Friday, July 24, 2009

‘Berbagi’ di hari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW






Tanggal 20 Juli 2009 kemarin adalah hari libur nasional berkaitan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tiba-tiba terpikir kok kepingin memaknai hari besar dan bersejarah bagi umat Islam ini dengan sesuatu yang bermanfaat. Memang untuk urusan agama & keimanan, kita sekeluarga berusaha untuk terus belajar dan belajar agar lebih baik lagi. Saya pribadi pun ingin mengajarkan kepada anak-anak apa saja kewajiban kita sebagai muslim yang harus dilakukan, tentunya agar di kemudian hari nanti ketika mereka sudah dewasa dapat menjadi umat muslim yang baik & benar yang selalu mengamalkan ajaran agamanya..

Setelah berembug dengan istri & anak-anak, akhirnya tercetus ide untuk berbagi dengan para anak yatim, piatu, dan dluafha. Mumpung juga masih terkait dengan dimulainya tahun ajaran baru, di mana banyak dari mereka yang membutuhkan biaya extra untuk membeli buku, seragam, dsb.

Dalam satu riwayat Nabi Muhammad SAW menegaskan : “Barang siapa di antara kaum muslimin yang menanggung makan dan minum anak yatim, maka Allah akan memberikan kecukupan penghidupan baginya, serta mengharuskan dia masuk surga kecuali bila dia melakukan dosa yang tak terampuni” [HR Turmudzi].

Mulailah kita bagi tugas. Aku & anak-anak menyiapkan tempat di rumah dan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara ini.. Istri langsung ke rumah ustadz Nur Cahaya, [lulusan UIN yang juga guru ngaji anak-anak di rumah] untuk meminta kesediaannya memberi sedikit tauziah dalam acara tsb.

Sorenya, pk. 16.00 rombongan 20 anak-anak Yatim, Piatu & Dhluafa -- yang ada di sekitar komplek tempat kita tinggal – langsung berdatangan. Acara pun langsung kita mulai. Meskipun duduk berdesakan di karpet di ruang tamu kami, tapi nampak mereka semua gembira menerima undangan keluarga kami.

Ustadz Nur Cahaya memulai siraman rohaninya dengan mengingatkan kita tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, dan pentingnya kita melaksanakan kewajiban Sholat 5 waktu. Kemudian dilanjut dengan cerita menarik yang membangkitkan semangat anak-anak Yatim, Piatu & Dhluafa agar tetap semangat belajar dan tetap focus kepada apa yang dicita-citakannya. Kalau kita mau berusaha pasti nantinya selalu ada jalan untuk meraihnya. Walaupun kondisi ekonomi kita serba minim, yang penting tetap semangat untuk bisa meraih prestasi sehingga nantinya kan bisa mendapat beasiswa dsb. Dan hal itu sudah dibuktikan oleh ustadz Nur Cahaya sendiri yang selalu mendapat beasiswa dan akhirnya telah berhasil lulus kuliah di UIN [Universitas Islam Negeri Jakarta].

Akhirnya, pk. 17.00 acara ini kita tutup dengan doa bersama. Sejujurnya, apa yang kita sekeluarga lakukan saat ini dalam hal berbagi dengan anak yatim, piatu & dhluafa memang belum seberapa bila dibandingkan dengan total kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun setidaknya tujuan saya untuk belajar menjadi umat muslim yang lebih baik dan mempraktekkannya serta mengamalkannya bersama istri & anak-anak bisa terlaksana. Karena buat apa kita menjadi umat muslim kalau tidak pernah mengamalkan ajarannya dalam kehidupan. Ya, Allah maafkan hambamu ini, karena baru 22 anak yatim, piatu & dhluafa yang saat ini bisa saya bantu. Semoga di lain kesempatan atas Kehendak-Mu Ya Allah bisa lebih banyak lagi anak yatim, piatu & dhluafa yang bisa saya bantu. Amin.

Friday, June 19, 2009

Benarkah iklan paling efektif adanya di bioskop?




Masih ngomongin soal iklan, kalau dipikir-pikir, iklan yang paling efektif dalam menjangkau target sasarannya sepertinya adanya di bioskop. Lho kok bisa?

