blog ini hanyalah wadah 'curhat' & sharing seorang endro wm sayidno berkaitan dengan Madiun, Surabaya, Jatim, kewirausahaan, pengembangan diri, hobi, koleksi, keluarga, perkawanan, pendidikan, pekerjaan, peluang usaha, trend masa kini, dsb.
Tuesday, March 29, 2011
Busway oh busway
Hari Sabtu lalu, bersama istri iseng kepingin ke pasar pagi Mangga Dua [pusat kulakan berbagai barang]. Sayangnya, saat mau berangkat, waktu sudah menunjukkan pk 10.00. Nah lho. Berdasarkan pengalaman selama ini, kalau berangkat jam segitu nyari parkirnya susah, malahan pernah nggak dapet parkir. Akhirnya, kita putusin untuk mencoba naik busway. Kebetulan di terminal Pinang Ranti Pondok Gede, mulai Januari lalu ada jalur busway yang baru, yaitu Pinang Ranti- Pluit. Enaknya lagi, dari rumah cuma naik angkot sekali dan nggak sampai 30 menit sudah nyampe.
Setelah beli tiket yang harganya Rp 3,500 per orang, kita berdua langsung ngantri untuk masuk busway. Murah banget kan, bayangin dengan Rp 3,500, kita bisa keliling Jakarta seharian, asalkan tidak keluar dari halte busway. Jadi bisa pindah jurusan ke mana saja. Rasanya karena hari Sabtu antrian penumpangnya tidak begitu banyak. Suprise, busway jalur ini, armadanya masih baru semua. Interiornya masih bersih, ac- nya dingin. Terus di pintu dijaga seorang petugas. Kita berdua bisa duduk dengan nyamannya. Berhubung belum tahu caranya kalau mau ke pasar pagi Mangga Dua, saya pun banyak bertanya kepada petugas [ingat malu bertanya sesat di jalan].
Untuk ke pasar pagi Mangga Dua, kita harus pindah busway yang jurusan PGC-Ancol di halte UKI. Dan ternyata busway yang ini dari halte Garuda TMII langsung masuk ke jalan tol, jadi lumayan cepat juga untuk sampai ke halte UKI [mungkin juga karena Sabtu jadi nggak macet]. Di halte UKI, sekali lagi saya pun harus agak cerewet bertanya ke petugas di halte, karena yang lewat jalur ini ada banyak rute, takutnya keliru naik bus kan ribet.
Tidak sampai 5 menit, si petugas mengumumkan kedatangan busway jurusan PGC-Ancol. Begitu masuk terasa bedanya, busway yang ini sudah agak kotor kondisi interiornya, tapi masih lumayan bersih dan ac-nya juga masih kerasa dingin. Di setiap halte yang dilewati busway selalu berhenti untuk menurunkan & menaikkan penumpang. Dan jalur ini juga lumayan padat. Karena lebih banyak yang berdiri dibanding yang duduk. Dan seperti tadi, saya pun langsung minta informasi ke petugas di halte mana harus turun kalau mau ke pasar pagi Mangga Dua.
Dari UKI nggak sampai 30 menit, akhirnya kita sampai di halte Mangga Dua Square. Di halte, sudah menunggu mikrolet yang lewat pasar pagi Mangga Dua. 5 menit kemudian kita berdua sudah berada di pasar pagi Mangga Dua. Kalau dihitung, sejak dari keluar rumah hingga sampai pasar pagi Mangga Dua, waktu yang diperlukan sekitar 1jam 15 menit. Berangkat dari rumah pk. 10.15 sampai tujuan pk. 11.30. Lumayan cepet lah, udah gitu kan enaknya gak capek nyupir, nggak pusing nyari parkir. Cuman repotnya kalau belanjaannya banyak ribet bawanya.
Hari itu kita berdua terpuaskan. Apa yang kepingin dibeli istri dapet semua. Malahan istri complain karena dia capek nunggu saat saya hunting netbook di Mangga Dua Mall, yang memang pusatnya peredagangan gadget di Jakarta. Saya tadinya mengincar ASUS EeePC 1215T netbook yang bisa buat gaming sekaligus bisa buat design graphic, sayangnya stock lagi kosong dan harus indent. Akhirnya saya putuskan beli saudara kembarnya ASUS EeePC 1215P, netbook terbaru debutan ASUS yang paling keren di kelas netbook 12 inch, prosesornya sudah dual core,baterainya bisa tahan sampai 8 jam lebih. Dari segi harga, beli gadget di Mangga Dua Mall bisa lebih murah hingga 300k-500k, bila dibanding kita beli di tempat lain.
Pk. 15.00 akhirnya kita berdua keluar dari Mangga Dua Mall dengan tentengan yang lumayan banyak, kita naik mikrolet ke halte busway. Inilah resikonya kalau belanja nggak bawa mobil, ribet. Tapi karena sudah diniatin ya dibawa enjoy aja. Di halte Mangga Dua Square, antrean penumpang busway menumpuk banyak [mungkin kebarengan orang pulang kantor kalee]. Kalau tadi berangkatnya serba mudah dan gampang, giliran sekarang terasa susahnya. Busway jurusan Ancol-PGC yang kita tunggu, baru 30 menit kemudian datangnya. Penumpangnya juga penuh. Kita berdua terpaksa berdiri, karena kalau nunggu yang kosong takutnya bisa 1 jam lagi kedatangannya. Jadi kalau ngomongin kekurangannya, masalah jarak kedatangan antar busway ini yang harus dipersingkat, begitu juga masalah ketepatan waktunya [tidak ada kepastian jamnya]. Ironis kan lebih lama nunggu busnya daripada waktu tempuhnya.
Seperti berangkatnya, karena punya jalur khusus, 30 menit kemudian kita sudah sampai di halte UKI untuk pindah ke busway jurusan Pluit-Pinang Ranti. Di halte ini pun penumpang menumpuk banyak sampai halte pun terasa sesak. Namun, busway yang kita tunggu baru 20 menit kemudian kedatangannya, dengan penumpang yang penuh sesak. Karena nggak ada alternatif, kita berdua ya masuk aja. Untungnya, dari UKI ke Pinang Ranti busway cuma butuh waktu 20 menit. Dari terminal busway Pinang Ranti kita pindah naik angkot ke rumah. Sampai rumah, waktu menunjukkan pk. 16.45. Jadi kalau dihitung sejak keluar dari Mangga Dua Mall, waktu yang dihabiskan untuk perjalanan pulang 1jam 45 menit. Wow. Busway oh busway...
Inilah pengalaman pribadi memanfaatkan transportasi busway di Jakarta di hari Sabtu, yang notabene banyak sekolah dan kantor yang libur. Mungkin akan lain ceritanya kalau naik busway-nya di hari kerja biasa yang pastinya akan lebih dipadati penumpang para pekerja kantoran, jalanan lebih macet, dan bakalan lebih lama waktu tempuhnya. Tapi suatu saat saya akan coba naik busway untuk berangkat & pulang kerja, kepingin tahu apakah lebih oke atau malah nggak oke. Sekaligus kepingin membuktikan apakah busway yang jadi andalan pemerintah DKI Jaya di bidang transportasi, mampu atau tidak menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi murah, nyaman, aman, tepat waktu, dan bebas kemacetan. Semoga.
