Ini ada tulisan bagus dari temen milis TDA, semoga bermanfaat.
Endoz
Pengantar:
Pak Afrizal & Rekan members TDA,
Saya selalu terharu setiap ada rekan yang memutuskan
full TDA. Saya teringat kembali sewaktu saya
memutuskan hal yang sama. Betapa sesunggunya bukan hal
yang mudah.
Tulisan ini saya "kado" kan untuk Pak Afrizal yg telah
memutuskan full TDA. Great decision Pak. See you on
the top!
Salam FUNTastic!
Fauzi Rachmanto
============ ========= ========= =======
10 Pertanyaan Paling Menantang
Sewaktu menikah, kata orang kami berdua merupakan
“pasangan ideal”, karena istri saya pegawai negeri dan
saya karyawan bank swasta. Sudah punya karir, punya
anak dua, punya rumah, punya mobil, kurang apa? Begitu
kebanyakan teman dan keluarga bilang ke saya ketika
saya memutuskan menjadi pengusaha. Paling susah jika
ada acara kumpul2 keluarga atau teman. Biasanya muncul
pertanyaan ataupun pernyataan luar biasa yg rada2
susah dijawab. Ada yang sempat saya jawab, ada yang
bikin saya speechless. Berikut diantaranya:
1. Kenapa sih jadi pengusaha?
Jawab: Karena terlanjur! Hahaha … Jujur saja, tadinya
karena terlanjur bikin perusahaan, jadi terpaksa
serius. Ya begitulah hidup, kadang2 ada saja yang
terjadi diluar rencana. Tapi setelah saya renungkan,
menjadi pengusaha adalah pilihan hidup saya. Saya
tetap menghormati pilihan hidup orang lain. Jadi
karyawan juga tidak ada salahnya. Tapi saya pribadi
pilih jadi pengusaha. Karena hanya dengan menjadi
pengusaha, saya bisa melakukan banyak hal yang tidak
mungkin saya lakukan ketika menjadi karyawan,
misalnya:
- Memiliki potensi pendapatan yang sangat besar.
Sementara kalau terus jadi karyawan, setinggi apapun
jabatan saya pendapatan saya terbatas.
- Hanya dengan menjadi pengusaha saya dapat memberikan
kesempatan buat orang lain untuk mencari nafkah di
perusahaan saya. Istilahnya, bisa menjadi saluran
rizki buat orang lain.
- Lebih banyak waktu bersama anak2 dan keluarga saya,
sementara pendapatan terus mengalir. Sementara kalau
jadi karyawan waktu saya habis tersita untuk
perusahaan.
2. Bukankah hidup pengusaha itu susah, tidak bahagia?
Jawab: Ya, ada pengusaha yang tidak bahagia. Banyak
juga karyawan yang tidak bahagia. Bahagia sebetulnya
kan bukan soal profesi kita apa. Bahagia adalah
pilihan hati kita mau bahagia atau tidak. Saya sih
pilih bahagia.
3. Tapi kan pusing dan capek mikirin usaha?
Jawab: Ya, memang pusing kalau cuma dipikirin. Makanya
usaha tidak untuk dipikirin saja, tapi juga dijalanin.
Kalau sudah dijalanin sih pusing nya ilang kok.
Diganti sama deg2 an ... hehehe. Dulu sebelum tahu
ilmu nya saya juga capek. Dulu tidak ada delegasi ke
tim, jadi semua saya jalanin sendiri. Saya ikutan dari
mulai jualan, melakukan implementasi, sampai nagih.
Caaape’ deeeh. Tapi sekarang dengan delegasi ke tim,
alhamdulillah saya bisa lebih rileks.
4. Jadi pengusaha kan bisa bangkrut?
Jawab: Semua ada risiko nya. Jadi pengusaha penuh
risiko. Jadi karyawan apalagi. Malah, yang harusnya
paling takut perusahaan bangkrut itu justru para
karyawan. Kalau perusahaan bangkrut, karyawan langsung
dipecat. Kalau perusahaan saya bangkrut, belum tentu
saya pribadi ikut bangkrut. Lagi pula saya sedang
belajar menciptakan multiple streams of income, supaya
sumber pendapatan saya tidak hanya dari satu usaha
saja.
5. Gak takut banyak saingan?
Jawab: Dulu ya, saya takut saingan. Tapi setelah
dijalani ternyata persaingan itu tidak menakutkan sama
sekali. Malah positif buat kita karena memacu kita
untuk selalu lebih baik. Kalau kita selalu lebih baik
dari saingan, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.
6. Jadi karyawan kan lebih tentram?
Jawab: Ya ini kan soal pilihan. Mungkin jaman orang
tua kita dulu menjadi karyawan cukup menentramkan dari
segi finansial. Tapi dengan laju inflasi, semakin
besarnya biaya sekolah, semakin tingginya biaya hidup,
dan sebagainya, kalau saya terus jadi karyawan, justru
saya tidak akan bisa tentram lagi ketika anak2 saya
kuliah nanti.
7. Sudah punya karir kok ditinggalkan, apa tidak
bersyukur kepada Tuhan?