Begini penjelasannya. Kita semua tahu, tatkala di bioskop hendak memutar film, seperti biasa selalu ada serangkaian pesan iklan yang diputar untuk para pemirsa bioskop. Nah, sebagai penonton tentunya kita tidak bisa ‘lari’ ataupun menghindar dari ‘serangan’ pesan iklan tsb. dan mau nggak mau akan melihatnya. Kalau nggak mau melihat paling bisanya Cuma tutup mata, tapi telinga kan masih mendengarkan pesan iklannya. Ingat, Cuma di bioskop tempat di mana pemirsanya tidak bisa mengontrol iklan yang ditayangkan. Bandingkan dengan keefektifan dari iklan TV, di mana dengan begitu mudahnya pemirsa menghindar dari rangkaian pesan iklan.

Lebih dari itu, bagi pemasar yang target audience-nya ‘orang muda’, bioskop juga sangat tepat sasaran. Lihat saja tatkala, ada film bagus yang diputar, selalu banyak penontonnya berasal dari kalangan orang muda ini. Nah bagi para pemasar yang produknya menyasar kalangan orang muda mulailah untuk mempertimbangkan media bioskop.

Kelebihan lainnya, saat film yang diputar termasuk kategori film best seller, biasanya mampu menyedot jumlah penonton yang spektakuler. Bahkan akhir-akhir ini beberapa film local juga berhasil menarik penonton hingga jutaan orang. Khabarnya film Ayat-ayat Cinta ditonton hingga 2 juta orang lebih. Laskar Pelangi malah lebih dari itu. Bagi para pemasar data ini jelas menjadi menarik. Karena ada ‘kepastian’ bahwa iklan yang ditayangkan ditonton oleh pemirsa yang akurasinya bisa dipertanggungjawabkan. Lagi-lagi coba bandingkan dengan iklan di TV di mana begitu mudahnya pemirsa ‘menghindar’ dari tayangan iklan.

Dari sisi cost, bioskop juga jauh lebih murah dibanding iklan di TV. Malah saya yakin bila film yang jumlah penontonnya hingga jutaan, pastinya cost per rupiah yang dikeluarkan untuk beriklan bila dibagi dengan jumlah penontonnya menjadi sangat reliable, masuk akal, murah meriah, dan yang lebih penting tepat sasaran. Bieberapa dari klien saya juga mulai tertarik untuk menayangkan iklannya di bioskop. Khususnya untuk pemutaran film Ketika Cinta Bertasbih, yang diprediksi oleh para pengamat film Indonesia bakal ditonton oleh lebih dari 2 juta orang.

Jadi menurut saya, saat ini seharusnya bioskop bisa menjadi alternative terbaik bagi para pemasar untuk menyampaikan pesan produknya dengan tingkat efektifitas yang cukup tinggi. Namun pendapat saya ini hanyalah berangkat dari asumsi lho… karena kalau mau tahu lebih pasti seyogyanya dilakukan riset yang cukup mendalam. Tapi feeling saya, bioskop ke depannya bisa menjadi primadona untuk para pengiklan di samping beriklan melalui internet. Hayo siapa yang tertarik untuk mencoba???

Wednesday, June 17, 2009

Remote control adalah musuh? Bisa jadi benar adanya.


Saat ngobrol bareng dengan pekerja iklan, praktisi periklanan, pemilik product atau pengiklan, kita sepakat bahwa remote control adalah salah satu musuh utama. Lho kok? Lha iya lah… gimana nggak… kita capek-capek memproduksi iklan TV, nayangin dan bayar ke stasiun TV Swasta, dengan biaya ratusan juta bahkan hingga milyaran dan dengan control kualitas yang prima, saat jam ditayangkan iklannya dengan santainya para pemirsa TV yang juga menjadi target iklan tsb. dengan mudahnya memencet tombol remote control dan memindahkan ke program TV lain. Coba kalau nggak ada teknologi remote control, pastinya mereka akan menonton program iklan sampai habis. Kalau ngggak seneng paling TV nya yang dimatikan.

