda’, bioskop juga sangat tepat sasaran. Lihat saja tatkala, ada film bagus yang diputar, selalu banyak penontonnya berasal dari kalangan orang muda ini. Nah bagi para pemasar yang produknya menyasar kalangan orang muda mulailah untuk mempertimbangkan media bioskop.

Kelebihan lainnya, saat film yang diputar termasuk kategori film best seller, biasanya mampu menyedot jumlah penonton yang spektakuler. Bahkan akhir-akhir ini beberapa film local juga berhasil menarik penonton hingga jutaan orang. Khabarnya film Ayat-ayat Cinta ditonton hingga 2 juta orang lebih. Laskar Pelangi malah lebih dari itu. Bagi para pemasar data ini jelas menjadi menarik. Karena ada ‘kepastian’ bahwa iklan yang ditayangkan ditonton oleh pemirsa yang akurasinya bisa dipertanggungjawabkan. Lagi-lagi coba bandingkan dengan iklan di TV di mana begitu mudahnya pemirsa ‘menghindar’ dari tayangan iklan.

Dari sisi cost, bioskop juga jauh lebih murah dibanding iklan di TV. Malah saya yakin bila film yang jumlah penontonnya hingga jutaan, pastinya cost per rupiah yang dikeluarkan untuk beriklan bila dibagi dengan jumlah penontonnya menjadi sangat reliable, masuk akal, murah meriah, dan yang lebih penting tepat sasaran. Bieberapa dari klien saya juga mulai tertarik untuk menayangkan iklannya di bioskop. Khususnya untuk pemutaran film Ketika Cinta Bertasbih, yang diprediksi oleh para pengamat film Indonesia bakal ditonton oleh lebih dari 2 juta orang.

Jadi menurut saya, saat ini seharusnya bioskop bisa menjadi alternative terbaik bagi para pemasar untuk menyampaikan pesan produknya dengan tingkat efektifitas yang cukup tinggi. Namun pendapat saya ini hanyalah berangkat dari asumsi lho… karena kalau mau tahu lebih pasti seyogyanya dilakukan riset yang cukup mendalam. Tapi feeling saya, bioskop ke depannya bisa menjadi primadona untuk para pengiklan di samping beriklan melalui internet. Hayo siapa yang tertarik untuk mencoba???

Wednesday, June 17, 2009

Remote control adalah musuh? Bisa jadi benar adanya.


Saat ngobrol bareng dengan pekerja iklan, praktisi periklanan, pemilik product atau pengiklan, kita sepakat bahwa remote control adalah salah satu musuh utama. Lho kok? Lha iya lah… gimana nggak… kita capek-capek memproduksi iklan TV, nayangin dan bayar ke stasiun TV Swasta, dengan biaya ratusan juta bahkan hingga milyaran dan dengan control kualitas yang prima, saat jam ditayangkan iklannya dengan santainya para pemirsa TV yang juga menjadi target iklan tsb. dengan mudahnya memencet tombol remote control dan memindahkan ke program TV lain. Coba kalau nggak ada teknologi remote control, pastinya mereka akan menonton program iklan sampai habis. Kalau ngggak seneng paling TV nya yang dimatikan.

Beginilah nasib iklan, saat sudah ditonton beberapa kali, audience pastinya akan bosan [ah, iklan itu lagi] dan cenderung memindahkan channel. Padahal yang namanya TV swasta kalau nggak ada iklannya pastinya sudah tutup dari kapan-kapan. Karena praktis saat ini stasiun TV swasta itu hidupnya benar-benar mengandalkan para pengiklan. Lihat saja TV swasta yang program tayangannya kurang bagus pasti pengiklannya sedikit.

Terus bagaimana dong caranya bikin iklan yang bagus supaya pemirsanya nggak gampang bosan dan terus menonton. Inilah yang menjadi tantangannya. Banyak iklan bagus yang menghibur, yang lucu, yang berhasil memikat hati pemirsanya tapi siapakah yang bisa menjamin bahwa iklan tsb. dilihat terus oleh pemirsa tanpa memencet tombol remote controlnya?

Itulah sebabnya, para pekerja kreatif di bisnis periklanan selalu dituntut untuk selalu kreatif dan lebih kreatif lagi dari hari ke hari. Tentunya agar iklan yang digagas dan kemudian diproduksi selalu menarik, enak ditonton, menghibur, pesan iklannya mampu mengundang simpati tanpa harus menggurui, dan lebih penting lagi agar pemirsanya nggak memencet tombol di remote controlnya. Inilah tuntutan yang harus bisa dipenuhi oleh para praktisi periklanan saat ini.