Jawab: Saya sangat bersyukur atas apa yang Allah telah
berikan kepada saya. Bahkan, dengan menjadi pengusaha
saya semakin memahami arti bersyukur. Dulu, saya
tinggal menunggu tanggal 25 semua beres, menghabiskan
nya juga enteng saja. Kini, saya semakin dapat
mensyukuri setiap rupiah yang saya terima. Betapa
dibalik setiap rupiah tadi adalah rizki dari yang Maha
Penyayang. Lagipula, menjadi pengusaha memungkinkan
saya mengembangkan seluruh potensi yang Allah sudah
berikan kepada saya. Itulah salah satu cara saya
bersyukur.
8. Gak punya darah pengusaha kok jadi pengusaha?
Jawab: Ya, dulu memang kebanyakan pengusaha
tradisional hanya meneruskan usaha orang tua nya. Maka
muncul mitos soal darah pengusaha ini. Kenyataannya
sekarang siapapun bisa jadi pengusaha. Karena
mengelola usaha itu ternyata ada ilmunya dan bisa
dipelajari. Saya memang masih belajar, tapi siapapun
yg mau belajar insyaAllah pasti bisa.
9. Kenapa gak merangkap saja punya usaha tapi tetap
jadi karyawan?
Jawab: Ya. Mungkin saja begitu. Saya juga pernah
begitu. Tapi kok malah tidak maksimal. Usaha tidak
berkembang, jadi karyawan juga gak tenang. Mungkin
masalahnya di fokus. Kalau saya bekerja untuk
perusahaan orang lain, semestinya dedikasi saya 100%
untuk perusahaan itu. Dengan “nyambi“, saya kok merasa
“selingkuh“ gitu. Itu kalau saya lho, mungkin orang
lain tidak.
10. Kok sering dirumah, sebenernya kerjanya apa sih?
Jawab: Hehehe ... begini Oom, memang jaman sekarang
sudah maju. Pertama, jasa yang perusahaan saya berikan
memang lebih banyak pakai otak daripada otot, jadi
saya bisa menyelesaikan sebagian besar kerjaan saya
dimanapun lewat internet. Kedua, sebagian besar
kerjaan yang butuh kehadiran fisik sudah saya
delegasikan pada tim saya yang lebih muda dan lebih
pinter, dan saya bayar mahal pula. Jadi saya tinggal
memonitor saja. Memang sekarang mungkin aneh, tapi
makin lama akan makin banyak orang yang bekerja
seperti saya.
http://fauzirachman to.blogspot. com
blog ini hanyalah wadah 'curhat' & sharing seorang endro wm sayidno berkaitan dengan Madiun, Surabaya, Jatim, kewirausahaan, pengembangan diri, hobi, koleksi, keluarga, perkawanan, pendidikan, pekerjaan, peluang usaha, trend masa kini, dsb.
Monday, March 12, 2007
Tuesday, September 26, 2006
‘Main Sepeda’-nya jauh banget
Sepeda adalah alat transportasi kita saat masih duduk di bangku SD. Ke mana pun pergi, pokoknya asal keluar dari rumah, pasti kita bawa sepeda. Jaman itu memang belum ada yang diperbolehkan untuk naik sepeda motor. Walaupun banyak di antara temen-temen yang di rumahnya sudah ada sepeda motor. Yang paling sering kita bermain sepeda adalah mengelilingi komplek perumahan PG Soedhono yang memang asyik untuk bermain sepeda. Selain banyak pohon yang rindang, jalanannya pun juga beraspal mulus dan terawat. Malahan sering kita gunakan untuk ajang adu balap.
Biasanya kalau masa liburan datang, dan bosan dengan suasana di komplek, kita selalu punya ide baru untuk bersepeda keluar komplek ke desa-desa yang ada di luar kompleks sambil menikmati suasana pedesaan lengkap dengan pemandangan sawahnya. Nanti kalau kelelahan terus mampir beli dawet atau es cendol di warung di pinggir sawah. Wuah asyiik banget lho. [yang begini nggak mungkin terulang lagi]
Pernah juga kita ramai-ramai bersepeda ke PG Poerwodadi yang jaraknya sekitar 6 km dari komplek kita. Biasanya pas pulangnya kita lemes dan kelelahan.Malahan kita juga pernah bersepeda ke PG Rejosarie, padahal jaraknya dari rumah kita sekitar 14 km. Lebih konyol lagi pulangnya kita lewat kota Magetan yang jaraknya dari rumah kita bisa sekitar 25 km-an. Bukan main. Padahal kita semua masih duduk di bangku SD lho. Entahlah waktu itu kok kayaknya kita semangat aja main sepeda sejauh itu. Padahal yang udah-udah hasilnya cuma kecapaian. Terus terang kalau sekarang disuruh mengulangi kayaknya nggak sanggup lah. Jangankan naik sepeda, naik sepeda motor juga ogah.
Mungkin semangat pantang menyerah yang memang sudah terlatih sejak kecil ini yang membuat saya dan teman-teman kecil saya di hari tuanya juga nggak gampang nyerah dengan keadaan. Kita semua ternyata bisa survive dan bisa hidup layak saat ini, meskipun jaman semakin susah. Persoalannya adalah bagaimana menularkan semangat pantang menyerah ini ke putra-putri kita yang notabene adalah anak metropolitan yang biasa hidup enak, dan nggak pernah mengalami jaman susah seperti orang tuanya.
