blog ini hanyalah wadah 'curhat' & sharing seorang endro wm sayidno berkaitan dengan Madiun, Surabaya, Jatim, kewirausahaan, pengembangan diri, hobi, koleksi, keluarga, perkawanan, pendidikan, pekerjaan, peluang usaha, trend masa kini, dsb.
Thursday, August 20, 2009
Marhaban Yaa Ramadhan
Alangkah baiknya pula selama bukan suci ini bila kita bisa memperbanyak berdoa semoga Allah memberikan tenaga , kelapangan dan kesempatan nebgerjakan ibadah puasa ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Tentunya dengan harapan semoga Allah akan memberikan taufik & hidayahnya bagi kita semua, sehingga kita mengerjakan puasa dengan hati yang ikhlas dan hanya untuk mengharap ridho-Nya. Selain itu, bulan ramadhan juga dapat kita gunakan untuk mendidik diri, keluarga dan lingkungan terdekat kita ke arah pemantapan iman & taqwa kita semua kepada Allah SWT.
Untuk itu, saya mohon keikhlasannya Anda semua untuk memberikan maaf atas segala kekhilafan dan kesalahani baik berupa perkataan maupun tindakan. Marhaban Yaa Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir & bathin.
Harapannya, semoga saya dan Anda semua dapat menyambut bulan suci Ramadhan --bulan nan penuh berkah, bulan pengampunan dan perjuangan-- dengan penuh sukacita, dan siap baik secara fisik, mental maupun ilmu sehingga nantinya kita semua bisa menjadi manusia baru yang mendapatkan segala berkah & kebaikan selama bulan Ramadhan ini, dan tentunya agar kita semua menjadi umat muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Amin.
Friday, July 24, 2009
‘Berbagi’ di hari Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Tanggal 20 Juli 2009 kemarin adalah hari libur nasional berkaitan dengan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tiba-tiba terpikir kok kepingin memaknai hari besar dan bersejarah bagi umat Islam ini dengan sesuatu yang bermanfaat. Memang untuk urusan agama & keimanan, kita sekeluarga berusaha untuk terus belajar dan belajar agar lebih baik lagi. Saya pribadi pun ingin mengajarkan kepada anak-anak apa saja kewajiban kita sebagai muslim yang harus dilakukan, tentunya agar di kemudian hari nanti ketika mereka sudah dewasa dapat menjadi umat muslim yang baik & benar yang selalu mengamalkan ajaran agamanya..
Setelah berembug dengan istri & anak-anak, akhirnya tercetus ide untuk berbagi dengan para anak yatim, piatu, dan dluafha. Mumpung juga masih terkait dengan dimulainya tahun ajaran baru, di mana banyak dari mereka yang membutuhkan biaya extra untuk membeli buku, seragam, dsb.
Dalam satu riwayat Nabi Muhammad SAW menegaskan : “Barang siapa di antara kaum muslimin yang menanggung makan dan minum anak yatim, maka Allah akan memberikan kecukupan penghidupan baginya, serta mengharuskan dia masuk surga kecuali bila dia melakukan dosa yang tak terampuni” [HR Turmudzi].
Mulailah kita bagi tugas. Aku & anak-anak menyiapkan tempat di rumah dan segala sesuatu yang diperlukan untuk acara ini.. Istri langsung ke rumah ustadz Nur Cahaya, [lulusan UIN yang juga guru ngaji anak-anak di rumah] untuk meminta kesediaannya memberi sedikit tauziah dalam acara tsb.
Sorenya, pk. 16.00 rombongan 20 anak-anak Yatim, Piatu & Dhluafa -- yang ada di sekitar komplek tempat kita tinggal – langsung berdatangan. Acara pun langsung kita mulai. Meskipun duduk berdesakan di karpet di ruang tamu kami, tapi nampak mereka semua gembira menerima undangan keluarga kami.