Sunday, March 27, 2011
Ganti Provider
‘Perang iklan’ antar provider yang gencar ditayangkan TV swasta rupanya menginspirasi sepasang suami-istri memanfaatkan ‘bahasa iklan provider’ tsb. untuk kode rahasia di antara mereka berdua. Bila kepingin ML [making love] ngomongnya adalah ‘ngisi pulsa’.
Suatu malam, ketika sedang ‘ngebet’ si suami berbisik ke istrinya, “Ma... ‘ngisi pulsa’ yuk.” Istrinya yang sedang kelelahan dan gak ada tenaga pun menjawab, “Yaach... papa, ... lagi ‘low batt’ nich...”
Besok malamnya lagi, si suami yang libidonya lagi naik, berbisik lagi ke istrinya, “Mama, ‘ngisi pulsa’ yuk...” Lagi-lagi istrinya yang malem itu capek kerja pun menjawab, “ Maaf ya, pa... jangan malem ini lah, ‘sinyalnya lagi lemah’... jadi ‘nggak ON’ nich”.
Malem berikutnya, sang suami yang belum terpenuhi hasratnya merayu lagi istrinya, “Sekarang oke dong, ma... ‘ngisi pulsa’ yuk...” Si Istri yang memang kebetulan hari itu sedang haid pun menjawab, “Aduh... pa, maaf banget dech... hari ini ‘no connection’ jaringannya lagi terganggu nich, ‘error connection’... sekali lagi maafin mama ya?? ”.
2 minggu kemudian, gantian sang istri yang kepingin ngajak ML suaminya. Saat di kamar ia pun merayu suaminya yang kayaknya koq selama ini ‘adem-adem’ saja, “Papa... ‘ngisi pulsa’ yuuk...”
Sang suami pun lalu menjawab, “Maaf ya ma... papa 10 hari ini terpaksa ganti pakai provider lain yang bisa ‘ON terus’, ‘sinyalnya kuat’, ‘gak low batt’, gak ‘error connection’ terus yang lebih penting lagi... ‘ngisi pulsanya’ gratis...tis... tis... terus ditambah lagi buaanyak banget bonusnya...”. Gedubraaak!
Suatu malam, ketika sedang ‘ngebet’ si suami berbisik ke istrinya, “Ma... ‘ngisi pulsa’ yuk.” Istrinya yang sedang kelelahan dan gak ada tenaga pun menjawab, “Yaach... papa, ... lagi ‘low batt’ nich...”
Besok malamnya lagi, si suami yang libidonya lagi naik, berbisik lagi ke istrinya, “Mama, ‘ngisi pulsa’ yuk...” Lagi-lagi istrinya yang malem itu capek kerja pun menjawab, “ Maaf ya, pa... jangan malem ini lah, ‘sinyalnya lagi lemah’... jadi ‘nggak ON’ nich”.
Malem berikutnya, sang suami yang belum terpenuhi hasratnya merayu lagi istrinya, “Sekarang oke dong, ma... ‘ngisi pulsa’ yuk...” Si Istri yang memang kebetulan hari itu sedang haid pun menjawab, “Aduh... pa, maaf banget dech... hari ini ‘no connection’ jaringannya lagi terganggu nich, ‘error connection’... sekali lagi maafin mama ya?? ”.
2 minggu kemudian, gantian sang istri yang kepingin ngajak ML suaminya. Saat di kamar ia pun merayu suaminya yang kayaknya koq selama ini ‘adem-adem’ saja, “Papa... ‘ngisi pulsa’ yuuk...”
Sang suami pun lalu menjawab, “Maaf ya ma... papa 10 hari ini terpaksa ganti pakai provider lain yang bisa ‘ON terus’, ‘sinyalnya kuat’, ‘gak low batt’, gak ‘error connection’ terus yang lebih penting lagi... ‘ngisi pulsanya’ gratis...tis... tis... terus ditambah lagi buaanyak banget bonusnya...”. Gedubraaak!
Monday, March 21, 2011
Pentingnya motivasi untuk berolahraga
Apa sih sebenarnya motivasi seseorang ketika aktif melakukan olah raga seperti jogging, jalan cepat atau bersepeda? Kalau hal ini ditanyakan ke mereka yang melakukannya pasti jawabannya bisa bermacam-macam. Kalau saya pribadi melakukan olah raga jogging, jalan cepat ataupun bersepeda karena memang termotivasi dengan anjuran dokter, serta hasil browsing di mbah google. Karena ketiga olah raga tsb. konon memang bisa membakar lemak lemak lebih cepat serta bisa membantu menurunkan kadar kolesterol serta gula darah. Karena memang dari hasil periksa lab beberapa bulan yang lalu penyakit tersebut yang akhir-akhir ini akrab dengan tubuh saya.
Kalau ngomongin motivasi, harusnya setiap orang sadar bahwa olahraga itu sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Tetapi kenyataannya banyak orang yang enggan bahkan malas melakukan olahraga. Barulah ketika mereka menderita sakit kemudian dianjurkan oleh dokter mulai termotivasi untuk melakukannya. Jadi ternyata motivasi lah yang peranannya penting untuk menggerakkan seseorang untuk berolahraga. Sekadar tahu bahwa olahraga itu penting ternyata tidaklah cukup untuk menggerakan seseorang untuk berolahraga. Tetapi dengan motivasi yang terbangun karena satu dan lain hal, barulah seseorang itu akan termotivasi untuk olah raga.
Biasanya mereka yang giat untuk melakukan jogging, jalan cepat ataupun bersepeda berangkat dari berangkat sari salah satu motivasi berikut ini yaitu:
1. karena dianjurkan oleh dokter untuk membantu mengatasi penyakit yang dideritanya [kolesterol, darah tinggi, diabetes, dsb.]
2. ingin mengurangi lemak tubuh, ingin mengurangi berat badan,
3. atau ingin tetap menjaga keidealan tubuhnya.
4. dan lain-lain alasan.
Dengan titik awal motivasi yang berbeda dari tiap orang, tentunya jenis latihan yang dikerjakan oleh setiap orang akan berbeda pula. Terlepas dari perbedaan motivasi tsb. yang jelas jogging atau lari-lari kecil, jalan cepat, ataupun bersepeda sangatlah banyak manfaatnya bagi siapapun yang melakukannya.
Terlebih lagi, ketiga olah raga yang disebut di atas mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja, di mana saja, dan memiliki beberapa keuntungan :
1. Tidak diperlukannya alat-alat khusus yang memerlukan biaya tinggi.
2. Jogging, jalan cepat dan bersepeda bisa dilakukan di berbagai tempat, yang tentunya juga dapat mengurangi kebosanan saat melakukannya.