Biasanya kalau masa liburan datang, dan bosan dengan suasana di komplek, kita selalu punya ide baru untuk bersepeda keluar komplek ke desa-desa yang ada di luar kompleks sambil menikmati suasana pedesaan lengkap dengan pemandangan sawahnya. Nanti kalau kelelahan terus mampir beli dawet atau es cendol di warung di pinggir sawah. Wuah asyiik banget lho. [yang begini nggak mungkin terulang lagi]
Pernah juga kita ramai-ramai bersepeda ke PG Poerwodadi yang jaraknya sekitar 6 km dari komplek kita. Biasanya pas pulangnya kita lemes dan kelelahan.Malahan kita juga pernah bersepeda ke PG Rejosarie, padahal jaraknya dari rumah kita sekitar 14 km. Lebih konyol lagi pulangnya kita lewat kota Magetan yang jaraknya dari rumah kita bisa sekitar 25 km-an. Bukan main. Padahal kita semua masih duduk di bangku SD lho. Entahlah waktu itu kok kayaknya kita semangat aja main sepeda sejauh itu. Padahal yang udah-udah hasilnya cuma kecapaian. Terus terang kalau sekarang disuruh mengulangi kayaknya nggak sanggup lah. Jangankan naik sepeda, naik sepeda motor juga ogah.
Mungkin semangat pantang menyerah yang memang sudah terlatih sejak kecil ini yang membuat saya dan teman-teman kecil saya di hari tuanya juga nggak gampang nyerah dengan keadaan. Kita semua ternyata bisa survive dan bisa hidup layak saat ini, meskipun jaman semakin susah. Persoalannya adalah bagaimana menularkan semangat pantang menyerah ini ke putra-putri kita yang notabene adalah anak metropolitan yang biasa hidup enak, dan nggak pernah mengalami jaman susah seperti orang tuanya.
Desir Cemara PG Soedhono
Hampir seluruh masa kecil dan remajaku habis di perumahan PG Soedhono, Madiun. Tak heran kalau sampai saat ini suasana rumah & kompleks tsb. masih sering terkenang saat ngelamun dan terbawa dalam mimpiku. Apalagi kedua orang tuaku meninggal di rumah yang ada di kompleks itu juga. Boleh dibilang PG Soedhono adalah bagian dari sejarah hidupku.
Saat aku masih kuliah di Surabaya dan awal-awal tinggal di Jakarta, kerinduan akan bernostalgia dengan PG Soedhono masih sering terobati. Karena hampir setahun sekali aku masih dapat berkunjung ke sana ke rumah mas Mulyadi & mbak Mien yang pernah lama menjadi Administrateur PG Soedhono. Namun, sejak mereka pindah ke Surabaya, aku sudah tidak lagi bisa mampir & bernostalgia di komp. PG Soedhono tsb. Barangkali liburan Lebaran tahun 2006, kalau ada rejeki & umur bisa pulang ke Blitar & Madiun aku akan mampir dan melihat-lihat seperti apa PG Soedhono saat ini.
Entah apa yang membuat aku selalu terkenang, tapi bila mengenang selintas masa kecilku sewaktu tinggal di komplek ini yang keluar pertama dalam ingatan adalah suara desir cemara terkena angin. Memang komplek ini di pinggir jalannya dikelilingi dengan pohon cemara yang tinggi. Sehingga kalau malam terkena tiupan angin suaranya betul-betul berdesis bagaikan simponi alam tersendiri. Sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Yang jelas sewaktu kita masih tinggal di situ, suara pohon cemara terkena tiupan angina ini bisa menjadi terapi tersendiri bagi kita-kita yang doyan begadang pada waktu itu.
Yang juga nggak mungkin dilupakan adalah bunyi sirene tanda pergantian shift pekerja pada saat musim giling. Bunyi sirene atau pluit ini begitu keras dan dapat didengar hingga sejauh 3 km, karena memang ditujukan untuk para pegawai yang tinggalnya di sekitar lingkungan pabrik gula bahwa tiba saatnya pergantian jam kerja. Sirene biasanya dibunyikan pk. 5.00, 13.30, dan 22.00. Kalau pagi bunyi sirene juga bisa jadi jam bagi kita untuk bangun dan bersiap pergi sekolah, karena jam 6.00 bis sekolah sudah berangkat. Sirene jam 13.30, biasanya jadi tanda buat kita [yang kalau siang sepulang sekolah suka kelayapan] untuk mulai keluar dari rumah masing-masing dan ngumpul di tempat biasa kita main bersama. Terus dilanjut dengan main bola, nongkrong di tenesban, sepedahan, nongkrong di tukang rujak, dsb. Sedangkan sirene pk. 22.00, sewaktu kita sudah SMA juga jadi tanda mau terus ‘ngalong’ begadang atau pulang tidur. Tapi yang sering kalau malem minggu kita melek sampai pagi.
Selain dua hal di atas, kereta uap dengan lori tebunya juga menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bagaimana suara kereta uap tsb. berusaha menarik rangkaian lori yang memuat tebu meruapakan pemandangan sehari-hari di PG Soedhono di musim giling. Waktu kecil kalau pas rangkaian lori tebui ini datang dan antri hendak ditimbang, itulah saat terbaik buat kita-kita untuk mencari tebu yang masih fresh. Tebu yang baru ditebang memang kadar gulanya masih sangat tinggi. Dikupasnya juga masih mudah, dan begitu kita gigit, kress langsung terasa manis & segarnya. [kapan bisa jadi kecil lagi dan mengulangi kejadian ini].
