Friday, May 20, 2011

Waspadai makanan dan jajanan berbahaya




Teman saya Hendy hobi banget jajan es cincau setiap kali kita makan siang bersama. Emang enak sih. Saya pun juga beberapa kali mencobanya. Selain enak dan menyegarkan, konon kan cincau bisa mengobati panas dalam. Selain itu, es cincau kan minuman khas yang Indonesia banget.

Tapi itu dulu, tatkala belum menonton laporan investigasi tentang makanan berbahaya yang sering ditayangkan oleh TV swasta. Karena suatu kali laporan investigasi TV tsb. kebetulan menelusuri asal-muasal es cincau tsb. yang ternyata saat proses pembuatannya justru memakai bahan pengawet yang berbahaya bagi tubuh manusia. Bahkan biar terlihat kenyal dan menarik dicampur pula dengan bedak cap kodok. Es batunya pun juga berbahaya, karena dari air mentah [bahkan ada yang dari air kali]. Nah lho. Akhirnya, hobi teman saya Hendy pun sebagai penikmat es cincau berhenti setelah menonton tayangan tsb.

Memang setelah beberapa kali menonton TV tentang laporan investigasi terkait dengan jajanan dan makanan yang dijual sehari-hari di kota metropolitan ini, saya merasa ‘ngeri’ dibuatnya. Bayangkan, setiap makan siang kan, mau nggak mau, kita harus makan/jajan di luar. Tapi menurut laporan investigasi TV tsb. begitu banyak makanan yang dijual ternyata justru membahayakan kesehatan kita.

Meskipun sudah sering disidak dan diperingatkan, tetap saja masih banyak ditemukan makanan yang mengandung zat berbahaya dijual bebas di pasaran. Bukan cuma terdapat dalam bahan makanan basah seperti mi dan tahu, jajanan anak di sekolah juga tak luput dari ancaman bahan kimia berbahaya, salah satunya ya seperti cincau di atas.

Biasanya ada empat jenis bahan berbahaya yang sering disalahgunakan : yakni formalin, boraks, pewarna rhodamin B, dan methanyl yellow. Kenyataan yang sering diliput oleh laporan investigasi tsb. jelas semakin menambah panjang daftar makanan berbahaya yang beredar dengan mudahnya di sekitar kita sejak dulu. Sebut saja formalin sebagai pengawet dalam bakso, mie kuning dan tahu. Selain itu pernah juga ditayangkan daging bakso yang asalnya dari daging tikus sawah serta penggunaan pemutih bagi pembuatan bakso. Ayam tiren [mati kemarin] atau bangkai yang diolah lagi menjadi ‘fried chicken’ pinggir jalan. Ikan busuk yang diolah lagi menjadi siomay ataupun otak-otak. Dan masih banyak lagi.

Pastinya bahan makanan berbahaya di atas akan berdampak buruk bagi kesehatan. Begitu pula berbagai macam bahan tambahan seperti pemanis buatan, pengawet, pemutih, dan pewarna tekstil dapat menyebabkan diare, pusing-pusing, muntah. Kalau dikonsumsi secara terus menerus, berbagai bahan berbahaya itu akan meracuni liver, selain itu juga turut menabung karsinogen dalam tubuh yang dapat menyebabkan penyakit kanker, khususnya kanker usus dan saluran kemih.

Menurut laporan investigasi TV tsb. ‘kenakalan’ para penjual makanan dengan bahan berbahaya ini semata-mata hanyalah untuk mencari keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Jadi hanya karena motif ekonomi mereka tega untuk ‘meracuni’ konsumennya yang notabene adalah fihak yang menjadikan tebal dompet mereka. Luar biasa, tidak ada lagi pertimbangan etika, moral, agama dan nurani. Demi fulus apapun dilakukan dengan menghalalkan segala cara. Sudah sedemikian ‘jahat’ dan rusakkah moral mereka? Silakan disimpulkan sendiri.

Bagaimana dengan peran pemerintah? Walaupun kerap dipaparkan oleh laporan investigasi TV, nampaknya pemerintah ‘tenang-tenang’ saja. Lagi-lagi terjadi ‘pembiaran’. Di era perokonomian bebas ini, masyarakat memang dilepas bebas baik sebagai produsen maupun konsumen yang harus mengurus dirinya sendiri. Paling-paling, sekali-sekali menjelang bulan puasa dan Idul Fitri saja mereka melakukan sidak dan pengawasan terhadap produk makanan. Itu pun biasanya hanya dilakukan secara acak.

Saran saya, tatkala kita hendak menyantap makanan, jajanan, ataupun wisata kuliner alangkah baiknya bila mulai mengkritisi dan menelusuri : siapa, darimana, apa, bagaimana makanan tersebut dihasilkan. Ingat jangan asal embat dan tanpa pernah berfikir terlalu jauh. Jangan hanya mempertanyakan masalah halal-haram atau higienis apa tidaknya, tapi cobalah untuk lebih kritis dengan apa yang hendak kita santap. Sebagai konsumen, kita harus lebih selektif untuk memilih. Kalau mau main aman, barangkali ada baiknya juga bila kita membatasi kebiasaan jajan atau makan di tempat yang sembarangan. Pilihlah makanan atau jajan di tempat yang lebih layak dan terpercaya.

Wednesday, May 11, 2011

Memahami 'Sholat Khusyu'



Suatu hari, teman saya Dody, tiba-tiba tergerak hatinya untuk ikutan sholat Jumat di masjid, padahal selama ini, temen yang satu ini justru terkenal paling ‘murtad’ dalam urusan beragama. Entahlah, saya sendiri kurang yakin apakah sebelumnya pernah sholat apa nggak. Jangankan sholat Jumat, yang wajib sholat 5 waktu aja kagak pernah dijalankan. Tapi it’s oke, mungkin aja dia ingin berubah untuk menjadi lebih baik, kenapa tidak.