3. Jogging, jalan cepat dan bersepeda sangat bagus untuk kesehatan.
4. Bisa melakukannya sendirian ataupun rame-rame dengan membentuk komunitas.
5. Bermanfaat pula untuk melatih otot-otot di kaki dan perut .
6. Jogging, jalan cepat, maupun bersepeda juga terbukti efektif mengurangi stress.
Pengalaman saya, di awal memulai jogging, jalan cepat ataupun bersepeda memang terasa berat. Tetapi setelah melewati 10 hari akhirnya menjadi terbiasa. Justru kalau saat ini terlewatkan satu hari saja, rasanya hidup ini sepertinya ada yang kurang. Apalagi setelah terbukti hasilnya yang ternyata akhirnya kolesterol & gula darah saya berhasil turun ke angka yang normal, ditambah lagi berat saya dari 65 kg bisa turun menjadi 59 [turun 7 kg], Bahkan lingkar pinggang yang tadinya 90 cm, berkurang menjadi 83 cm, semakin memperkuat motivasi saya untuk melakukan jogging, jalan cepat ataupun bersepeda setiap hari. Buat saya pribadi tips untuk melakukan olah raga setiap hari memang terbukti oke. Work it, lho!
Saran saya, apapun motivasi yang melatarbelakangi, sebaiknya mulai sekarang lakukanlah olah raga apa saja, karena terbukti olah raga adalah investasi kesehatan terbaik dalam hidup ini. Yang penting perbanyak gerak. Usahakan lebih banyak berjalan kaki, naik tangga, dsb. Selamat mencoba.
Sunday, March 13, 2011
Tips & Trik : Cara turunkan kolesterol
Sekarang lagi kepingin sharing tentang ‘perjuangan’ saya menjaga kesehatan selama 10 tahun terakhir ini.
Investasi untuk kesehatan dengan rajin berolahraga memang sudah saya mulai dari 10 tahun yang lalu. Seminggu 2 x latihan beban ke Gym, ditambah hari Sabtu atau Minggu pagi jogging atau bersepeda. Rutinitas ini selalu saya usahakan terlaksana kecuali kalau kebetulan bentrok dengan pekerjaan atau harus ke luar kota. Sedangkan untuk urusan makanan saya tidak pernah membatasi apapun, apa saja saya sikat. Dan setiap tahun saya selalu menjalani general check up. Selama 7 tahun jerih payah saya untuk menjaga kesehatan ternyata lumayan berhasil, karena selalu hasilnya bagus dan di bawah ambang batas semuanya. It’s fine.
Faktanya, ternyata dengan olah raga seminggu 3 x atau 4 x saja nggak cukup, seiring bertambahnya usia, 3 tahun terakhir ini, hasil cek kesehatan saya ternyata menyajikan data yang mulai harus diwaspadai. Karena mulai muncul beberapa gejala penyakit. Suatu kali pernah asam uratnya yang tinggi. Lalu diberi obat dan dianjurkan tetap harus rajin olah raga, ditambah diet makanan dengan menghindari makanan-makanan tertentu, akhirnya level asam urat bisa kembali normal. Hasil cek up kesehatan tahun berikutnya, giliran gula darah, kolesterol dan tekanan darah yang tinggi, dan seperti biasa diberi obat, disuruh rajin olah raga plus menghindari makanan tertentu, setelah cek up lagi akhirnya bisa kembali normal. Hasil cek lab terakhir, 14 Januari 2011 yang lalu total kolesterolnya tinggi [278, padahal normalnya 110-230] dan gula darah sedikit di atas ambang batas [147, normalnya < 140]. Pantas saja, badan sering terasa pegal-pegal dan tangan sering kesemutan. Menurut dokter harus segera diatasi, kalau nggak bisa mengarah ke stroke. Wuah, kayaknya jadi masalah serius nich. Seingatku, pernah waktu ikutan donor darah, sebelah saya sudah ganti orang 3 kali, darah saya belum selesai juga disedot. Menurut petugas PMI darah saya terlalu kental, tapi kalau lihat hasil cek terakhir mungkin karena kolesterolnya yang tinggi [kebanyakan lemak kaleee].
Dokter pun mentreatment dengan obat jenis statin untuk menormalkan kadar kolesterol saya. Tetap harus rajin olah raga, dan seperti biasa dianjurkan untuk menghindari makanan yang tinggi kadar kolesterolnya. Sepulang dari dokter, langsung browsing via mbah google tentang berbagai masalah kolesterol dan obatnya. Ternyata malah dapetin data bahwa obat-obatan penurun kolesterol jenis Statin itu kalau digunakan dalam jangka waktu yang lama ada side effect-nya, yaitu residunya yang menempel di dinding pembuluh darah bisa membuat dinding pembuluh darah mengeras sehingga menjadi tidak elastic lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk tidak meminum obat-obatan dari dokter tsb.
Masalahnya, fakta bahwa kolesterol yang tinggi ini kan harus diatasi. Mulailah mempelajari dan menganalisa perlakuan saya selama ini dalam hal menyikapi dan mengatasi hasil cek up. Kesimpulan sementara, saya harus merubah secara drastis pola makan untuk selamanya, nggak kayak selama ini, diet ketat hanya saat hendak menurunkan kolesterol saja. Begitu sudah kembali normal, pola makan kembali seperti semula. Mulailah lagi belajar tentang segala sesuatu tentang apa itu kolesterol, penyebabnya, bahayanya, cara mengatasinya, gaya hidup sehat, diet makanan, olah raga yang benar, dsb. melalui mbah google.
Akhirnya, tersusunlah cara saya sendiri untuk menurunkan kolesterol dan gula darah tsb. yang jelas tips & trik ini saya peroleh dari berbagai sumber [termasuk nanya ke temen2 yg dokter] namun saya modifikasi sedemikian rupa agar mudah dijalankan dan tentunya karena mempertimbangkan cost efficiency. Berikut ini adalah tips & trik : cara menurunkan kolesterol versi saya.
1. Setiap pagi selalu saya ‘paksakan’ untuk jalan kaki [jalan cepat], jogging atau bersepeda [tergantung moodnya] selama 1 jam dalam keadaan perut kosong [hanya minum teh hijau sebelum berangkat]. Aktivitas ini saya jalankan pada kondisi denyut nadi 70% dari denyut jantung maksimal [hitungnya: 220 – usia kita x 70% ]. Ukuran ini yang paling bagus untuk proses terjadinya pembakaran lemak tubuh.
Kenapa harus dalam keadaan perut kosong? Saat bangun tidur [perut kosong], tenaga yang berasal dari makanan kan sudah habis, maka otomatis tenaga yang dibutuhkan untuk aktifitas jalan, lari & bersepeda akan diambilkan dari lemak yang ada di seluruh tubuh [lemak kan cadangan tenaga yang oleh tubuh tak akan dipakai bila tenaga yang bersumber dari karbohidrat atau gula masih ada].
2. Seminggu 2 x saya tetap aktif ke Gym untuk latihan beban [sore hari].
3. Pagi, setelah jalan kaki, jogging atau bersepeda, saat sebelum sarapan saya minum jus wortel [5 wortel] tanpa gula dicampur dengan minyak zaitun 1 sendok makan. Terkadang mix dengan alpukat, atau tomat. Malam bersamaan makan malam minum jus jambu atau strawberry, tergantung adanya apa.
4. Mengurangi makan nasi [separo dari takaran biasanya setiap kali makan] dan diganti dengan memperbanyak sayuran [kaya serat], buah-buahan dan makanan lainnya yang tinggi protein [termasuk kacang-kacangan].
Saya juga menghindari makanan tinggi karbohidrat namun kosong gizi seperti fast food, camilan dari tepung (kerupuk, pangsit goreng, dsb), kue, dan permen. Karena makanan semacam ini tinggi kandungan karbohidrat sederhana dan sodium (garam), tapi miskin serat dan nutrisi.