Yang juga menjadi pemandangan khas di saat musim giling di PG Soedhono adalah debu hitam buangan dari cerobong asap pabrik. Hampir seluruh komplek termasuk perumahannya dihitamkan oleh debu ini. Karena debu yang keluar dari cerobong asap begitu terkena angina akan menyebar merata ke seluruh wilayah pabrik hingga radius 3 km, tergantung dengan arah angin bertiup. Tak heran bila kita main bola atau tennis seluruh tubuh kita jadi hitam semua. Tapi ya beginilah, justru ini yang menjadi kenangan yang tak terlupakan sampai tua nanti.
Saat aku masih kuliah di Surabaya dan awal-awal tinggal di Jakarta, kerinduan akan bernostalgia dengan PG Soedhono masih sering terobati. Karena hampir setahun sekali aku masih dapat berkunjung ke sana ke rumah mas Mulyadi & mbak Mien yang pernah lama menjadi Administrateur PG Soedhono. Namun, sejak mereka pindah ke Surabaya, aku sudah tidak lagi bisa mampir & bernostalgia di komp. PG Soedhono tsb. Barangkali liburan Lebaran tahun 2006, kalau ada rejeki & umur bisa pulang ke Blitar & Madiun aku akan mampir dan melihat-lihat seperti apa PG Soedhono saat ini.
Entah apa yang membuat aku selalu terkenang, tapi bila mengenang selintas masa kecilku sewaktu tinggal di komplek ini yang keluar pertama dalam ingatan adalah suara desir cemara terkena angin. Memang komplek ini di pinggir jalannya dikelilingi dengan pohon cemara yang tinggi. Sehingga kalau malam terkena tiupan angin suaranya betul-betul berdesis bagaikan simponi alam tersendiri. Sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Yang jelas sewaktu kita masih tinggal di situ, suara pohon cemara terkena tiupan angina ini bisa menjadi terapi tersendiri bagi kita-kita yang doyan begadang pada waktu itu.
Yang juga nggak mungkin dilupakan adalah bunyi sirene tanda pergantian shift pekerja pada saat musim giling. Bunyi sirene atau pluit ini begitu keras dan dapat didengar hingga sejauh 3 km, karena memang ditujukan untuk para pegawai yang tinggalnya di sekitar lingkungan pabrik gula bahwa tiba saatnya pergantian jam kerja. Sirene biasanya dibunyikan pk. 5.00, 13.30, dan 22.00. Kalau pagi bunyi sirene juga bisa jadi jam bagi kita untuk bangun dan bersiap pergi sekolah, karena jam 6.00 bis sekolah sudah berangkat. Sirene jam 13.30, biasanya jadi tanda buat kita [yang kalau siang sepulang sekolah suka kelayapan] untuk mulai keluar dari rumah masing-masing dan ngumpul di tempat biasa kita main bersama. Terus dilanjut dengan main bola, nongkrong di tenesban, sepedahan, nongkrong di tukang rujak, dsb. Sedangkan sirene pk. 22.00, sewaktu kita sudah SMA juga jadi tanda mau terus ‘ngalong’ begadang atau pulang tidur. Tapi yang sering kalau malem minggu kita melek sampai pagi.
Selain dua hal di atas, kereta uap dengan lori tebunya juga menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bagaimana suara kereta uap tsb. berusaha menarik rangkaian lori yang memuat tebu meruapakan pemandangan sehari-hari di PG Soedhono di musim giling. Waktu kecil kalau pas rangkaian lori tebui ini datang dan antri hendak ditimbang, itulah saat terbaik buat kita-kita untuk mencari tebu yang masih fresh. Tebu yang baru ditebang memang kadar gulanya masih sangat tinggi. Dikupasnya juga masih mudah, dan begitu kita gigit, kress langsung terasa manis & segarnya. [kapan bisa jadi kecil lagi dan mengulangi kejadian ini].
Yang juga menjadi pemandangan khas di saat musim giling di PG Soedhono adalah debu hitam buangan dari cerobong asap pabrik. Hampir seluruh komplek termasuk perumahannya dihitamkan oleh debu ini. Karena debu yang keluar dari cerobong asap begitu terkena angina akan menyebar merata ke seluruh wilayah pabrik hingga radius 3 km, tergantung dengan arah angin bertiup. Tak heran bila kita main bola atau tennis seluruh tubuh kita jadi hitam semua. Tapi ya beginilah, justru ini yang menjadi kenangan yang tak terlupakan sampai tua nanti.
Friday, September 22, 2006
I like Friday & I hate Monday
Apa sih bedanya hari Jumat dan hari Senin? Kalau buat kita-kita yang masih berstatus karyawan dan hari Sabtunya libur jelas feel-nya atau ‘rasa di hati’ antara Jumat dan Senin sangat berbeda. [Kalau jaman kita masih sekolah dulu kayaknya yang paling oke cuma hari Sabtu ya].