Begitulah, usai sholat Jumat dia pun dengan polosnya menceritakan pengalamannya. “Gile… itu baca doanya panjang amat, sampai ngelamun jorok gue nungguinnya…”, ujarnya. “Udah gitu… begitu abis sholat, eh… itu sebelah kanan, kiri, depan belakang gue pada ngajakin salaman, ngajak kenalan… emang tampang gue kayak selebrity siapa ya, kok pada kepingin kenalan…”.

Surprise saya mendengar komentarnya, ketahuan banget kalau sepanjang usianya nggak pernah sholat Jumat ke mesjid. Saya pun langsung mengkomentarinya, “Dasar Islam KTP loe… mereka itu bukan ngajak kenalan tau..., itu emang adab di masjid saat selesai sholat berjamaah untuk saling bersilaturahim. Kalau masalah konsen… jangankan lu, gue aja juga masih susah njalaninnya…”.

Sementara lupain dulu si Dody yang emang jauh dari agamanya, saya justru kepingin membahas masalah sholat yang kurang ‘konsentrasi’ tsb. Nah, pernah nggak mengalami masalah seperti saya? Merasa bahwa saat menjalankan ibadah sholat kok kayaknya kurang khusyu’. Terkadang muncul pertanyaan dari dalam diri, “Sholat saya diterima Allah SWT apa nggak ya?”.

Gara-gara kepingin bisa sholat khusyu’, saya coba browsing ke mbah google, juga membeli beberapa buku yang khusus membahas masalah sholat khusyu’, dan berdiskusi dengan pak ustadz musholla komplek saya. Karena keinginan untuk memahami sholat khusyu itu yang seperti apa, adalah bagian dari keinginan hati ini yang selalu menuntut untuk selalu belajar Islam dengan lebih baik.

Sebelumnya, pemahaman saya terhadap sholat khusyu’ itu lebih ke bagaimana saat menjalankan sholat sepenuhnya hati, pikiran & perasaan kita betul-betul terfokus dan pasrahkan hanya pada Allah SWT semata. Dan seolah-olah hanya ada saya & Allah SWT saja, tanpa peduli dengan keadaan di sekitar. Sehingga hanya saat menjalankan sholat malam [tahajud] kekhusyu’an itu baru bisa saya dapatkan, karena terbantu dengan suasana malam yang hening & sepi, terus niat untuk benar-benar focus pada sholat yang dijalankan.

Sedangkan yang paling tidak merasa khusyu itu justru kalau sedang menjalankan sholat berjamaah di masjid ataupun di Musholla. Entahlah, tatkala Imam sholat membacakan surat Al-Quran yang panjang [yang saya belum tahu suratnya], pastinya pikiran saya langsung melayang ke mana-mana.

Inilah mungkin kesalahan utama saya selama ini. Banyak surat-surat Al-Quran yang panjang yang tidak saya kenali. Jujur saja, masalah ini memang yang paling sering saya alami. Apalagi kalau saat sholat berjamaah, kemudian terdengar suara-suara lain di luar sholat, langsung konsentrasi buyar dech.
Berbeda dengan saat saya melakukan sholat sendirian, jelas terasa lebih dapet khusyu’nya, karena sambil membaca surat, pikiran saya selalu mencoba untuk memahami artinya. Lha masalahnya, laki-laki itu diwajibkan untuk selalu menjalankan sholat secara berjamaah. Nah lho.

Hasil dari googling dan baca beberapa buku, yang dimaksud khusyu’ itu ternyata bukan seperti kontemplasi ataupun keterputusan dengan dunia nyata saat menjalankan sholat. Tapi lebih ke masalah pikiran yang focus atau konsentrasi ke niat untuk menjalankan ibadah sholat itu sendiri. Jadi bukan dengan memejamkan mata atau telinga agar tidak melihat atau mendengar apapun alias menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Justru sebaliknya, khusyu’ di sini, meskipun focus & konsentrasi pada ibadah sholat kita harus tetap sadar serta peduli atas apa yang terjadi pada dirinya, lingkungannya berikut situasi yang ada pada saat itu.

Menurut ustadz saya, kalau kepingin sholat khusyu’ ya belajar dari sholatnya nabi Muhammad SAW. Karena kita tidak dibenarkan untuk membuat standar sendiri menyangkut kekhusyu’an sholat ini. Bahkan Rasulullah SAW juga bersabda “Sholatlah kalian sebagimana kalian melihat aku sholat.”
Untuk itu kata pak ustadz lebih lanjut, “Sholat khusyu’ itu perlu dipahami secara lebih luas. Sebab kenyataannya begitu banyak fakta yang menunjukkan bahwa nabi Muhammad SAW melakukan sholat dengan berbagai keadaan.”