5 Say No to 3 G [gorengan, gula & garam]. Maksudnya, menghindari makanan yang berkolesterol tinggi, yang mengandung gula, dan garam ataupun pengawet.
6 Banyak minum air putih [2 liter sehari], karena air putih berguna untuk membantu tubuh melakukan pembuangan racun atau detoksifikasi. Minum banyak air putih bikin tubuh juga terasa lebih enerjik.
7 Istirahat cukup.
8 Hindari Stress [hidup easy going dan dibawa fun aja].
Setelah ‘berjuang’ optimal dengan menerapkan tips & trik ala saya di atas, saat cek up kesehatan 5 Maret 2011 lalu [setelah kurang lebih 3 bulan], hasilnya sangat memuaskan, total kolesterol turun menjadi 151 [tadinya 278], dan gula darah jadi 103 [tadinya 147]. Bonusnya, berat badan saya yang tadinya 65 kg, saat ini turun jadi 59 kg [feelnya jadi ringan dan segar], dan lucunya celana saya jadi ‘kegedean’ semua. Karena tadinya lingkar perut saya 90 cm, saat ini tinggal 83 cm [asyik kan turun 7 cm] perut jadi rata dan kelihatan six packnya. Otot lengan dan dada juga jadi lebih besar dengan bentuk otot yang terlihat tegas garisnya. Sekarang, kalau sama-sama telanjang dada, badan saya jadi kelihatan lebih bagus dibanding anak saya Wira [16 th] yang atlet basket [koq jadi narsis lagi, hehehe…].
Begitulah, ternyata untuk bisa hidup sehat itu nggak gampang alias diperlukan pengetahuan yang cukup, kemauan., dan disiplin untuk menerapkannya.
Investasi untuk kesehatan dengan rajin berolahraga memang sudah saya mulai dari 10 tahun yang lalu. Seminggu 2 x latihan beban ke Gym, ditambah hari Sabtu atau Minggu pagi jogging atau bersepeda. Rutinitas ini selalu saya usahakan terlaksana kecuali kalau kebetulan bentrok dengan pekerjaan atau harus ke luar kota. Sedangkan untuk urusan makanan saya tidak pernah membatasi apapun, apa saja saya sikat. Dan setiap tahun saya selalu menjalani general check up. Selama 7 tahun jerih payah saya untuk menjaga kesehatan ternyata lumayan berhasil, karena selalu hasilnya bagus dan di bawah ambang batas semuanya. It’s fine.
Faktanya, ternyata dengan olah raga seminggu 3 x atau 4 x saja nggak cukup, seiring bertambahnya usia, 3 tahun terakhir ini, hasil cek kesehatan saya ternyata menyajikan data yang mulai harus diwaspadai. Karena mulai muncul beberapa gejala penyakit. Suatu kali pernah asam uratnya yang tinggi. Lalu diberi obat dan dianjurkan tetap harus rajin olah raga, ditambah diet makanan dengan menghindari makanan-makanan tertentu, akhirnya level asam urat bisa kembali normal. Hasil cek up kesehatan tahun berikutnya, giliran gula darah, kolesterol dan tekanan darah yang tinggi, dan seperti biasa diberi obat, disuruh rajin olah raga plus menghindari makanan tertentu, setelah cek up lagi akhirnya bisa kembali normal. Hasil cek lab terakhir, 14 Januari 2011 yang lalu total kolesterolnya tinggi [278, padahal normalnya 110-230] dan gula darah sedikit di atas ambang batas [147, normalnya < 140]. Pantas saja, badan sering terasa pegal-pegal dan tangan sering kesemutan. Menurut dokter harus segera diatasi, kalau nggak bisa mengarah ke stroke. Wuah, kayaknya jadi masalah serius nich. Seingatku, pernah waktu ikutan donor darah, sebelah saya sudah ganti orang 3 kali, darah saya belum selesai juga disedot. Menurut petugas PMI darah saya terlalu kental, tapi kalau lihat hasil cek terakhir mungkin karena kolesterolnya yang tinggi [kebanyakan lemak kaleee].
Dokter pun mentreatment dengan obat jenis statin untuk menormalkan kadar kolesterol saya. Tetap harus rajin olah raga, dan seperti biasa dianjurkan untuk menghindari makanan yang tinggi kadar kolesterolnya. Sepulang dari dokter, langsung browsing via mbah google tentang berbagai masalah kolesterol dan obatnya. Ternyata malah dapetin data bahwa obat-obatan penurun kolesterol jenis Statin itu kalau digunakan dalam jangka waktu yang lama ada side effect-nya, yaitu residunya yang menempel di dinding pembuluh darah bisa membuat dinding pembuluh darah mengeras sehingga menjadi tidak elastic lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk tidak meminum obat-obatan dari dokter tsb.
Masalahnya, fakta bahwa kolesterol yang tinggi ini kan harus diatasi. Mulailah mempelajari dan menganalisa perlakuan saya selama ini dalam hal menyikapi dan mengatasi hasil cek up. Kesimpulan sementara, saya harus merubah secara drastis pola makan untuk selamanya, nggak kayak selama ini, diet ketat hanya saat hendak menurunkan kolesterol saja. Begitu sudah kembali normal, pola makan kembali seperti semula. Mulailah lagi belajar tentang segala sesuatu tentang apa itu kolesterol, penyebabnya, bahayanya, cara mengatasinya, gaya hidup sehat, diet makanan, olah raga yang benar, dsb. melalui mbah google.
Akhirnya, tersusunlah cara saya sendiri untuk menurunkan kolesterol dan gula darah tsb. yang jelas tips & trik ini saya peroleh dari berbagai sumber [termasuk nanya ke temen2 yg dokter] namun saya modifikasi sedemikian rupa agar mudah dijalankan dan tentunya karena mempertimbangkan cost efficiency. Berikut ini adalah tips & trik : cara menurunkan kolesterol versi saya.
1. Setiap pagi selalu saya ‘paksakan’ untuk jalan kaki [jalan cepat], jogging atau bersepeda [tergantung moodnya] selama 1 jam dalam keadaan perut kosong [hanya minum teh hijau sebelum berangkat]. Aktivitas ini saya jalankan pada kondisi denyut nadi 70% dari denyut jantung maksimal [hitungnya: 220 – usia kita x 70% ]. Ukuran ini yang paling bagus untuk proses terjadinya pembakaran lemak tubuh.
Kenapa harus dalam keadaan perut kosong? Saat bangun tidur [perut kosong], tenaga yang berasal dari makanan kan sudah habis, maka otomatis tenaga yang dibutuhkan untuk aktifitas jalan, lari & bersepeda akan diambilkan dari lemak yang ada di seluruh tubuh [lemak kan cadangan tenaga yang oleh tubuh tak akan dipakai bila tenaga yang bersumber dari karbohidrat atau gula masih ada].
2. Seminggu 2 x saya tetap aktif ke Gym untuk latihan beban [sore hari].
3. Pagi, setelah jalan kaki, jogging atau bersepeda, saat sebelum sarapan saya minum jus wortel [5 wortel] tanpa gula dicampur dengan minyak zaitun 1 sendok makan. Terkadang mix dengan alpukat, atau tomat. Malam bersamaan makan malam minum jus jambu atau strawberry, tergantung adanya apa.