Di hari Jumat, mulai bangun pagi kita sudah merasa nyaman dan tenang, karena membayangkan hari terakhir kerja di minggu ini. Perasaan kita sepertinya lepas dan nggak ada beban sambil membayangkan besok kita bisa terlepas dari rutinitas kerja yang membebani setiap hari. [beginilah nasib karyawan, makanya buruan punya usaha sendiri dan sukses]. Usai sholat Jumat, rasa senang di hati [karena besok libur] kian menguat. Terus membayangkan berbagai hal yang bisa dikerjakan di hari Sabtu & Minggu. Bisa main sama anak-anak, males-malesan, olah raga, jalan-jalan sama keluarga, dsb. Pokoknya, I like Monday lah!
Kebalikannya, di hari Minggu malam, setelah kita puas dengan kegiatan week end, tiba-tiba kita disadarkan bahwa esok hari ‘rutinitas dan beban kerja’ telah menunggu dengan segala permasalahannya selama 5 hari ke depan. Kita merasa bagaikan hendak memasuki ‘penjara’ yang namanya ‘rutinitas kerja’. Bayangin, nyebelin nggak sih usai bangun pagi, nganter sekolah anak-anak terus berangkat ke kantor lantas ketemu dengan yang namanya kesemrawutan & kemacetan jalanan ibukota. Nyampe kantor mesti mikirin kerjaan apa saja yang mesti diberesin hari Senin, Selasa, dst. Belum lagi kerjaan yang nggak pernah ada habisnya. Sampai nanti hari Jumat lagi. Jadinya, ya I hate Monday!
Btw, kalau dipikirin terus yang namanya rutinitas memang bikin terasa hidup kita ‘kurang berkualitas’. Makanya, lebih baik kita mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT, bahwa hingga saat ini kita masih diberi nikmat sehat, rejeki yang cukup sehingga masih dapat mengarungi dinamika kehidupan ini. Think positive lah! Bagaimana pun kita menyikapinya yang namanya kehidupan akan terus mengalir. Lebih baik kita memandang dan menghadapi kehidupan ini dengan energy positive.
Di hari Jumat, mulai bangun pagi kita sudah merasa nyaman dan tenang, karena membayangkan hari terakhir kerja di minggu ini. Perasaan kita sepertinya lepas dan nggak ada beban sambil membayangkan besok kita bisa terlepas dari rutinitas kerja yang membebani setiap hari. [beginilah nasib karyawan, makanya buruan punya usaha sendiri dan sukses]. Usai sholat Jumat, rasa senang di hati [karena besok libur] kian menguat. Terus membayangkan berbagai hal yang bisa dikerjakan di hari Sabtu & Minggu. Bisa main sama anak-anak, males-malesan, olah raga, jalan-jalan sama keluarga, dsb. Pokoknya, I like Monday lah!
Kebalikannya, di hari Minggu malam, setelah kita puas dengan kegiatan week end, tiba-tiba kita disadarkan bahwa esok hari ‘rutinitas dan beban kerja’ telah menunggu dengan segala permasalahannya selama 5 hari ke depan. Kita merasa bagaikan hendak memasuki ‘penjara’ yang namanya ‘rutinitas kerja’. Bayangin, nyebelin nggak sih usai bangun pagi, nganter sekolah anak-anak terus berangkat ke kantor lantas ketemu dengan yang namanya kesemrawutan & kemacetan jalanan ibukota. Nyampe kantor mesti mikirin kerjaan apa saja yang mesti diberesin hari Senin, Selasa, dst. Belum lagi kerjaan yang nggak pernah ada habisnya. Sampai nanti hari Jumat lagi. Jadinya, ya I hate Monday!
Btw, kalau dipikirin terus yang namanya rutinitas memang bikin terasa hidup kita ‘kurang berkualitas’. Makanya, lebih baik kita mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT, bahwa hingga saat ini kita masih diberi nikmat sehat, rejeki yang cukup sehingga masih dapat mengarungi dinamika kehidupan ini. Think positive lah! Bagaimana pun kita menyikapinya yang namanya kehidupan akan terus mengalir. Lebih baik kita memandang dan menghadapi kehidupan ini dengan energy positive.
Thursday, September 21, 2006
Akhir-akhir ini Jakarta macet banget
Temans, hidup di Jakarta yang bebannya sudah ‘sangat berat’ akhir-akhir ini menjadi bertambah berat lagi. Kalau biasanya untuk pergi ke kantor butuh waktu 1,5 jam, kini butuh waktu paling cepet 2,5 jam. Begitu juga pulangnya. Kebayang nggak gimana stressnya bermacet ria di jalanan ibukota yang semrawutnya ‘ruaarr biasa’. Rasanya kok jadi tua di jalan. Ini semua cuma gara-gara dibangunnya beberapa jalur busway dan monorail yang tak kunjung selesai.
Yang heran, jalan tikus yang biasanya mampu menyelamatkan kita bila terhadang kemacetan justru sekarang malah mampet. Kalau dipikirin kayaknya jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dengan panjang jalannya memang sudah tidak sebanding lagi. Setiap ada persimpangan lampu merah, pasti antriannya bisa sampai 700 m-an. Angkutan umum yang berhenti seenaknya, sepeda motor yang jumlahnya juga bertambah banyak juga menambah parah kondisi macetnya jalan-jalan di Jakarta. Yang namanya jalan tol bebas hambatan juga sami mawon, mau jam sibuk ataupun bukan jam sibuk kondisinya selalu padat merayap.