Berikut ini gambarannya :

1. Nabi Muhammad SAW pernah sholat sambil menggendong bayi
2. Nabi Muhammad SAW pernah memperlama sujudnya karena ada cucunya yang naik ke atas punggungnya.
3. Nabi Muhammad SAW pernah mempercepat sholatnya saat beliau menjadi imam, karena mendengar ada anak kecil menangis.
4. Nabi Muhammad SAW memerintahkan orang yang sholat untuk mencegah seseorang lewat di depannya.
5. Nabi Muhammad SAW saat menjadi imam juga pernah lupa gerakan sholat tertentu, bahkan salah mentapkan jumlah bilangan rakaat sehingga beliau melakukan sujud sahwi.
6. Nabi Muhammad SAW pernah memerintahkan orang yang sholat untuk membunuh ular serta hewan liar lainnya.
7. Nabi Muhammad SAW mensyariatkan fath kepada makmum bila mendapati imam yang lupa bacaan atau gerakan, sedangkan buat jamaah wanita cukup dengan bertepuk tangan.
8. Nabi Muhammad SAW pernah melakukan sholat di atas kendaraan [hewan tunggangan/unta] yang berjalan, baik sholat wajib maupun sunnah, beliau juga membiarkan tunggangannya menghadap kemana pun.
9. Nabi Muhammad SAW juga pernah memindahkan tubuh atau kaki istrinya saat sedang sholat karena dianggap menghalangi tempat sholatnya.
10. Nabi Muhammad SAW mengajarkan orang yang sholat untuk menjawab salam dengan isyarat.

Hasil berdiskusi panjang lebar dengan pak ustadz, berkesimpulan bahwa sholat khusyu’ itu tidak harus selalu berupa kontemplasi ataupun membuat pelakunya seolah meninggalkan alam nyata seolah ingin menembus ruang dan waktu bertemu Allah SWT. Karena kalau kita kaitkan dengan fakta sholat Nabi Muhammad SAW seperti di atas, beliau justru tidak pernah ‘kehilangan kesadaran’ saat sholat. Nabi Muhammad SAW juga tidak pernah memanjangkan sholat saat menjadi imam. Kalau pun pernah diriwayatkan beliau pernah sholat sampai bengkak kakinya, maka itu bukan sholat wajib tetapi sholat sunnah. Dan panjangnya sholat beliau bukannya karena beliau ‘meninggalkan alam nyata’ lantaran berkontemplasi, tetapi karena beliau membaca ayat-ayat Al-Quran dengan jumlah yang banyak. Jadi sholat khusyu’ itu adalah sholat yang mengikuti sholatnya Nabi Muhammad SAW.

Ternyata mencoba untuk berusaha sholat khusyu’ itu juga tidak mudah. Saat sholat sendirian memang lumayan bisa. Tapi saat sholat berjamaah, tetap saja terkadang pikiran kita sesaat melayang ke mana-mana, terus pas sadar, berusaha lagi untuk konsentrasi mendengarkan bacaan Imam. Begitulah yang terjadi. Namun hingga tulisan ini dibuat, saya tetap semangat untuk berusaha sholat berjamaah dengan khusyu’. Entahlah, apakah sholat saya diterima Allah SWT atau tidak, yang penting tetap berusaha dengan sepenuh hati. Karena saya percaya dan seyakin-yakinnya bahwa Allah itu Maha Mengetahui. Allahu Akbar.

Monday, May 02, 2011

Kerja tanpa kantor




Sewaktu asyik ngopi di Starbuck, tiba-tiba datang 3 orang teman yang biasa kerja bareng tim saya kalau kita sedang produksi iklan TV. Mereka bertiga adalah pemilik sebuah production house yang cukup ternama di Jakarta. Sudah banyak produksi iklan yang mereka garap dan kebanyakan brand dengan nama besar semua. Akhirnya kita pun gabung di satu meja. Sama seperti saya, mereka pun langsung mengeluarkan laptop masing-masing dan mulai asyik browsing dengan memanfaatkan WiFi yang ada di kafe tsb.

Sebenarnya kalau ngomongin nongkrongnya sih biasa saja. Tetapi yang bikin nongkrong di Starbuck ini jadi menarik untuk diceritakan karena mereka bukan sekadar nongkrong, tapi sedang bekerja menggarap persiapan produksi sebuah iklan brand terkenal. Lho kok bisa? Inilah asyiknya kalau kita bisa memanfaatkan canggihnya teknologi terkini untuk memfasilitasi pekerjaan dan profesi kita. Canggihnya teknologi informasi & kemudahan akses internet secara perlahan tapi pasti memang berhasil menggeser paradigma lama tentang konsep bekerja.

Dulu, yang namanya bekerja itu kan dianalogikan harus ada ruangan kantornya, ada meja kerjanya, ada telpon, fax, komputer, tumpukan file, dsb. Saat ini, dengan maraknya koneksi internet di mana-mana, konsep bekerja untuk beberapa profesi nampaknya sudah tidak memerlukan kantor secara fisik lagi. Karena ngantornya bisa di mana saja [di rumah, kafe, mall, di lapangan, dsb], kapan saja, dan dengan siapa saja, asalkan masih ada handphone dan jaringan koneksi internetnya. Tentunya, ini akan banyak menghemat overhead cost perusahaan, karena bisa jadi tidak perlu menyediakan ruang kantor yang luas dan kelengkapannya, sekaligus juga bisa hemat listrik maupun biaya telpon dan fax.

Untuk orang macam saya yang susah berangkat ngantor pagi, jelas menguntungkan. Karena bisa berangkat ke tempat ‘ketemuan’ agak siangan setelah padatnya lalu lintas Jakarta mulai berkurang. Jadi nggak banyak buang waktu terjebak kemacetan yang akhir-akhir ini bikin frustasi warga Jakarta dan sekitarnya. Sehingga energy yang ada benar-benar dapat digunakan untuk full konsentrasi memikirkan dan menyelesaikan pekerjaan yang sedang digarap.