Beginilah nasib iklan, saat sudah ditonton beberapa kali, audience pastinya akan bosan [ah, iklan itu lagi] dan cenderung memindahkan channel. Padahal yang namanya TV swasta kalau nggak ada iklannya pastinya sudah tutup dari kapan-kapan. Karena praktis saat ini stasiun TV swasta itu hidupnya benar-benar mengandalkan para pengiklan. Lihat saja TV swasta yang program tayangannya kurang bagus pasti pengiklannya sedikit.

Terus bagaimana dong caranya bikin iklan yang bagus supaya pemirsanya nggak gampang bosan dan terus menonton. Inilah yang menjadi tantangannya. Banyak iklan bagus yang menghibur, yang lucu, yang berhasil memikat hati pemirsanya tapi siapakah yang bisa menjamin bahwa iklan tsb. dilihat terus oleh pemirsa tanpa memencet tombol remote controlnya?

Itulah sebabnya, para pekerja kreatif di bisnis periklanan selalu dituntut untuk selalu kreatif dan lebih kreatif lagi dari hari ke hari. Tentunya agar iklan yang digagas dan kemudian diproduksi selalu menarik, enak ditonton, menghibur, pesan iklannya mampu mengundang simpati tanpa harus menggurui, dan lebih penting lagi agar pemirsanya nggak memencet tombol di remote controlnya. Inilah tuntutan yang harus bisa dipenuhi oleh para praktisi periklanan saat ini.

Saturday, May 30, 2009

Warga Negara = konsumen



Ngomongin isu bahwa salah satu cawapres adalah penganut faham ekonomi neoliberal benar nggak sih? Kalau saya melihatnya bahwa Negara kita entah kapan mulainya kok justru memang sudah masuk ke faham ekonomi neoliberal [entahlah apakah salah satu cawapres tsb. juga terlibat menjadi arsiteknya?]. Sadar nggak [entah sejak kapan] kita selau mendengar jargon ekonomi ‘pasar bebas’, ‘serahkan ke mekanisme pasar’, ‘privatisasi’, ‘deregulasi’, dsb. [apalagi ya?] yang jelas-jelas ini semua kan jargon yang diusung dari negara-negara berfaham neoliberal.


Terus secara nggak terasa dampaknya memang cukup mengerikan buat kita sebagai warga Negara. Yang tadinya sebagai warga Negara kita seharusnya dilindungi dan harus dipikirin oleh Negara, sekarang sebagai warga Negara di mata Negara kita hanya menjadi seperti layaknya konsumen yang menghuni sebuah Negara. Dan konyolnya seperti layaknya konsumen yang berada di dalam perekonoman pasar bebas, kita wajib untuk mengurus diri sendiri dengan dipaksa untuk terjun dalam aliran besar yang bernama pasar bebas tadi. Kita dipersilakan menjadi kaya raya [kalau bisa lho] sekaligus juga menjadi miskin [salah sendiri karena nggak mampu bersaing]. Kita dipersilakan jadi pandai sekaligus juga pastinya ada yang jadi bodoh [kalau nggak mampu sekolah]. Kita juga dipersilakan untuk berhasil meraih prestasi puncak & sukses tapi sekaligus juga dipersilakan menjadi terpuruk-puruk. Karena semua ini sudah bukan tanggung jawab Negara lagi untuk mengentas warga Negara dari keadaan yang dialaminya. Ingat kita ini kan konsumen dari sebuah mekanisme pasar bebas.