Kondisi ini sama persis seperti Bangkok 5 tahun yang lalu. Sampai-sampai ada mobil yang menyediakan pispot untuk pipis di mobil, kalau terjebak macet yang berkepanjangan. Namun berkat usaha keras mereka membangun underpass, jembatan laying, fasilitas MRT dan monorail, Bangkok sekarang (setahun terakhir) relative terbebas dari kemacetan. Karena masyarakat Bangkok akhirnya mau beralih dari kendaraan pribadi ke MRT & monorail yang nyaman dan aman. Saat ini, kondisi antrian di lampu lalu lintas paling-paling hanya sekitar 200 m –an, itupun di saat jam sibuk.
Rupanya pemerintah DKI Jakarta terinspirasi dengan keberhasilan Bangkok tetapi dikombinasi dengan keberhasilan Bogota dengan Buswaynya. Makanya mengejar target tahun 2007 proyek monorail dan busway mesti kelar. Mungkinkah masyarakat Jakarta yang biasa enak naik kendaraan pribadi mau pindah ke busway & monorail? Entahlah, kita lihat saja nanti. Yang jelas, seminggu yang lalu saya pernah dari daerah Kemang mau ke Pusat Grosir Tanah Abang (waktu itu macet banget) akhirnya mobil saya parkir di Pasaraya Blok M, lalu pindah nyobain naik busway turun Sarinah Thamrin.
Kesan pertama saya, busway nyaman banget, AC dingin, interior bersih, yang naik juga bersih-bersih, dan cepat sampai (blok M ke Sarinah cuma ½ jam bayangin kalau nyetir sendiri). Dalam benak saya, nantinya kalau jalur busway & monorail siap boleh juga dicoba memanfaatkannya sebagai transportasi murah dan cepat. Persoalannya, mungkinkah di tahun-tahun ke depan nanti kenyamanan busway bisa bertahan seperti sekarang? Karena biasanya di Jakarta yang namanya fasilitas umum itu tidak pernah bertahan lama. Selalu rusak & tak terawat dengan baik.
BTW, salut juga sama gubernur Sutiyoso yang berani melawan arus & tidak popular dengan ide buswaynya. Kita tunggu hasilnya. Saat ini masyarakat Jakarta harus mau berkorban bermacet ria di jalan demi masa depan yang bakalan nyaman. Bukankah untuk mendapatkan kenikmatan kita harus berkorban terlebih dahulu.
Yang heran, jalan tikus yang biasanya mampu menyelamatkan kita bila terhadang kemacetan justru sekarang malah mampet. Kalau dipikirin kayaknya jumlah kendaraan bermotor di Jakarta dengan panjang jalannya memang sudah tidak sebanding lagi. Setiap ada persimpangan lampu merah, pasti antriannya bisa sampai 700 m-an. Angkutan umum yang berhenti seenaknya, sepeda motor yang jumlahnya juga bertambah banyak juga menambah parah kondisi macetnya jalan-jalan di Jakarta. Yang namanya jalan tol bebas hambatan juga sami mawon, mau jam sibuk ataupun bukan jam sibuk kondisinya selalu padat merayap.
Kondisi ini sama persis seperti Bangkok 5 tahun yang lalu. Sampai-sampai ada mobil yang menyediakan pispot untuk pipis di mobil, kalau terjebak macet yang berkepanjangan. Namun berkat usaha keras mereka membangun underpass, jembatan laying, fasilitas MRT dan monorail, Bangkok sekarang (setahun terakhir) relative terbebas dari kemacetan. Karena masyarakat Bangkok akhirnya mau beralih dari kendaraan pribadi ke MRT & monorail yang nyaman dan aman. Saat ini, kondisi antrian di lampu lalu lintas paling-paling hanya sekitar 200 m –an, itupun di saat jam sibuk.
Rupanya pemerintah DKI Jakarta terinspirasi dengan keberhasilan Bangkok tetapi dikombinasi dengan keberhasilan Bogota dengan Buswaynya. Makanya mengejar target tahun 2007 proyek monorail dan busway mesti kelar. Mungkinkah masyarakat Jakarta yang biasa enak naik kendaraan pribadi mau pindah ke busway & monorail? Entahlah, kita lihat saja nanti. Yang jelas, seminggu yang lalu saya pernah dari daerah Kemang mau ke Pusat Grosir Tanah Abang (waktu itu macet banget) akhirnya mobil saya parkir di Pasaraya Blok M, lalu pindah nyobain naik busway turun Sarinah Thamrin.
Kesan pertama saya, busway nyaman banget, AC dingin, interior bersih, yang naik juga bersih-bersih, dan cepat sampai (blok M ke Sarinah cuma ½ jam bayangin kalau nyetir sendiri). Dalam benak saya, nantinya kalau jalur busway & monorail siap boleh juga dicoba memanfaatkannya sebagai transportasi murah dan cepat. Persoalannya, mungkinkah di tahun-tahun ke depan nanti kenyamanan busway bisa bertahan seperti sekarang? Karena biasanya di Jakarta yang namanya fasilitas umum itu tidak pernah bertahan lama. Selalu rusak & tak terawat dengan baik.