4. Mengurangi makan nasi [separo dari takaran biasanya setiap kali makan] dan diganti dengan memperbanyak sayuran [kaya serat], buah-buahan dan makanan lainnya yang tinggi protein [termasuk kacang-kacangan].
Saya juga menghindari makanan tinggi karbohidrat namun kosong gizi seperti fast food, camilan dari tepung (kerupuk, pangsit goreng, dsb), kue, dan permen. Karena makanan semacam ini tinggi kandungan karbohidrat sederhana dan sodium (garam), tapi miskin serat dan nutrisi.
5 Say No to 3 G [gorengan, gula & garam]. Maksudnya, menghindari makanan yang berkolesterol tinggi, yang mengandung gula, dan garam ataupun pengawet.
6 Banyak minum air putih [2 liter sehari], karena air putih berguna untuk membantu tubuh melakukan pembuangan racun atau detoksifikasi. Minum banyak air putih bikin tubuh juga terasa lebih enerjik.
7 Istirahat cukup.
8 Hindari Stress [hidup easy going dan dibawa fun aja].
Setelah ‘berjuang’ optimal dengan menerapkan tips & trik ala saya di atas, saat cek up kesehatan 5 Maret 2011 lalu [setelah kurang lebih 3 bulan], hasilnya sangat memuaskan, total kolesterol turun menjadi 151 [tadinya 278], dan gula darah jadi 103 [tadinya 147]. Bonusnya, berat badan saya yang tadinya 65 kg, saat ini turun jadi 59 kg [feelnya jadi ringan dan segar], dan lucunya celana saya jadi ‘kegedean’ semua. Karena tadinya lingkar perut saya 90 cm, saat ini tinggal 83 cm [asyik kan turun 7 cm] perut jadi rata dan kelihatan six packnya. Otot lengan dan dada juga jadi lebih besar dengan bentuk otot yang terlihat tegas garisnya. Sekarang, kalau sama-sama telanjang dada, badan saya jadi kelihatan lebih bagus dibanding anak saya Wira [16 th] yang atlet basket [koq jadi narsis lagi, hehehe…].
Begitulah, ternyata untuk bisa hidup sehat itu nggak gampang alias diperlukan pengetahuan yang cukup, kemauan., dan disiplin untuk menerapkannya.
Monday, March 07, 2011
Sepeda fixie nan trendy...
Gara-gara anakku Wira merakit sendiri sepeda fixie, aku jadi penasaran kepingin menaikinya. Padahal biasanya seminggu sekali, setiap Sabtu pagi, aku main pakai sepeda Montain Bike [MTB]. Pertama menuntunnya sepeda fixie anakku ini memang terasa sangat ringan sekali [nggak sampai 11 kg]. Begitu pula saat dipakai mengelilingi komplek memang terasa bedanya bila dibandingkan dengan sepeda MTB-ku, yang khusus untuk menjelajah jalanan ‘kampung’.
Sepeda fixie adalah gaya minimalisnya sepeda. Unik, karena pedalnya terus berputar mengikuti roda yang terus menggelinding. Umumnya sepeda fixie tidak memiliki rem. Saat ini memang sedang menjadi trend di kalangan anak muda sampai para pekerja. Tampilan kombinasi warnanya yang sesuka hati pemiliknya [bisa bikin warna yang nge-Jreng lho], ini yang nampaknya menjadikan sepeda fixie ini digemari akhir-akhir ini.
Nama sepeda fixie mengacu pada kata kata Fixed Gear, maksudnya gear belakang yang dibikin mati dengan hub (as) roda belakang. Makanya pedal sepeda akan ikut berputar saat roda perputar. Untuk mengerem atau mengurangi kecepatannya, pengendara harus menahan putaran pedal ke arah belakang (untuk yang tidak menggunakan rem depan). Jaman dulu mekanisme pedal & gear seperti ini disebut dengan Doltrap.
Ciri lain sepeda fixie ada pada bannya. Ban sepeda fixie menggunakan ban yang sangat tipis seperti ban sepeda balap, begitu ringan ketika digenjot. Untuk bagian stang juga tersedia banyak macamnya, namun yang umum stang sepeda fixie dibuat dengan tegak lurus. Disain minimalis inilah yang menjadi ciri paling menonjol untuk sepeda fixie ini.
Saat ini kalau kepingin punya sepeda fixie kita bisa membeli jadi atau merakitnya sendiri. Dengan merakit sendiri kita bisa membuat paduan warna-warni sesuka hati sesuai taste kita. Karena semua komponennya sudah tersedia banyak di toko-toko sepeda, mulai dari frame [rangka] bodinya [mau dicat sendiri juga bisa]. Mulai dari ban yang warna-warni [putih, merah, hijau, kuning], velg dengan jeruji warna-warni, hingga velg bintang. Sepeda fixie anakku per-paduan warna putih dan kuning. Bodi putih dengan strip kuning, velg kumimg & jeruji putih, ban warna putih cream, stang, pedal, gear & rantainya pakai warna hitam. Sadelnya dipilih yang sesuai kenyamanan dengan model tipis dan langsing biar kelihatan matching sama framenya [warna kombinasi putih kuning].
Pertama nggowes sepeda fixie memang menjadi pengalaman tersendiri. Saat melalui jalan menurun yang cukup curam sepeda melaju semakin kencang padahal pedal sudah ditahan ’habis-habisan’ tetapi tetap saja si fixie ini masih kencang, hampir menabrak tukang sayur keliling yang parker di belokan. Jadi kesimpulannya, sepeda ini harus dipasangi rem depan atau belakang agar lebih aman mengendarainya [nah lho, jadi nggak minimalis lagi dong]. Untuk mereka yang sudah umuran kemungkinan cidera akan semakin besar, terutama pada dengkul, karena harus menahan putaran roda belakang untuk mengurangi laju sepeda fixie ini. Jangan sampai gara-gara mau ikutan trend nggowes dengan sepeda fixie malah nantinya menjadi cidera. Sebaiknya, harus membiasakan diri terlebih dulu dengan jenis sepeda fixie ini sebelum menggunakannya di jalan raya yang ramai.
Wednesday, February 23, 2011
'Jaka Sembung Bawa Golok'
Pernah denger joke ini nggak? ‘Jaka sembung bawa golok, kagak nyambung goblok!’ Biasanya dipakai untuk meledek mereka-mereka yang komunikasinya tidak ketemu alias ‘ngaco’ dan ‘nggak nyambung’. Jujur saja, meskipun biz saya bergelut di bidang komunikasi [marketing & communication alias praktisi periklanan] tapi nggak luput juga dari urusan miss-communication & miss-understanding.
Waktu itu kita dipercaya client untuk menggarap iklan tv salah satu obat sakit kepala yang modelnya adalah seorang dalang kondang yang tinggalnya di Karang Anyar, Surakarta. Pas lagi nyari-nyari ide, akhirnya saya dan teman sepakat untuk menemui beliau di Solo untuk sekaligus menggali pengetahuan tentang perwayang-kulitan, perdalangan, apa yang nggak boleh dan apa yang boleh untuk di-explore menjadi sebuah karya iklan TV. Tiket Garuda pun sudah disiapkan oleh Sekretaris untuk keberangkatan pesawat besok pagi pk. 06.20. Saya dan teman pun janjian untuk ketemuan langsung di bandara di tempat biasa kalau kita biasanya mau ke Singapore.