Jadi nggak heran kalau BBM mahal, rakyat nggak mampu beli minyak tanah untuk masak itu urusan konsumen, salah sendiri nggak mampu beli kan sudah dilepas ke mekanisme pasar. [Konversi minyak tanah ke gas saya yakin pasti juga ada kepentingan besar pengusaha di baliknya]. Begitu juga tatkala harga beras dan sembako lainnya melambung lalu rakyat menjerit, Negara nggak mampu mengontrolnya, paling-paling hanya ‘operasi pasar’ di tempat-tempat terbatas tentunya sambil berkilah itu sudah mekanisme pasar karena demand lagi naik dan supply nya terbatas jadi harga melonjak, nanti juga stabil lagi. Transportasi susah, salah sendiri kenapa nggak mampu beli kendaraan pribadi. Jalanan macet, salah sendiri kenapa nggak mampu bayar jalan tol. Pas lebaran atau pun hari libur tiket mahal, lha ini kan juga mekanisme pasar. Mau memasukkan anak ke sekolah negeri juga mahal [dikemas dalam bahasa ’iuran komite’], sadar nggak sadar secara nggak langsung sistem pendidikan di negeri ini kan sudah menganut ekonomi pasar bebas juga. Mau masuk ke perguruan tingi negeri milik Negara juga ada yang namanya jalur khusus, jalur mandiri, dsb. Yang ujung-ujungnya juga ‘do it’ dan duit yang puluhan hingga ratusan juta rupiah. Rakyat sakit dan mau berobat ke rumah sakit juga harus bayar mahal [kalau toh ada kartu askes, RS malah yang nolak]. Dan masih banyak lagi kalau mau kita kritisi lebih jauh lagi.


Nantinya di negeri tercinta ini yang kaya akan bertambah kaya, dan yang miskin akan malah terpuruk lebih dahsyat lagi. Jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin juga akan bertambah dalam dan lebar. Konyolnya mereka yang menjalankan roda pemerintahan akan selalu mengusahakan dirinya dan keluarganya untuk tetap terjamin keberkelimpahannya dan kesejahteraannya. Lihat saja rakyatnya terpuruk Negara mau bangkrut, gaji DPR dan para eksekutif negeri ini termasuk para pengelola BUMN justru malah berkelimpahan [rumah mewah ada di mana2, mobil mewah, anak sekolah di manca Negara, istri belanja ke kota-kota besar dunia, etc.]. Lebih konyol lagi, Negara pada prakteknya justru banyak melindungi kepentingan para pengusaha. Kalau ada sengketa antara pengusaha dan buruh, pastinya buruh yang dikalahkan. Begitu juga, lihat saja dengan mudahnya Negara memberikan ijin para pengusaha swasta untuk mengelola bidang-bidang yang menurut UUD 45 seharusnya menjadi tanggung jawab Negara, seperti bidang kesehatan & pendidikan. Bingung menyediakan lapangan kerja, warga negaranya dipersilakan untuk menjadi TKI yang bergaji murah tanpa memikirkan harkat & martabatnya sebagai warga Negara sebuah bangsa yang besar bernama Indonesia.


Dari paparan di atas, ‘sejatinya’ Negara kita tercinta ini kan sudah masuk ke jargon perekonomian neolib yang mendewakan ‘pasar bebas’ di mana warga Negara sudah bukan menjadi tanggung jawab Negara, tapi harus bertanggung jawab terhadap diri sendiri.


Kembali ke urusan Capres & Cawapres tadi, kalau lihat yang dijanjikan untuk rakyat yang ada di slogan & jargonnya, kok saya jadi pesimis. Ada yang mengusung slogan ‘lanjutkan’, jadi apa maksudnya Negara yang sistemnya menjadikan warga negaranya untuk terus jadi konsumen-nya para pengusaha harus terus dilanjutkan? Kemudian ada juga yang mengusung slogan ‘lebih cepat lebih baik’, apa ini juga dimaksudkan system neolib yang secara nggak sadar dianut oleh Negara ini justru mau dipercepat lagi agar rakyat sebagai ‘konsumen’nya menjadi lebih terpuruk lagi? Terus yang satu lagi mengusung slogan ‘pro rakyat’, apa ya mungkin bisa merubah system Negara & birokrasi yang sudah berakar puluhan tahun seperti ini hanya dalam waktu 5 tahun, terus mengembalikan kepada ‘ekonomi kerakyatan’? Apa nggak malah nantinya nabrak ‘tembok’? Hehehehe…


Thursday, May 21, 2009

Haruskah semua ‘impian’ kita bisa terwujud?