BTW, salut juga sama gubernur Sutiyoso yang berani melawan arus & tidak popular dengan ide buswaynya. Kita tunggu hasilnya. Saat ini masyarakat Jakarta harus mau berkorban bermacet ria di jalan demi masa depan yang bakalan nyaman. Bukankah untuk mendapatkan kenikmatan kita harus berkorban terlebih dahulu.
Wednesday, August 09, 2006
Tak mampu aku menghitung 'Nikmat dari Allah"
Setiap pagi, begitu bangun tidur dan usai menjalankan sholat, aku selalu duduk & merenung sejenak tentang apa saja yang menyangkut kehidupan. Baik yang telah berlalu maupun yang akan dating. Selesai menjalankan ritual merenung sejenak, barulah mulai merencanakan apa yang hendak dilakukan seharian nanti.
Pagi ini, tiba-tiba terpikir dalam benak ‘betapa beruntungnya aku’ sebagai manusia yang diberi kenikmatan hidup sedemikian rupa oleh Allah SWT. Hidupku selama ini kok rasanya mengalir begitu saja bagaikan air. Dan selama ini tanpa sadar begitu tak terhingga ‘nikmat yang diberikan Allah SWT’ kepadaku, Amin.
Secara perlahan kucoba mulai menghitung nikmat Allah tsb. Bayangkan, begitu bangun tidur, udara pagi nan segar telah tersedia begitu banyaknya untuk dihirup tanpa harus susah payah mencarinya. Saat minum air putih segelas pun langsung terasa nikmatnya diberi kesehatan sehingga masih dapat menjalani hidup ini. Melihat istri dan anak-anak yang menyusul bangun juga langsung mengingatkanku bahwa aku telah diberi nikmat dan kepercayaan untuk membangun keluarga yang sakhinah. Kemudian berlanjut dengan nikmat Allah yang telah memberiku tempat berteduh yang layak untuk keluargaku. Nikmat diberi kemudahan untuk menjemput rejeki melalui pekerjaan kantoran dan usaha sampingan selama ini. Nikmat bisa menikmati makanan halal bersama keluarga. Nikmat bisa menyekolahkan anak-anak. Nikmat diberi umur panjang. Nikmat diberi keselamatan. nikmat ini… nikmat itu… nikmat…nikmat… dst.
Ya Allah sepertinya kok begitu banyak dan begitu melimpah nikmat yang telah Allah berikan kepadaku, kepada keluargaku, kepada seluruh manusia, dan ternyata karena begitu tak terhingganya nikmat yang Allah berikan, sehingga aku pun tak mampu lagi untuk menghitungnya. Sudah seharusnya aku harus mengucap syukur dan terima kasih setiap waktu bila membahas tentang nikmat yang Allah telah berikan.
Tapi jujur saja, sebagai manusia seringkali aku terlewat untuk mengucap syukur & berterima kasih atas nikmat yang telah Allah berikan. Jangankan mengucap syukur dan berterima kasih, menjalankan ibadah yang Allah wajibkan seperti sholat 5 waktu, puasa, zakat, amal, menyantuni anak yatim, piatu dan kaum dhluafa, dll. pun aku belum dapat melaksanakannya dengan baik dan benar. Sungguh aku tidak fair. Allah telah memberikan segalanya untukku, tapi sebaliknya mengucapkan puji syukur dan terima kasih yang begitu mudah untuk dilakukan pun aku sering terlupa dan terlewati.
Ya Allah ampunilah aku. Mudah-mudahan seiiring dengan seringnya aku merenung dan mengingat akan tak terhingganya nikmat yang Allah berikan kepadaku, aku akan sering untuk mengucap syukur dan terima kasih dan dapat melaksanakan segala yang diwajibkan untuk ku. Amin.
Pagi ini, tiba-tiba terpikir dalam benak ‘betapa beruntungnya aku’ sebagai manusia yang diberi kenikmatan hidup sedemikian rupa oleh Allah SWT. Hidupku selama ini kok rasanya mengalir begitu saja bagaikan air. Dan selama ini tanpa sadar begitu tak terhingga ‘nikmat yang diberikan Allah SWT’ kepadaku, Amin.
Secara perlahan kucoba mulai menghitung nikmat Allah tsb. Bayangkan, begitu bangun tidur, udara pagi nan segar telah tersedia begitu banyaknya untuk dihirup tanpa harus susah payah mencarinya. Saat minum air putih segelas pun langsung terasa nikmatnya diberi kesehatan sehingga masih dapat menjalani hidup ini. Melihat istri dan anak-anak yang menyusul bangun juga langsung mengingatkanku bahwa aku telah diberi nikmat dan kepercayaan untuk membangun keluarga yang sakhinah. Kemudian berlanjut dengan nikmat Allah yang telah memberiku tempat berteduh yang layak untuk keluargaku. Nikmat diberi kemudahan untuk menjemput rejeki melalui pekerjaan kantoran dan usaha sampingan selama ini. Nikmat bisa menikmati makanan halal bersama keluarga. Nikmat bisa menyekolahkan anak-anak. Nikmat diberi umur panjang. Nikmat diberi keselamatan. nikmat ini… nikmat itu… nikmat…nikmat… dst.