Memang, khususnya untuk profesi praktisi periklanan seperti saya, seharusnya tidak diperlukan kantor secara fisik lagi. Untuk bikin konsep kreatif iklan, tim kreatif bisa kerja sambil ngopi di Starbuck. Kita satu tim bisa berdiskusi sambil cari referensi gambar via internet. Kalau perlu menggali brief dari client pun bisa kita omongin by email atau malah chatting, maupun BBM-an via Blackberry yang lagi ngetrend. Kemudian bila konsep kreatif iklan sudah siap tinggal bikin janji untuk ‘ketemuan’ guna mempresentasikan kerjaan tsb. Malah kalau client-nya lagi sibuk dinas ke luar kota atau ke luar negeri, dan kerjaan harus segera dapat persetujuan kita bisa kirim by email, kemudian diskusi untuk masukan maupun koreksi bisa menggunakan fasilitas chatting atau email. Praktis kan.


Canggihnya teknologi informatika, selain bisa merubah konsep ngantor yang sebenarnya tidak memerlukan ruangan fisik lagi, juga nantinya akan merubah paradigma terkait dengan jam ngantor yang saat ini umum berlaku. Karena mereka yang memanfaatkan koneksi nirkabel ini secara tidak sadar jam ngantornya justru menjadi semakin panjang.

Fakta terkini, sejak maraknya jejaring sosial melalui Twitter, Facebook, maupun BBM-an melalui Blackberry, lalu lintas komunikasi pekerjaan justru menjadi semakin intens, mudah dan cepat, juga sudah menabrak aturan jam kantor konvensional eight to five [8.00-17-00]. Bayangkan saja beberapa teman yang bekerja di bidang marketing, usai sholat shubuh sudah harus ngecek email, menjawab BBM-an, lanjut dengan saat berangkat ke kantor juga disibukkan dengan urusan pekerjaan melalui Blackberry-nya. Begitu pula saat pulang kantor di mobil pun masih sibuk BBM-an [dengan timnya, supplier, jaringan distribusinya, agency iklannya, pihak media, dll.] untuk membahas pekerjaan launching produk yang menjadi tanggung jawabnya.

Menyikapi trend seperti ini seharusnya pihak perusahaan bersyukur, karena merekalah sejatinya yang paling diuntungkan. Kalau tadinya segala urusan pekerjaan hanya bisa diselesaikan di kantor dan hanya pada jam kantor, kini bisa di mana saja dan kapan saja karena ‘dunia ada dalam genggaman tangan’. Hanya meeting tertentu saja yang mungkin masih memerlukan kehadiran fisik dan tergantung dengan ruang kantor dan waktu yang telah disepakati.

Ironisnya, menurut beberapa teman yang curhat, banyak perusahaan yang justru masih berkutat dengan paradigma konvensional dalam menyikapi laju perkembangan teknologi informasi ini. Mereka yang jam ngantornya via dunia maya lebih dari 8 jam sehari, sering mendapatkan teguran dari HRD nya gara-gara sering terlambat datang ke kantor. Dan gara-gara penertiban absensi ini kinerjanya dianggap buruk, meskipun semua pekerjaan yang di-handle-nya beres dan mencapai target yang lebih. Coba simak keluhan salah seorang teman, “Gue tuh baru tutup laptop jam 11 malem, tapi Blackberry gue on terus, bangun jam 5 pagi udah nyalain laptop lagi buat ngecek email dsb. Udah gitu pas jalan ngantor pun gue masih mikirin proposal launching product. Masak dinilai kinerja gue kurang bagus, gara-gara telat 15 menit?”. Nah lho.

Barangkali gambaran dalam tulisan ini bisa menjadi masukan sekaligus tantangan menarik bagi para konsultan perusahaan, para owner dan CEO, dan juga para ahli yang ada di HRD perusahaan. Bagaimana perusahaan bisa mengakomodir kebutuhan para profesionalnya dalam perubahan dunia kerja yang menjadi semakin cepat dan tanpa batas ruang dan waktu lagi ini. Mungkin perlu juga dipikirkan cara penilaian kinerja dengan sistem yang lebih baru dan canggih dalam menyikapi fenomena para ‘knowledge workers’ yang kesana-kemari bawa laptop di backpack-nya karena memang mereka ‘terpaksa’ masih harus bekerja setelah usai jam kantor di ruang-ruang publik seperti kafe & mal.

Friday, April 29, 2011

Pentingnya peka terhadap peringatan dini tubuh Anda




Allah telah menciptakan tubuh manusia begitu sempurna. Sebagai mana kita ketahui bersama, semua bagian dari tubuh manusia diciptakan memiliki manfaat masing-masing yang pada akhirnya menyatu secara keseluruhan menunjang mekanisme hidup manusia. Mulai yang tampak luar, dari ujung rambut hingga ujung kaki semua berfungsi untuk menunjang kehidupan. Belum lagi bagian dalam tubuh termasuk seluruh organ ‘jeroan’, semuanya memiliki fungsi masing-masing. Bahkan hingga bagian sel paling terkecil pun diciptakan memiliki fungsi yang tak kalah pentingnya.

Hebatnya lagi, saat bagian tubuh ada yang mengalami gangguan kesehatan, maka mekanisme alami dari tubuh akan secara otomatis mengirimkan sinyal peringatan dini. Misal ketika tubuh kurang air muncul rasa haus, ketika butuh makan sinyal tubuh mengirim sinyal berupa rasa lapar terkadang campur sedikit pusing di kepala. Saat tubuh kekurangan oksigen juga akan muncul sedikit pusing di belakang kepala, dsb. Peringatan dini dari tubuh inilah yang sebaiknya harus kita kenali dan respon secepatnya agar kondisi tubuh kita tetap bisa menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya alias kita tetap dalam kondisi prima & sehat.