Semua orang pasti punya ‘mimpi’. Bukan mimpi dalam arti kembangnya tidur lho ya… tapi mimpi dalam arti cita-cita atau keinginan yang kepingin diraih. Saya ingat banget pada waktu masih duduk di kelas 3 SD kepingin banget bisa jadi pilot pesawat komersial yang bisa terbang ke kota-kota besar di dunia. Logika berpikir pada saat itu hanyalah kepingin bisa lihat kota-kota di luar negeri.


Kenyataannya, saat saya lulus SMA dan kepingin ikutan test ke sekolah penerbangan di Curug, ibu angkat saya melarangnya. Dan justru menganjurkan untuk kuliah di Surabaya saja. Begitulah, akhirnya jalan hidup saya pun mengalir begitu saja hingga saat ini. Meskipun background ilmunya manajemen keuangan [kuliah di Surabaya] dan filsafat social [saat kuliah di Jakarta], toh pada akhirnya bidang pekerjaan yang saya tekuni di awal karir justru di jurnalistik [wartawan tabloid Mutiara, terus majalah Hai].


Bosan jadi wartawan selama 5 tahun dan gara-gara sering dapet side job iklan company profile perusahaan-perusahaan yang mau go public di tahun 90-an, kok akhirnya saya malah tertarik dengan dunia advertising [mimpi saya waktu jadi wartawan]. Mulailah saya belajar secara otodidak design commercial art dan creative copywriting. Eh, nggak nyangka ketika iseng-iseng nglamar ke perusahaan advertising ternyata diterima.


Mulailah di tahun 90, aku bisa bekerja sesuai dengan bidang baru yang aku minati, dan I begitu seterusnya pokoknya ngalir aja. Tahun-tahun 90-an bidang advertising memang lagi booming, bahkan banyak tenaga ahli asing yang ikutan masuk Indonesia untuk menyerbu berebut kue. Bayangkan pada waktu itu kalau kita bikin iklan TV, pasti sutradara, produser, dan beberapa tim intinya pasti orang ‘bule’, entah itu dari Aussy malah ada yg dari Afsel. Kita pun sebagai tenaga creative di Advertising seringkali dikirim training ke kantor pusat regional yang biasanya ada di Bangkok, Singapura atau malah Kuala Lumpur. Penghargaan ‘Citra Pariwara’ pun pernah aku dapatkan untuk iklan handphone Ericcson di tahun 1998.


Asyiiknya pada tahun segitu yang namanya proses film itu belum bisa dilakukan di Jakarta, makanya selalu selesai shooting iklan, kita tim kreatif pasti harus ikutan proses film tsb. selama 3 hingga 6 hari ke Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, bahkan ke Aussy. Itulah kenikmatan tersendiri bekerja jadi orang iklan, kerja sambil ‘cuci mata’. Tidur pun selalu di hotel bintang 4. Bayangkan kalau tiap bulan ada 1 produksi iklan, setahun 12, bisa dipastikan berapa hari bisa jalan-jalan ke kota-kota besar dunia tsb. Dan itu terus menjadi rutinitasku hingga tahun 2003 yang lalu.


Namun tiba-tiba di tahun 2003 banyak banget investor yang akhirnya membangun usaha pemrosesan film [post house] di Jakarta [ada 3 perusahaan pasca produksi perfilman yang juga canggih]. Karena jelas memangkas biaya produksi, maka akhirnya sejak saat itu yang namanya proses film cukup dilakukan di Jakarta. Kesempatan untuk jalan-jalan ke manca Negara pun agak berkurang hanya khusus untuk produksi iklan yang memang kita lakukan di luar negeri mulai dari shootingnya sampai proses editingnya. Yang masih sering dilakukan biasanya di Malaysia dan Thailand.


Kembali ke urusan mimpi saat kecil dulu, walaupun pada akhirnya nggak berasil menjadi pilot, toh keinginan untuk bisa melihat kota-kota besar dunia pun akhirnya terwujud juga. Walaupun belum semua kota besar dunia yang berhasil aku kunjungi. Makanya, saat ini kalau pas merenung, selalu muncul pertanyaan yang paling mendasar “haruskah semua impian kita bisa terwujud”? Jawabannya ya kembali kepada diri kita masing-masing.