Besoknya pk. 5.00, setelah memarkir mobil di tempat parkir yang khusus untuk menginap, saya nongkrong di kafe yang biasa kita jadikan tempat ngumpul kalau pergi rame-rame sama temen-temen. Pk. 05.30, temen pun datang. Setelah ngobrol santai sambil minum kopi, akhirnya sepakat untuk ‘boarding’. Pas memasuki tempat boarding dan berada di depan counter Garuda, barulah kita sadar dan ‘ngeh’, kalau kita ternyata berada di tempat yang salah, yaitu terminal keberangkatan untuk ke Luar Negeri. Padahal, seharusnya kita ke terminal untuk penerbangan domestic. Pokoknya, bener-bener ‘Jaka sembung bawa golok’ . Akhirnya, sambil panic dan rasa was-was ditinggal pesawat karena waktunya sudah mepet, kita berdua pun berlari menuju ke terminal untuk keberangkatan domestic, yang jaraknya lumayan jauh.
Apa yang kita takutkan pun terjadi. Sampai di terminal yang benar ternyata boarding untuk flight kita telah ditutup dan pesawat sudah berangkat ke Solo. Akhirnya, kita langsung beli tiket baru untuk penerbangan ke Semarang yang sejam lagi take off. Nggak mau ketinggalan pesawat untuk kedua kalinya, kita pun langsung boarding dan masuk ke dalam. Rencananya, dari Semarang nantinya mau nyambung naik taxi ke Solo. Begitulah yang terjadi, gara-gara ketinggalan pesawat, jadinya malah kelamaan jalan darat dari Semarang ke Solo daripada Jakarta ke Semarang.
Pk. 13.00, kita check in di Novotel Solo. Kepinginnya sih langsung ketemu Ki dalang kodang tsb., tapi ternyata beliaunya masih tidur karena tadi malam habis ‘ndalang’ [dalang kalau malam kerja siangnya tidur]. Diperkirakan habis sholat Isya kita baru bisa ketemuan. Beginilah nasib praktisi periklanan, sudah berangkat terburu-buru ternyata masih juga belum bisa ketemu. Daripada nggak ngapa-ngapain, kita pun keliling Solo sambil nyari ide kreatif iklan yang hendak kita garap dan sekaligus nyari-nyari lokasi yang bagus buat nanti kalau jadi shooting di Solo atau di Tawangmangu.
Sambil wisata kuliner, akhirnya kita dapat ide untuk pakai dalang bule yang manggung bareng ki dalang kondang tsb. Jadi ceritanya seolah-olah ada transfer teknologi perdalangan dari ki dalang tokoh kita ke dalang bule, tentunya dikaitkan juga dengan benefit obat sakit kepala yang selama ini dibintangi ki dalang kondang tsb.
Malemnya, sehabis makan nasi liwet khas Solo, kita langsung meluncur ke rumah Ki dalang kondang tsb. yang adanya di tengah-tengah Karang Anyar arah Tawangmangu. Di rumah beliau, kita pun ‘dipaksa’ makan lagi karena sudah disiapkan berbagai masakan khas Jawa Tengah kreasi ibu tuan rumah [makan lagi, makan lagi terus kapan kerjanya ya?]. Selesai makan langsung lah kita utarakan maksud kedatangan ke Solo saat itu.
Mulailah kita berdua bergantian menanyakan hal penting yang berkaitan dengan pakem perwayang-kulitan, apa yang boleh dan apa yang gak boleh. Sampailah ke konsep/ide kita untuk memakai dalang bule, sekaligus apakah beliau punya murid atau rekan bule yang bisa mendalang. Ki dalang tokoh kita pun dengan mantepnya bilang kalau every things is okay, prinsipnya nggak ada masalah, dalang bulenya juga ada dan siap kapan aja kalau mau diajak shooting iklan obat sakit kepala tsb. Tapi sebentar pak, kita berdua harus ketemu langsung dulu sekalian mau kita casting dulu [apakah wajahnya oke, apakah bisa acting, dll.]. Akhirnya, beliau berjanji untuk mendatangkan dalang bule tsb. Ke Novotel besok pagi pk. 10.00-an, dan silakan ngobrol sampai puas, katanya.
Malam itu kita ngobrol sampai pk. 1.00 pagi. Anehnya, kita berdua ‘klenger’ dan ngantuk berat, sebaliknya pak dalang tokoh kita ini justru suaranya makin keras dan lantang. Maklum beliau kan dalang yang memang ‘hidupnya’ malam sampai pagi. Sambil sedikit sungkan, karena memutus obrolannya yang makin semangat, akhirnya kita berdua pamit untuk pulang ke Novotel, yang jaraknya 15 km dari situ.
Pk. 10.00 sehabis sarapan, kita kedatangan tamu yang telah menunggu di Lobby hotel. Sambil menenteng kamera untuk casting aku dan teman bergegas menemuinya. Pas sampai di tempat tamu menunggu dan melihat tamunya, aku dan teman pun saling lihat-lihatan seolah tak percaya dengan yang ada di depan mata sambil menahan ketawa. Pasalnya, tamu yang ‘dikirim’ ki dalang kondang tsb. sebagai dalang bule itu ternyata adalah orang Jawa tapi yang kulitnya albino. Nah lho. Lagi-lagi ‘jaka sembung bawa golok’. Apa yang kita maksud dalang bule [orang asing] ternyata ditangkap oleh Ki dalang sebagai dalang albino [baru sadar kalau untuk orang jawa kata bule itu merujuk untuk orang yang kulitnya albino, apalagi orang Solo Kiai Slamet aja disebut sebagai Kerbau bule, wkwkwk…]. Berhubung tidak mau mengecewakan tamu, akhirnya kita ngobrol sampai kurang lebih satu jam. Sepulangnya dalang bule tsb. Kita pun berdua tertawa sepuasnya.
Pelajaran yang bisa dipetik, ternyata membangun komunikasi itu nggak gampang, sebuah kata yang sama ternyata diartikan berbeda oleh orang lain. Daripada stress ngurusin dalang bule, kita berdua pun ke pasar Triwindu untuk mencari ‘barang antik’, sambil menunggu kiriman ‘dalang bule’ beneran dari ki dalang kondang tokoh kita. Walaupun nantinya, meskipun kita sudah bersusah payah ke Solo segala, ternyata ide ini nggak jadi kita eksekusi dan diganti dengan ide lain yang lebih ‘ngocol’. Beginilah kerjanya praktisi periklanan untuk bikin iklan yang ‘get attention’ harus ‘jungkir balik’ terlebih dahulu. Tapi yang penting enjoy terus dan tetap semangat!.