Ya Allah sepertinya kok begitu banyak dan begitu melimpah nikmat yang telah Allah berikan kepadaku, kepada keluargaku, kepada seluruh manusia, dan ternyata karena begitu tak terhingganya nikmat yang Allah berikan, sehingga aku pun tak mampu lagi untuk menghitungnya. Sudah seharusnya aku harus mengucap syukur dan terima kasih setiap waktu bila membahas tentang nikmat yang Allah telah berikan.
Tapi jujur saja, sebagai manusia seringkali aku terlewat untuk mengucap syukur & berterima kasih atas nikmat yang telah Allah berikan. Jangankan mengucap syukur dan berterima kasih, menjalankan ibadah yang Allah wajibkan seperti sholat 5 waktu, puasa, zakat, amal, menyantuni anak yatim, piatu dan kaum dhluafa, dll. pun aku belum dapat melaksanakannya dengan baik dan benar. Sungguh aku tidak fair. Allah telah memberikan segalanya untukku, tapi sebaliknya mengucapkan puji syukur dan terima kasih yang begitu mudah untuk dilakukan pun aku sering terlupa dan terlewati.
Ya Allah ampunilah aku. Mudah-mudahan seiiring dengan seringnya aku merenung dan mengingat akan tak terhingganya nikmat yang Allah berikan kepadaku, aku akan sering untuk mengucap syukur dan terima kasih dan dapat melaksanakan segala yang diwajibkan untuk ku. Amin.
Friday, August 04, 2006
Colut. Yang ini khas produk Madiun.
Madiun ternyata juga kaya akan istilah. Sewaktu di SMA 1 Madiun dulu ada budaya kontraproduktif yang sering dilakukan oleh para siswanya yaitu ‘colut’. Istilah yang khas Madiun banget ini di kamus Jawa tidak ada. Bagaimana asal pembentukan katanya, dari mana asalnya, siapa penciptanya juga tidak terlacak.
Colut adalah istilah yang digunakan untuk menggantikan kata ‘membolos’ pada jam-jam pelajaran tertentu. Maksudnya, tidak mengikuti jam pelajaran ke 4 & 5 saja misalnya. Biasanya teman-teman ‘colut’ di saat pelajaran yang membosankan atau yang gurunya kurang oke cara mengajarnya. Kapan mulainya budaya ini juga kurang jelas. Tapi di antara teman-teman SMA 1 Madiun pasti banyak yang pernah melakukannya.
Dan budaya inilah yang membuat kualitas SMA 1 Madiun melorot banget pada tahun-tahun itu. Kalau dipikir-pikir lagi ‘gila banget’ ya. Sekolah kok dibuat main-main. Pelajaran kok ditinggalin. Kalau dibandingkan antara nilai positif dan negatifnya kok banyak negatifnya ya. Positifnya, paling membuat ‘jadi berani’ & ‘bandel’ saja. Terus bisa ‘kongkow’ di warungnya pak Jo or rumahnya Yayak. Selebihnya paling ngeluyur nggak karuan keliling kota, Negatifnya, wuah banyak banget. Jadi malu nyebutinnya.
Oke, bagi temen-temen yang dulu suka ‘colut’ nggak perlu berkecil hati, anggap aja itu tahapan sejarah hidup menuju kedewasaan sikap yang memang harus dilalui. Buat saya pribadi budaya ‘colut’ ini menambah kaya liku-liku kehidupan, sekaligus menjadi kenangan yang memorable. Yang penting, kita harus bisa arahkan putra-putri kita saat ini untuk menapaki kehidupan pada track yang baik dan benar. Jangan sampai mereka meniru jejak orang tuanya yang pada ‘bandel’.
Colut adalah istilah yang digunakan untuk menggantikan kata ‘membolos’ pada jam-jam pelajaran tertentu. Maksudnya, tidak mengikuti jam pelajaran ke 4 & 5 saja misalnya. Biasanya teman-teman ‘colut’ di saat pelajaran yang membosankan atau yang gurunya kurang oke cara mengajarnya. Kapan mulainya budaya ini juga kurang jelas. Tapi di antara teman-teman SMA 1 Madiun pasti banyak yang pernah melakukannya.
Dan budaya inilah yang membuat kualitas SMA 1 Madiun melorot banget pada tahun-tahun itu. Kalau dipikir-pikir lagi ‘gila banget’ ya. Sekolah kok dibuat main-main. Pelajaran kok ditinggalin. Kalau dibandingkan antara nilai positif dan negatifnya kok banyak negatifnya ya. Positifnya, paling membuat ‘jadi berani’ & ‘bandel’ saja. Terus bisa ‘kongkow’ di warungnya pak Jo or rumahnya Yayak. Selebihnya paling ngeluyur nggak karuan keliling kota, Negatifnya, wuah banyak banget. Jadi malu nyebutinnya.
Oke, bagi temen-temen yang dulu suka ‘colut’ nggak perlu berkecil hati, anggap aja itu tahapan sejarah hidup menuju kedewasaan sikap yang memang harus dilalui. Buat saya pribadi budaya ‘colut’ ini menambah kaya liku-liku kehidupan, sekaligus menjadi kenangan yang memorable. Yang penting, kita harus bisa arahkan putra-putri kita saat ini untuk menapaki kehidupan pada track yang baik dan benar. Jangan sampai mereka meniru jejak orang tuanya yang pada ‘bandel’.
Subscribe to:
Posts (Atom)