Di tahun 2003 pun, gara-gara baca buku-bukunya Robert T Kiyosaki seri Rich Dad, Poor Dad. Aku juga mulai tergoda dengan impian baru lagi. Entahlah kalau membayangkan bisa punya ‘peternakan uang’ dan mempersilakan uang kita bekerja untuk kita, kok asyik banget ya… Kita bisa menjadi tuan bagi diri kita sendiri. Nah, mulailah aku membangun mimpi untuk menjadi pengusaha. Seperti biasa akupun belajar sendiri secara otodidak. Bahkan ikutan gabung sama temen-temen seperjuangan di komunitas Tangan di Atas : www.tangandiatas.com Sharing kisah perjuangan dan perjalanan usaha pun aku tulis khusus di blogku, www.endrowahmar.blogspot.com


Yang namanya duit melayang untuk proses belajar juga sudah banyak. Dimarahi istri gara-gara bangkrutnya Toko Sepatu di pusat grosir MetroTanah Abang, Toko handphone di Mall Pondok Gede, warnet di depan Mall Cijantung, bahkan terakhir usaha rental alat berat excavator di Boyolali. Tapi ini semua kan proses. Itung-itung kalau aku nerusin belajar hingga S3 ke luar negeri [bayar dewe] habis duitnya kan sama. Dan lagi-lagi saat lagi sendirian merenungi nasib yang muncul ya pertanyaan itu lagi “haruskah semua impian kita bisa terwujud?” Karena jujur aja hingga saat ini usaha yang ada rental kendaraan dan bisnis property juga belum bisa dibilang sukses banget.


Saya yakin 1000% banyak dari kita yang sebenarnya punya mimpi dahsyat tapi belum bisa mewujudkannya. Bahkan saya juga yakin pastinya ada di antara kita yang berdiam diri membiarkan mimpinya tetap menjadi impian tanpa berusaha untuk mewujudkannya. Lalu apa sich yang menyebabkan kita tidak bisa merealisasikan mimpi kita? Saya yakin impian itu pasti sudah lama ada di pikiran, dan mungkin sudah ada perencanaan cara maupun strategi untuk mencapainya?


Setiap orang pasti mempunyai cita-cita dan impian dalam hidupnya.. seperti : memiliki rumah dan mobil mewah, menjadi orang terkenal, mengunjungi tempat-tempat eksotik di seluruh dunia, menikmati pola hidup yang luar biasa, bebas waktu dan financial dan bisa melakukan apa saja yang ingin kita lakukan bersama keluarga dan orang-orang yang paling kita sayangi dalam hidup kita. Tetapi pertanyaannya : “Kenapa banyak dari kita tidak bisa merealisasikan impian kita?” Inilah yang hingga tulisan ini dibuat jawabannya belum aku dapatkan.

Kata hati



Dengarkan selalu kata hati kita…
Kenapa?
Karena ia jujur dan bicara apa adanya

Asahlah selalu ketajamannya…
Mengapa?
Karena seiring dengan waktu ia bisa tumpul
bahkan kurang peka

Jagalah selalu dengan dzikir dan fikir…
Untuk apa?
Karena sejatinya ia begitu mudah tergelincir

Wednesday, May 20, 2009

Minggu tenang anakku


Kali ini aku mau cerita tentang kegiatan anakku yang nomor 2. Tanggal 27 s.d. 30 April 2009 [hari ini] dia ikut ‘perhelatan akbar’ yang namanya UAN [ujian akhir nasional] SMP. Aku sering dibikin bingung melihatnya. Bayangin aja, dalam menghadapi UAN di mana anak-anak SMP klas 9 lainnya pada sibuk belajar, anakku Wira ini malah asyik terus main game on line, menggambar ‘manga’ style, dan ngeband [3 hobinya selain basket].