Waktu itu kita dipercaya client untuk menggarap iklan tv salah satu obat sakit kepala yang modelnya adalah seorang dalang kondang yang tinggalnya di Karang Anyar, Surakarta. Pas lagi nyari-nyari ide, akhirnya saya dan teman sepakat untuk menemui beliau di Solo untuk sekaligus menggali pengetahuan tentang perwayang-kulitan, perdalangan, apa yang nggak boleh dan apa yang boleh untuk di-explore menjadi sebuah karya iklan TV. Tiket Garuda pun sudah disiapkan oleh Sekretaris untuk keberangkatan pesawat besok pagi pk. 06.20. Saya dan teman pun janjian untuk ketemuan langsung di bandara di tempat biasa kalau kita biasanya mau ke Singapore.
Besoknya pk. 5.00, setelah memarkir mobil di tempat parkir yang khusus untuk menginap, saya nongkrong di kafe yang biasa kita jadikan tempat ngumpul kalau pergi rame-rame sama temen-temen. Pk. 05.30, temen pun datang. Setelah ngobrol santai sambil minum kopi, akhirnya sepakat untuk ‘boarding’. Pas memasuki tempat boarding dan berada di depan counter Garuda, barulah kita sadar dan ‘ngeh’, kalau kita ternyata berada di tempat yang salah, yaitu terminal keberangkatan untuk ke Luar Negeri. Padahal, seharusnya kita ke terminal untuk penerbangan domestic. Pokoknya, bener-bener ‘Jaka sembung bawa golok’ . Akhirnya, sambil panic dan rasa was-was ditinggal pesawat karena waktunya sudah mepet, kita berdua pun berlari menuju ke terminal untuk keberangkatan domestic, yang jaraknya lumayan jauh.
Apa yang kita takutkan pun terjadi. Sampai di terminal yang benar ternyata boarding untuk flight kita telah ditutup dan pesawat sudah berangkat ke Solo. Akhirnya, kita langsung beli tiket baru untuk penerbangan ke Semarang yang sejam lagi take off. Nggak mau ketinggalan pesawat untuk kedua kalinya, kita pun langsung boarding dan masuk ke dalam. Rencananya, dari Semarang nantinya mau nyambung naik taxi ke Solo. Begitulah yang terjadi, gara-gara ketinggalan pesawat, jadinya malah kelamaan jalan darat dari Semarang ke Solo daripada Jakarta ke Semarang.
Pk. 13.00, kita check in di Novotel Solo. Kepinginnya sih langsung ketemu Ki dalang kodang tsb., tapi ternyata beliaunya masih tidur karena tadi malam habis ‘ndalang’ [dalang kalau malam kerja siangnya tidur]. Diperkirakan habis sholat Isya kita baru bisa ketemuan. Beginilah nasib praktisi periklanan, sudah berangkat terburu-buru ternyata masih juga belum bisa ketemu. Daripada nggak ngapa-ngapain, kita pun keliling Solo sambil nyari ide kreatif iklan yang hendak kita garap dan sekaligus nyari-nyari lokasi yang bagus buat nanti kalau jadi shooting di Solo atau di Tawangmangu.
Sambil wisata kuliner, akhirnya kita dapat ide untuk pakai dalang bule yang manggung bareng ki dalang kondang tsb. Jadi ceritanya seolah-olah ada transfer teknologi perdalangan dari ki dalang tokoh kita ke dalang bule, tentunya dikaitkan juga dengan benefit obat sakit kepala yang selama ini dibintangi ki dalang kondang tsb.
Malemnya, sehabis makan nasi liwet khas Solo, kita langsung meluncur ke rumah Ki dalang kondang tsb. yang adanya di tengah-tengah Karang Anyar arah Tawangmangu. Di rumah beliau, kita pun ‘dipaksa’ makan lagi karena sudah disiapkan berbagai masakan khas Jawa Tengah kreasi ibu tuan rumah [makan lagi, makan lagi terus kapan kerjanya ya?]. Selesai makan langsung lah kita utarakan maksud kedatangan ke Solo saat itu.
Mulailah kita berdua bergantian menanyakan hal penting yang berkaitan dengan pakem perwayang-kulitan, apa yang boleh dan apa yang gak boleh. Sampailah ke konsep/ide kita untuk memakai dalang bule, sekaligus apakah beliau punya murid atau rekan bule yang bisa mendalang. Ki dalang tokoh kita pun dengan mantepnya bilang kalau every things is okay, prinsipnya nggak ada masalah, dalang bulenya juga ada dan siap kapan aja kalau mau diajak shooting iklan obat sakit kepala tsb. Tapi sebentar pak, kita berdua harus ketemu langsung dulu sekalian mau kita casting dulu [apakah wajahnya oke, apakah bisa acting, dll.]. Akhirnya, beliau berjanji untuk mendatangkan dalang bule tsb. Ke Novotel besok pagi pk. 10.00-an, dan silakan ngobrol sampai puas, katanya.
Malam itu kita ngobrol sampai pk. 1.00 pagi. Anehnya, kita berdua ‘klenger’ dan ngantuk berat, sebaliknya pak dalang tokoh kita ini justru suaranya makin keras dan lantang. Maklum beliau kan dalang yang memang ‘hidupnya’ malam sampai pagi. Sambil sedikit sungkan, karena memutus obrolannya yang makin semangat, akhirnya kita berdua pamit untuk pulang ke Novotel, yang jaraknya 15 km dari situ.
Pk. 10.00 sehabis sarapan, kita kedatangan tamu yang telah menunggu di Lobby hotel. Sambil menenteng kamera untuk casting aku dan teman bergegas menemuinya. Pas sampai di tempat tamu menunggu dan melihat tamunya, aku dan teman pun saling lihat-lihatan seolah tak percaya dengan yang ada di depan mata sambil menahan ketawa. Pasalnya, tamu yang ‘dikirim’ ki dalang kondang tsb. sebagai dalang bule itu ternyata adalah orang Jawa tapi yang kulitnya albino. Nah lho. Lagi-lagi ‘jaka sembung bawa golok’. Apa yang kita maksud dalang bule [orang asing] ternyata ditangkap oleh Ki dalang sebagai dalang albino [baru sadar kalau untuk orang jawa kata bule itu merujuk untuk orang yang kulitnya albino, apalagi orang Solo Kiai Slamet aja disebut sebagai Kerbau bule, wkwkwk…]. Berhubung tidak mau mengecewakan tamu, akhirnya kita ngobrol sampai kurang lebih satu jam. Sepulangnya dalang bule tsb. Kita pun berdua tertawa sepuasnya.
Pelajaran yang bisa dipetik, ternyata membangun komunikasi itu nggak gampang, sebuah kata yang sama ternyata diartikan berbeda oleh orang lain. Daripada stress ngurusin dalang bule, kita berdua pun ke pasar Triwindu untuk mencari ‘barang antik’, sambil menunggu kiriman ‘dalang bule’ beneran dari ki dalang kondang tokoh kita. Walaupun nantinya, meskipun kita sudah bersusah payah ke Solo segala, ternyata ide ini nggak jadi kita eksekusi dan diganti dengan ide lain yang lebih ‘ngocol’. Beginilah kerjanya praktisi periklanan untuk bikin iklan yang ‘get attention’ harus ‘jungkir balik’ terlebih dahulu. Tapi yang penting enjoy terus dan tetap semangat!.
Saturday, February 19, 2011
Behind the 'scene' of Alumni PG. Soedhono gathering...