Saya pernah mengalami sering pusing di pelipis yang muncul berulang secara berkesinambungan. Awalnya sich nggak begitu terasa sakitnya karena munculnya sebentar. Tapi lama kelamaan sakit kepalanya mulai terasa berat, dan intensitas munculnya juga semakin sering. Tadinya saya kira hanya sakit kepala biasa saja, lalu saya minum kopi beres. Selama sebulan begitu terus, tapi perlahan ketambahan dengan rahang atas kiri ikutan nyeri. Periksalah ke klinik gigi Angkatan Udara yang ada di Halim Perdanakusumah. Dicek semua gigi tidak ada yang retak dan bagus semua. Tapi tambah hari kok sakitnya dan pusingnya kian berat, kalau tadinya ‘ngopi’ bisa enakan, sekarang mesti minum obat-obat jenis pain killer [penahan rasa sakit].

Suatu malam saya mampir ke dokter gigi baru [cewek] di komplek saya, iseng mau cari second opinion. Begitu juga hasil diagnosenya, gigi saya dalam kondisi bagus semuanya. Saat ngobrol itulah ia nggak sengaja ngomong,
“Kena sinusitis kali pak? Coba aja konsultasi ke dokter THT.”
Sampai di rumah langsung saya googling, ketemulah gejala sakit seperti yang saya alami itu biasanya ‘sinusitis maksilaris’.

Besoknya, langsung periksa ke dokter ahli THT, begitu dimasuki kamera kecil lewat lubang hidung ketahuan kalau rongga sinus maksila [rongga pipi] kirinya ketutup nanah. Nanah pun coba disemprot. Treatment dari dokter, selama 2 minggu diobati antibiotik dosis tinggi dan pain killer. Memang selama diobati rasa nyeri di geraham atas & sakit kepala berangsur hilang. Tapi setelah obatnya habis, seminggu kemudian rasa sakit kepala di pelipis kiri & nyeri geraham kambuh lagi. Balik lagi ke dokter THT, diperiksa lagi, dan rongga sinusnya tertutup lagi.

Dokter pun memutuskan untuk ambil tindakan terakhir yaitu operasi. Besoknya disuruh rontgen. Hasil rontgen memperkuat dokter untuk tindakan operasi. Begitulah akhirnya, nginap 5 hari di RS untuk operasi sinusitis dan pemulihan. Dokter menunjukkan hasil sumbatan yang diambil dari rongga sinus tersebut ke saya, bentuknya seperti gumpalan batu karang. Sebenarnya kalau di awal mulai terasa pusing & geraham nyeri itu langsung ke THT, harusnya bisa disemprot terus diobati jadi nggak sampai mengeras seperti karang. Mungkin juga nggak perlu harus sampai operasi. Anyway, barangkali memang jalannya sudah harus begini. Makanya, penting sekali kita mengenali peringatan dini yang disampaikan oleh tubuh kita. Sering pusing harus segera diselidiki kira-kira penyebabnya apa. Kalau nggak ketemu ya mau nggak mau harus ke dokter.

Adik saya, ketahuan mengidap kanker colon atau usus besar juga ketika sudah terlambat [stadium 4] dan akhirnya harus operasi untuk dibuang usus besarnya, kemudian anusnya dipindah di perut dengan kantong pembuangan seperti dora emon. Ketika sering mengalami masalah sulit buang air besar [BAB] juga dianggapnya masalah sakit perut biasa, dan nggak pernah kepikir untuk memeriksakan ke dokter. Beberapa tahun kemudian ketika nggak bisa BAB sama sekali, terus di-endoskopi usus besarnya, ternyata telah tertutup oleh kanker ganas. Tindakan terakhir... ya harus dioperasi. Terus yang bikin repot dan nambah stress, kan harus terusan kemoterapi untuk mematikan sel kanker yang terlanjur menyebar. Tahun berikutnya, di buli-buli saluran kencingnya ditemukan benjolan tumor juga. Operasi lagi, saluran air seninya juga dipindah langsung ke perut dengan kantong juga. Kebayang kan bagaimana beratnya mengalami cobaan dari Allah SWT yang seperti ini?

Tetangga saya yang namanya pak Rudy adalah perokok berat namun begitu nampak sehat dan kuat fisiknya. Beliau jarang mengeluh sakit. Tetapi kurang peka terhadap sinyal atau peringatan dini yang disampaikan oleh tubuhnya. Kalau merasa sakit kepala atau kurang enak badannya biasanya minum kopi dan istirahat. Saya yakin ketika saat mulai mengidap kanker, pasti tubuhnya sudah mengirim sinyal atau peringatan dini. Tapi bisa jadi karena fisiknya yang kuat, jadinya tidak terasa atau malah mungkin nggak dirasakan. Dianggap wajar-wajar aja. Sampai suatu hari tiba-tiba terpeleset dan terjatuh di kamar mandi. Nah ketika di RS diperiksa penyebab hilangnya keseimbangan tubuhnya, barulah ketahuan kalau mengidap kanker paru-paru yang sudah stadium 4. Ironisnya, sejak dirawat di RS gara-gara jatuh di kamar mandi tsb., beliau nggak pulang lagi hingga sebulan kemudian meninggal dunia.

Itulah sebabnya, saya selalu berusaha untuk peka merasakan dan mencari tahu sinyal ataupun peringatan dini yang disampaikan oleh tubuh. Saat bangun tidur, sambil masih rebahan dan bersyukur ke hadirat Allah SWT, saya selalu mencoba merasakan seluruh bagian dari tubuh saya. Ada yang terasa aneh atau nggak biasa apa nggak? Saya coba fokuskan dan rasakan mulai ujung kaki hingga kepala. Sakit kepala kah? Telinga berdenging kah? Atau bagian mana saja yang terasa sakit atau pun pegal-pegal [lengan, kaki, pinggang, dll.] atau yang terasa nggak seperti biasanya.