Ustadz Nur Cahaya memulai siraman rohaninya dengan mengingatkan kita tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, dan pentingnya kita melaksanakan kewajiban Sholat 5 waktu. Kemudian dilanjut dengan cerita menarik yang membangkitkan semangat anak-anak Yatim, Piatu & Dhluafa agar tetap semangat belajar dan tetap focus kepada apa yang dicita-citakannya. Kalau kita mau berusaha pasti nantinya selalu ada jalan untuk meraihnya. Walaupun kondisi ekonomi kita serba minim, yang penting tetap semangat untuk bisa meraih prestasi sehingga nantinya kan bisa mendapat beasiswa dsb. Dan hal itu sudah dibuktikan oleh ustadz Nur Cahaya sendiri yang selalu mendapat beasiswa dan akhirnya telah berhasil lulus kuliah di UIN [Universitas Islam Negeri Jakarta].
Akhirnya, pk. 17.00 acara ini kita tutup dengan doa bersama. Sejujurnya, apa yang kita sekeluarga lakukan saat ini dalam hal berbagi dengan anak yatim, piatu & dhluafa memang belum seberapa bila dibandingkan dengan total kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun setidaknya tujuan saya untuk belajar menjadi umat muslim yang lebih baik dan mempraktekkannya serta mengamalkannya bersama istri & anak-anak bisa terlaksana. Karena buat apa kita menjadi umat muslim kalau tidak pernah mengamalkan ajarannya dalam kehidupan. Ya, Allah maafkan hambamu ini, karena baru 22 anak yatim, piatu & dhluafa yang saat ini bisa saya bantu. Semoga di lain kesempatan atas Kehendak-Mu Ya Allah bisa lebih banyak lagi anak yatim, piatu & dhluafa yang bisa saya bantu. Amin.
Friday, June 19, 2009
Benarkah iklan paling efektif adanya di bioskop?

Masih ngomongin soal iklan, kalau dipikir-pikir, iklan yang paling efektif dalam menjangkau target sasarannya sepertinya adanya di bioskop. Lho kok bisa?
Begini penjelasannya. Kita semua tahu, tatkala di bioskop hendak memutar film, seperti biasa selalu ada serangkaian pesan iklan yang diputar untuk para pemirsa bioskop. Nah, sebagai penonton tentunya kita tidak bisa ‘lari’ ataupun menghindar dari ‘serangan’ pesan iklan tsb. dan mau nggak mau akan melihatnya. Kalau nggak mau melihat paling bisanya Cuma tutup mata, tapi telinga kan masih mendengarkan pesan iklannya. Ingat, Cuma di bioskop tempat di mana pemirsanya tidak bisa mengontrol iklan yang ditayangkan. Bandingkan dengan keefektifan dari iklan TV, di mana dengan begitu mudahnya pemirsa menghindar dari rangkaian pesan iklan.
Lebih dari itu, bagi pemasar yang target audience-nya ‘orang muda’, bioskop juga sangat tepat sasaran. Lihat saja tatkala, ada film bagus yang diputar, selalu banyak penontonnya berasal dari kalangan orang muda ini. Nah bagi para pemasar yang produknya menyasar kalangan orang muda mulailah untuk mempertimbangkan media bioskop.
Kelebihan lainnya, saat film yang diputar termasuk kategori film best seller, biasanya mampu menyedot jumlah penonton yang spektakuler. Bahkan akhir-akhir ini beberapa film local juga berhasil menarik penonton hingga jutaan orang. Khabarnya film Ayat-ayat Cinta ditonton hingga 2 juta orang lebih. Laskar Pelangi malah lebih dari itu. Bagi para pemasar data ini jelas menjadi menarik. Karena ada ‘kepastian’ bahwa iklan yang ditayangkan ditonton oleh pemirsa yang akurasinya bisa dipertanggungjawabkan. Lagi-lagi coba bandingkan dengan iklan di TV di mana begitu mudahnya pemirsa ‘menghindar’ dari tayangan iklan.