Nggak nyangka… ibarat main bola, acara ngumpul bareng Alumni PG Soedhono -- yang awalnya hanya ‘umpan-umpan’ komentar di facebook yang kemudian ditindaklanjuti Handaru Subekti bin Soedjiamto dengan ‘umpan terobosan’ berupa undangan melalui facebook Alumni PG Soedhono dan ‘digiring’ & ‘digocek’ dengan serius oleh Rahmawan bin Doeri, Tuti binti Djoko Pangestu, dan Widjaja bin Soeratno dkk. sebagai ‘tuan rumah’ jadilah sebuah ‘gol indah’. Ide liar untuk bikin acara ngumpul bareng benar-benar menjadi kenyataan.
13 Februari 2011, Soos PG Soedhono menjadi saksi , betapa 30-an lebih teman-teman yang pernah dibesarkan di lingkungan PG Soedhono dari berbagai penjuru [Jakarta, Yogya, Semarang, Solo, Ngawi, Madiun, Surabaya] bisa berkumpul bersama, bersilaturahim, melepas kerinduan akan masa lalu.
Cuaca cerah pagi itu dengan suhu udara yang tidak begitu panas terasa menambah semangat dan keceriaan tatkala memasuki gerbang PG Soedhono. Memasuki areal komplek menuju Soos nampak bis sekolah Toyota ‘jadul’ berwarna biru diparkir di belakang pos hansip seolah menyambut siapapun yang datang ke acara ngumpul bareng Alumni PG Soedhono. Pemandangan dan suasana komplek yang nyaris tak berubah jelas langsung mengusik ingatan dan mengurai berbagai kenangan puluhan tahun lalu yang lama mengendap di alam bawah sadar kita semua.
Di pintu Soos [yang masih seperti dulu] kedatangan kita disambut oleh Widjaja bin Soeratno & Dodi dan teman-teman panitia lokal lainnya [maaf yo, aku nggak hafal nama2nya… maklum wis tuwo memorine cekak] yang memang masih tinggal di areal komplek PG Soedhono. Teman-teman yang menjadi tuan rumah ini wajib kita acungi 2 jempol atas kesediaannya untuk ‘mau direpoti’ baik tenaga, materi maupun pikirannya. Matur suwun yo friends… Gusti Allah SWT mengko sing mbales. Amin.
Sambutan teman-teman tuan rumah PG Soedhono terasa sangat kental ber nuansa penuh keakraban dan kekeluargaan. Begitulah, akhirnya rombongan demi rombongan yang berdatangan dan masuk ke dalam Soos langsung masing-masing saling bertegur sapa, bersalaman, saling berpelukan, cipika-cipiki, saling menghampiri dan saling bertukar cerita tentang masa lalu dan masa kini, saling meledek, bercanda bersama, berfoto ria, seolah lupa kalau semuanya sudah berusia di atas kepala 4. Bahkan Handaru sama Iwan pun sempat ‘piting-pitingan’. Bukan main, ternyata ‘ikatan persaudaraan’ di antara para alumni PG Soedhono masih begitu terasa kental dan tak lapuk dimakan usia, meskipun puluhan tahun sudah tak berjumpa.
Suasana pun bergulir dan mengalir begitu nyantai dan terasa tak ada jarak semua melebur bersilaturahim sambil menyantap hidangan khas nasi pecel dan ‘temennya’. Hampir semua makanan dan minuman yang terhidang berasal dari bawaan ‘kita-kita’ juga. Hampir semua yang hadir ikut ‘bantingan’ menjadi donator dengan memberikan donasinya seikhlasnya. Pokoknya, acara ini memang betul-betul dari kita untuk kita dilandasi semangat kebersamaan dan persaudaraan. Hiburan organ tunggal dan penyanyinya juga ikut meramaikan acara ‘gathering’ ini. Terlihat juga Mitha Devi, istrinya Rahmawan bak seorang lady rocker dengan nyantainya menyumbangkan lagu. Teman kita Antok bin Soemartono nggak mau kalah ikutan nyanyi lagu-lagu ‘jadul’ kayak jaman masih begadangan di tenesban dulu [Ooo… ketahuan nich, Antok sering dugem di karaoke… wkwkwk].
Tak terasa 2 jam sudah waktu berlalu begitu cepatnya. Giliran acara masing-masing keluarga untuk ‘perkenalan kembali’, cerita khabar singkatnya, dan usulan ke depannya. Giliran mas Kikiek bin Haryodo yang pegang mic suasana yang tadinya agak formil dan santun langsung berubah menjadi heboh dan ‘ger-geran’. Pasalnya , dengan entengnya mas Kikiek justru mengungkap ‘track record’ kenakalan-kenakalan para anak-anak Soedhono dari masa ke masa yang dulu terkenal & melegenda [nyolong ayam, nguras kolam, malem klayaban besoknya pada ngantuk dan bolos untuk tidur di bis sekolah, dsb.] wkwkwk… Wuah kalau yang ini kan namanya ‘buka kartu’. Tapi yang wajib disyukuri, meskipun dulu pada ‘bandel’ ternyata sekarang ‘aktornya’ kebanyakan justru sudah pada ‘jadi orang’ [bukannya narsis lho… hehehe].
Acara pun lanjut ke nostalgia keliling komplek. Suasana komplek begitu sepi dan lengang seperti tiada kehidupan. Pohon cemara tinggi-tinggi yang dulu mengelilingi komplek yang dulu kalau malam tertiup angin mengeluarkan suara yang khas dan merdu, kini telah tiada. Meskipun terasa adem dengan pohon rindang di pinggir jalan dan taman, kita semua prihatin dengan kondisi jalanan yang dulu rapi beraspal mulus, kini jadi jalanan tanah bercampur kubangan di sana-sini. Lebih mengenaskan lagi banyak rumah yang dulu berdiri megah dan bersih indah, kini nampak tak terawat karena tak berpenghuni dan banyak ditumbuhi alang-alang dan semak belukar liar. Bahkan ada beberapa rumah yang telah hancur dan lapuk dimakan alam. Sedih melihatnya. Kesempatan ini juga dimanfaatkan para alumni PG Soedhono untuk berfoto di depan bekas ‘rumahnya masing-masing’. Hanya Tenesban yang kondisinya masih nyaris sama seperti dulu. Kita pun berfoto ria di sini.
Sesampainya langkah kaki kembali ke dalam Soos, maka berakhir pula acara ngumpul bareng Alumni PG Soedhono ini. Diiringi lagu ‘kemesraan’nya Iwan Fals dkk. Untuk terakhir kali kita berfoto bersama di podium. “…Kemesraan ini… janganlah cepat berlalu…” Kemudian lanjut saling bersalaman untuk berpisah sementara waktu dan berjanji untuk berjumpa lagi di lain waktu menyambung ikatan persaudaraan. Detik-detik terakhir rasanya memang seperti males untuk ‘bubar’ dan pulang. Dan lagi-lagi waktu jua yang akhirnya memisahkan kita.
Tapi faktanya, Kita semua yang tergabung dalam Alumni PG Soedhono memang pernah ‘berada dan menempati ruang dan waktu yang bersamaan’, tak heran bila telah terjalin ‘ikatan persaudaraan’ di antara kita semua. Ke depannya, mari kita lanjutkan untuk saling bersilaturahim, karena selain silaturahim bisa menambah rejeki juga akan memperpanjang usia kita. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)