Dan inilah beberapa sinyal tubuh yang ada pada tubuh saya yang berhasil saya kenali.
-Persendian sering terasa sakit seperti ditusuk-tusuk jarum, ternyata itu sinyal bahwa asam urat lagi tinggi.
-Sering kesemutan di bagian lengan dan kaki, terus sering pegal di dekat leher dan pundak, ternyata itu sinyal tubuh bahwa kolesterol saya sedang tinggi, jadinya darahnya kental & bikin gak lancar.
-Tenggorokan terasa sakit saat menelan makanan, ternyata ada luka di tenggorokan dan biasanya akan disusul dengan flu berat.
-Saat pinggang terasa sakit dan air seni kita berwarna coklat atau kuning gelap itu pertanda ginjal kita bekerja terlalu keras karena kita kekurangan air minum.

Sinyal tubuh atau pertanda dini yang disampaikan tubuh kita ternyata mempunyai arti yang khusus, namun sering kali kita tidak menyadarinya karena terlalu seringnya kita mengabaikan. Tentunya, dengan memahami sinyal yang diberikan oleh tubuh, kita dapat lebih peduli dengan kesehatan tubuh sedini mungkin juga.

Kenapa saya mengingatkan agar kita peka terhadap sinyal dari tubuh? Karena kecenderungannya mereka yang masih berada pada usia produktif, aktif, suka kerja keras [workaholic] seringkali mengabaikan peringatan dini dari tubuhnya. Misal, karena dikejar deadline, meski sudah ngantuk, pusing dan badannya lelah masih tetap memaksakan diri untuk bekerja keras. Tubuhnya di’dopping’ dengan suplemen energy. Sakit kepalanya diatasi sendiri dengan minum kopi atau bahkan minum obat sakit kepala. Kalau hal ini dilakukan sekali-sekali barangkali tidak berdampak pada kesehatan tubuh. Tapi kalau setiap hari, bisa jadi ada masanya akan jatuh sakit. Semoga sharing kali ini bermanfaat.

Friday, April 15, 2011

Yang ‘dimiskinkan’ justru yang bikin kaya




Kenapa iklan rokok di TV selalu tayangnya di atas pk. 21.00? Kenapa selalu iklan rokok yang tayang di TV dilarang untuk menampilkan bentuk kemasannya secara utuh? Kenapa dalam iklan rokok yang ditayangkan tidak boleh ada adegan orang yang asyik menikmati rokok? Kenapa juga iklan rokok di gambar terakhirnya selalu diwajibkan memuat himbauan tentang bahaya merokok? Banyak larangannya kan. Tapi coba cermati, semakin banyak larangan iklan rokok di TV justru semakin kreatif iklan rokok yang ditayangkan.

Kalau kita kritisi, berbagai regulasi yang dikenakan kepada iklan rokok sejatinya adalah salah satu usaha pemerintah untuk ‘sedikit’ mengurangi dampak negatif iklan rokok. Khususnya terhadap anak-anak di bawah umur. Pengandaiannya di atas jam segitu para bocah diharapkan sudah berangkat tidur. Padahal kan belum tentu juga. Kenapa dampak negatif tersebut hanya sedikit dikurangi, inilah ironisnya kebijakan di negri ini. Pemasukan dari cukai rokok yang besar terlanjur menjadi andalan untuk pemasukan sumber dana pemerintah. Ditambah lagi lobi yang sangat kuat dari para pemilik industri rokok nasional. Jadinya dampak negatif keseluruhan yang lebih besar ‘tertutupi’ dengan kepentingan politis ini.

Lalu, siapa sih para penikmat rokok di negeri ini? Fakta yang bisa dilihat sehari-hari, di negeri ini, tidak pernah ada batasan umur berapa boleh merokok, siapa saja bebas menikmatinya [di luar negeri 18 tahun ke atas baru boleh merokok]. Rokok pun bisa dibeli di mana saja dengan mudahnya, oleh mereka yang memerlukannya. Bahkan di Malang pernah ketahuan oleh media seorang balita yang sudah kecanduan rokok. Sudah biasa pula kita jumpai anak berseragam sekolah juga merokok. Para wanita masa kini yang juga tidak merasa sungkan untuk merokok di tempat umum seperti foodcourt , kafe atau pun ruang publik lainnya.

Entahlah, kebiasaan merokok kok sepertinya sudah begitu membudaya di kalangan masyarakat kita. Nggak percaya? Coba saja perhatikan, begitu keluar dari rumah,di jalan kita sudah dihadang oleh asap rokok para pejalan kaki. Di dalam angkutan umum, di mall, di kafe, di kantor, pokoknya di seluruh penjuru dan di setiap sudut manapun pasti kita temui para penikmat rokok.

Anehnya, meskipun harga sebungkus rokok relatif mahal harganya, para penikmat rokok ini selalu menganggarkan duitnya untuk membeli rokok, setelah kebutuhan utama akan makan & minum telah terpenuhi. Penting banget kan! Nggak percaya? Lihat saja para supir angkutan umum yang ibaratnya berpenghasilan harian yang tak menentu sekaligus pas-pasan, lebih mementingkan membeli sebungkus rokok ketimbang untuk biaya sekolah atau susu anaknya. Lebih besar penghasilan untuk membeli rokok dibanding untuk meningkatkan gizi keluarga ataupun peningkatan pendidikan. Makanya, masyarakat miskin seperti mereka menjadi semakin sulit keluar dari lingkaran setan kemiskinan.