Waktu diberi libur untuk belajar [minggu tenang] dia malah happy banget, karena bisa memanjakan hobinya dengan maksimal. Sebagai orang tua aku jadi pusing dibuatnya. Pernah juga aku mencoba mendekati dengan memberi contoh prestasi kakaknya [adhika] dulu waktu SMP, eh dia malah marah banget. “Bapak tuh nggak usah nyamain aku sama kakak. Dari fisik aja aku sudah beda, kakak kan cewek, aku cowok, terus minatnya juga lain…” Wuah, aku merasa bersalah dengan ‘statement’ ku tadi. Emang tidak seharusnya aku membanding-bandingkan. Dulu waktu kuliah di Filsafat aku juga pernah dapet mata kuliah Filsafat Manusia. Yang namanya manusia tuh emang nggak ada yang sama persis meskipun saudara sekandung. Dan manusia itu memang punya kepribadian dan keunian sifat masing-masing yang khas. Pinter juga nich bocah.

Di kesempatan lain, aku tetap berusaha dan terus mencoba untuk menasehatinya agar mau belajar, dia langsung menjawab : “bapak jangan nambahin aku stress, aku tuh sudah capek sama try out2 kemarin”… Terus aku mencoba mengingatkan bahwa minggu tenang itu diberikan diharapkan bisa dimanfaatkan untuk belajar. Dia pun menimpali dengan nyantai; “ pengertian minggu tenang tuh buat aku lain… minggu tenang tuh maksudnya aku harus menenangkan diri dan pikiran biar nggak stress. Ya dengan main game, nggambar dan musik aku justru bisa nyantai dan tenang. Jadi nanti siap ngerjain UAN, gitu…”.

Bener juga ya… kalau tak pikir-pikir, sejak bulan February lalu memang para siswa kelas 9 SMP di mana-mana di Indonesia sudah pada disibukkan oleh sekolah masing-masing dengan berbagai try out & latihan soal untuk menghadapi UAN. Karena SMP mana sih yang nggak berambisi & kepingin muridnya lulus dan sukses menghadapi UAN? Anak-anak lah yang menjadi korbannya. Bayangin aja sekolah selama 3 tahun dengan seabrek palajaran, nasibnya akhirnya hanya ditentukan dengan UAN yang hanya 4 mata pelajaran [Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris & IPA]. Padahal kalau dipikir bisa jadi 4 mata pelajaran itu yang justru bukan bidang yang mereka minati. Contoh gampangnya, anakku yang hobinya & minatnya ke musik, ke nggambar & olah raga tidak seharusnya nasibnya ditentukan oleh 4 mata pelajaran itu. Pada kenyataan di kehidupan nyata, banyak anak-anak yang hobinya musik akhirnya toh bisa sukses & kaya raya karena grup bandnya sukses. Atau yang hobi nggambar, banyak juga yang akhirnya sukses jadi pelukis top yang lukisannya laku dijual ratusan juta.

Kayaknya, emang system pendidikan di Indonesia yang mesti dirombak dan saatnya pula untuk mulai memikirkan bahwa saat ini banyak orang yang sukses hidupnya justru dari menekuni hobinya. Karena aku lihat sampai saat ini pendidikan tuh berkutat dan hanya mementingkan di seputaran pelajaran-pelajaran yang bersifat keilmuan [sains] aja, nggak pernah mengarahkan ke bagaimana mengembangkan bakat & kreativitas anak didik. Tapi ini semua kan urusan para orang pinter yang ada di negeri ini. Aku kan cuma bisa ngomong dan complain doang.

So semua curhatku ini kan hanya bentuk aktualisasi dari kekhawatiranku akan hasil ujian anakku Wira. Soalnya, system penerimaan SMA di Jakarta kan pure bergantung dari hasil UAN, kalau NEM [nilai ebtanas murni] nya nggak bagus kan dapet SMA nya juga yang kurang bagus. Kepinginnya sih si Wira ini bisa seperti kakaknya masuk di SMAN 81 Jakarta. [wuah aku kok terjebak nyamain sama kakaknya lagi ya?] . Tahun 2008 kemarin NEM terendah yang masuk di SMAN 81 Jakarta 36.28 [rata2 9,07]. Berat banget kan. Yach mudah-mudah hasil ujian ankku Wira NEMnya bisa bagus, aku hanya bisa berharap dan berdoa saja. Amin.