Meskipun mereka tahu bahwa rokok bisa menyebabkan penyakit jantung, kanker paru-paru, stroke, cacat dsb. tetap saja tidak membuat para perokok takut ataupun jera lantas berhenti merokok. Dan kalau sudah menderita penyakit-penyakit tsb. akan lebih banyak lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan. Nah lho. Terus dari mana biaya untuk berobat tersebut? Untuk memenuhi kebutuhan utama akan makan dan minum saja susah. Emangnya kalau sudah sakit ada pengobatan gratis dari pemilik pabrik rokok? No way... lah!

Dan sebagian besar profil para perokok memang berasal dari generasi muda dan masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah. Fakta inilah yang menarik untuk diungkapkan. Karena para perokok yang hakekatnya adalah menjadi korban yang ‘dimiskinkan’ oleh rokok, justru merekalah yang menjadikan ‘kaya’ para konglomerat pemilik pabrik rokok di negeri ini. Fakta yang ada, beberapa konglomerat terkaya di negeri ini kan sumber utama penghasilannya dari industri rokok yang dimilikinya.

Terus bagaimana peran pemerintah? Seperti yang telah disinggung di awal tulisan, keberpihakan pemerintah memang ada tapi hanya ‘setengah hati’. Hanya kepingin ‘sedikit’ saja mengurangi bahaya merokok untuk para balita dan anak-anak. Dan seperti yang sudah-sudah, sesuai hukum pasar bebas [ciri khas ekonomi Neo-Lib], rakyat Indonesia memang dilepas begitu saja untuk menjadi ‘konsumen’ yang baik bagi industri rokok nasional. Uruslah diri sendiri masing-masing. Kalau toh ada masyarakat yang tambah miskin ataupun ‘penyakitan’ gara-gara rokok ya tanggunglah sendiri resikonya. Kan di setiap kemasan rokok sudah ada peringatan akan bahaya merokok : MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN PADA JANIN.

Tuesday, April 12, 2011

Pemimpin yang amanah




Sulit memisahkan kegiatan Basket dengan anakku Wira. Sejak dipercaya oleh teman-temannya sebagai kapten di tim basket sekolahnya, anakku Wira benar-benar serius untuk menjalankan amanah tsb. Dia canangkan targetnya untuk bisa menjadi juara basket antar SMA se-DKI Jakarta. Hampir keseluruhan waktunya dihabiskan untuk latihan basket di sekolahnya dan di klubnya Roda Tama. Setiap hari pulang ke rumah rata-rata di atas pk. 21.00 malam. Begitulah kalau saya dan ibunya menasehati untuk mengurangi kegiatan basketnya, selalu dijawab bahwa obsesinya di Basket belum kesampaian jadi nggak mungkin untuk nyantai.

Dalam skala kecil, di tim basket SMA, inilah gambaran seorang calon pemimpin masa depan. Diam-diam saya bangga dengan keseriusan anakku Wira untuk menjalankan amanahnya sebagai kapten tim Basket di sekolahnya. Sebagai pemimpin yang diberi amanah memang sudah seharusnya untuk bertindak seperti yang diharapkan oleh semua orang yang memberikan amanah. Semua tenaga dan pikirannya dicurahkan agar tim yang dipimpinnya bisa meraih prestasi. Disiplin selalu untuk melaksanakan latihan bersama, berusaha keras untuk membangun kebersamaan & kekompakan timnya dan tegas terhadap anggota tim yang kurang tertib.

Begitulah, akhirnya saat ada kejuaraan basket antar SMA se-Jakarta Timur yang diselenggarakan UNJ, tim basket yang dipimpin Wira pun ikut berpartisipasi untuk berlaga. Setelah selama 3 minggu bertanding untuk penyisihan, akhirnya tim basket SMA-nya Wira berhasil melaju ke babak final. Dia pun minta bapaknya untuk mendoakan agar dalam pertandingannyafinal kali ini bisa menyabet juara.

Hasilnya, ketika malam hari Wira pulang dari pertandingan nampak tertunduk lesu sambil berjalan dengan langkah gontai, melapor kalau dia ‘gagal’ membawa timnya meraih juara alias cuma menjadi runner up saja. Lalu aku pun sambil memeluk menepuk bahunya bicara sejujurnya,
“Buat bapak, kamu lah juaranya, nak... Sebagai kapten kamu kan sudah berusaha maksimal untuk menjalankan amanah, tapi... ingat dalam kehidupan ini selalu ada ‘rahasia di balik rahasia’ yang kita sebagai manusia tak akan pernah mampu menguaknya...”.
Wira pun menimpali.
“Next time we will be better...”

Dalam hati saya sangat kagum dengan jiwa kepimimpinannya. Meskipun masih SMA, dan dalam sekala kecil, Wira begitu nampak kuat karakter kepimimpinannya saat menjalankan amanah yang dibebankan di pundaknya. Dari kacamata saya, Wira is better than beberapa pemimpin negeri ini atau pun para anggota DPR yang seharusnya menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya. Kita semua tahu bagaimana mereka-mereka itu Cuma asyik dengan diri sendiri dan partainya. Seolah lupa dengan tanggungjawabnya untuk mengurus rakyat yang kian terpuruk kehidupannya, malahan ‘ngeyel’ untuk membangun gedung yang bakal menyedot duit rakyat trilyunan rupiah. Malah belum lama ini ada seorang anggota dewan yang terhormat, yang diberi amanah oleh rakyat malah asyik sendiri menikmati situs porno saat sidang ‘pariporno’ berlangsung. Konyolnya,oknumnya justru yang berasal dari partai yang pernah saya kagumi jargon politiknya.

Kayaknya, mereka-mereka yang seperti ini yang perlu belajar kepimimpinan dari anak saya Wira. Wualah koq malah ngelantur...

Tak lupa saya mendoakan, semoga kelak bila sudah terjun di dalam kehidupan masa depannya Wira tetap bisa memegang prinsip & jiwa kepemimpinan yang amanah. Amin.

Sunday, April 10, 2011

‘Urip iku ming mampir ngombe’




Hari senin Shubuh 4 April yang lalu, ada masuk di HP saya SMS ucapan Selamat Milad dari beberapa teman dekat Ridho dari radio RKM, Royo, Yani, dll. Juga dari kakak-kakak saya dan famili dari istri yang kebetulan tahu tanggal kelahiran saya, terima kasih ya semuanya.

Ada juga SMS dari kedua anak saya yang memang sedang tidak tinggal serumah dengan saya. Selain memberikan kado yang diam-diam sudah dititipkan ke ibunya, anakku Wira yang sedang sekolah di Singapura seperti biasa hanya mengucapkan selamat UlTah dengan bahasa yang singkat & padat. Lain dengan anakku Adhika yang kost dekat kampus FE-UI Depok, selain mengucapkan Selamat Milad, ditambahi dengan harapannya agar Bapaknya lebih rajin beribadah. Nah, inilah yang terus menggelitik bathin saya hingga saat ini. Rupanya anak pertamaku ini begitu sadar banget bahwa ayahnya sudah mulai berangkat tua.

Nah gara-gara ucapan dan harapan di hari ‘penting’ dari Adhika ini maka tiba-tiba jadi kepingin sharing tentang umur manusia dan kehidupan dunia yang terasa singkat ini. Sekaligus mengingatkan diri pribadi dan Anda semua bahwa ternyata ‘waktu memang begitu cepat berlalu’, so jangan sampai kita terlena oleh waktu dan ternyata mendadak telah tiba ‘waktu’nya.

Pernah denger pepatah Jawa ‘urip iku ming mampir ngombe’ kan? Kalau kita terjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah ‘hidup itu hanya mampir/singgah untuk minum’, maksudnya manusia hidup di dunia ini sebenarnya hanya sebentar saja, atau singkat waktunya. Begitulah kira-kira, maksud pepatah Jawa di atas.

Dulu jaman nenek saya masih ada memang sering keluar pepatah tsb. Atau kalau pas pengajian di musholla komplek saya, pak ustadz M Rhoib juga sering mengingatkan tentang ungkapan itu agar kita semua jamaahnya memanfaatkan waktu yang masih ada sebaik-baiknya untuk beribadah sebanyak-banyaknya sebagai bekal kita di akhirat nanti, karena jangan sampai pas saatnya tiba, kita ‘dipanggil’ Allah SWT, tabungan amal & ibadah kita ternyata kurang banyak. Jadi janganlah kita hanya keasyikan mengumpulkan ‘bekal’ duniawi semata, tapi juga harus ingat akan ‘bekal’ yang akan dibawa ke akhirat nanti. Selama ini sih saya memang ‘cuek’ aja, karena saya jalani kehidupan ini seperti biasa, pokoknya ngalir aja terus.

Begitulah, tiba-tiba di bulan April ini, pepatah Jawa tsb. begitu terasa maknanya buat diri pribadi saya. Saat merenungkan makna milad kali ini, koq terasa banget benarnya tentang ‘hidup di dunia yang sebentar’ tsb. Karena di bulan kelahiran saya ini, mendadak kesadaran akan umur yang bertambah tua begitu mengusik pikiran saya. Sudah cukupkah bekal saya kelak? Apakah hidup saya selama ini sudah berada di ‘jalan yang benar’?

Dan yang namanya hidup di dunia yang selama ini saya jalani memang terasa banget ‘cepat’nya. Rasanya kayak baru kemarin atau belum lama lulus SMA di Madiun, lulus kuliah di Surabaya. Rasanya kayak belum lama menikah. Rasanya kayak baru kemarin nungguin istri melahirkan di sebuah RS Bersalin di Rawamangun. Rasanya kayak belum lama menikmati menggendong bayi yang lucu. Rasanya kayak belum lama Adhika & Wira masih bisa bergelayutan di tangan kiri & kanan. Rasanya kayak barusan Adhika & Wira masih di TK, SD dan SMP. Tahu-tahu mereka berdua koq sudah besar badannya dan beranjak dewasa, satu kuliah yang lain SMA. Tahu-tahu umurku koq sudah tua. Tahu-tahu keriput di wajah pun mulai nampak banyak. Rambut uban pun sudah mulai nampak tersebar di kepala. Kondisi fisik juga mulai terasa gampang lelah.

Dan masih banyak lagi tanda-tanda fisik akan bertambahnya usia yang diistilahkan oleh istri saya sebagai ‘surat’ peringatan dari Gusti Allah SWT. Kayaknya, lagu kebangsaanku ‘Forever Young’-nya Rod Steward mesti diganti sama lagu “Tombo Ati”nya Opick nich. Bener lho, jiwa menjadi terasa lebih tenteram ketika kita mencoba untuk memahami makna terdalamnya.

Dari hasil perenungan Milad kali ini, saya juga bersyukur sekali ke hadirat Allah SWT karena hingga saat ini masih diberi nikmat sehat, nikmat limpahan rejeki, dan segala sesuatu yang terbaik yang selama ini telah saya terima dan nikmati bersama keluarga. Dan tak lupa, dalam hati saya berjanji dengan diri sendiri untuk selalu menjalankan semua perintah agama Islam beserta ajaran Nabi Muhammad SAW dengan sebaik-baiknya, juga memanfaatkan waktu yang masih ada ini untuk lebih banyak beramal dan beribadah di jalan Allah SWT. Dan memohon agar ‘sisa waktu’ yang ada ini, hidup saya dapat bermanfaat serta berguna untuk kemashalatan orang banyak. Amin.