Dari sisi cost, bioskop juga jauh lebih murah dibanding iklan di TV. Malah saya yakin bila film yang jumlah penontonnya hingga jutaan, pastinya cost per rupiah yang dikeluarkan untuk beriklan bila dibagi dengan jumlah penontonnya menjadi sangat reliable, masuk akal, murah meriah, dan yang lebih penting tepat sasaran. Bieberapa dari klien saya juga mulai tertarik untuk menayangkan iklannya di bioskop. Khususnya untuk pemutaran film Ketika Cinta Bertasbih, yang diprediksi oleh para pengamat film Indonesia bakal ditonton oleh lebih dari 2 juta orang.
Jadi menurut saya, saat ini seharusnya bioskop bisa menjadi alternative terbaik bagi para pemasar untuk menyampaikan pesan produknya dengan tingkat efektifitas yang cukup tinggi. Namun pendapat saya ini hanyalah berangkat dari asumsi lho… karena kalau mau tahu lebih pasti seyogyanya dilakukan riset yang cukup mendalam. Tapi feeling saya, bioskop ke depannya bisa menjadi primadona untuk para pengiklan di samping beriklan melalui internet. Hayo siapa yang tertarik untuk mencoba???
Wednesday, June 17, 2009
Remote control adalah musuh? Bisa jadi benar adanya.
Saat ngobrol bareng dengan pekerja iklan, praktisi periklanan, pemilik product atau pengiklan, kita sepakat bahwa remote control adalah salah satu musuh utama. Lho kok? Lha iya lah… gimana nggak… kita capek-capek memproduksi iklan TV, nayangin dan bayar ke stasiun TV Swasta, dengan biaya ratusan juta bahkan hingga milyaran dan dengan control kualitas yang prima, saat jam ditayangkan iklannya dengan santainya para pemirsa TV yang juga menjadi target iklan tsb. dengan mudahnya memencet tombol remote control dan memindahkan ke program TV lain. Coba kalau nggak ada teknologi remote control, pastinya mereka akan menonton program iklan sampai habis. Kalau ngggak seneng paling TV nya yang dimatikan.
Beginilah nasib iklan, saat sudah ditonton beberapa kali, audience pastinya akan bosan [ah, iklan itu lagi] dan cenderung memindahkan channel. Padahal yang namanya TV swasta kalau nggak ada iklannya pastinya sudah tutup dari kapan-kapan. Karena praktis saat ini stasiun TV swasta itu hidupnya benar-benar mengandalkan para pengiklan. Lihat saja TV swasta yang program tayangannya kurang bagus pasti pengiklannya sedikit.
Terus bagaimana dong caranya bikin iklan yang bagus supaya pemirsanya nggak gampang bosan dan terus menonton. Inilah yang menjadi tantangannya. Banyak iklan bagus yang menghibur, yang lucu, yang berhasil memikat hati pemirsanya tapi siapakah yang bisa menjamin bahwa iklan tsb. dilihat terus oleh pemirsa tanpa memencet tombol remote controlnya?
Itulah sebabnya, para pekerja kreatif di bisnis periklanan selalu dituntut untuk selalu kreatif dan lebih kreatif lagi dari hari ke hari. Tentunya agar iklan yang digagas dan kemudian diproduksi selalu menarik, enak ditonton, menghibur, pesan iklannya mampu mengundang simpati tanpa harus menggurui, dan lebih penting lagi agar pemirsanya nggak memencet tombol di remote controlnya. Inilah tuntutan yang harus bisa dipenuhi oleh para praktisi periklanan saat ini.
Saturday, May 30, 2009
Warga Negara = konsumen

Ngomongin isu bahwa salah satu cawapres adalah penganut faham ekonomi neoliberal benar nggak sih? Kalau saya melihatnya bahwa Negara kita entah kapan mulainya kok justru memang sudah masuk ke faham ekonomi neoliberal [entahlah apakah salah satu cawapres tsb. juga terlibat menjadi arsiteknya?]. Sadar nggak [entah sejak kapan] kita selau mendengar jargon ekonomi ‘pasar bebas’, ‘serahkan ke mekanisme pasar’, ‘privatisasi’, ‘deregulasi’, dsb. [apalagi ya?] yang jelas-jelas ini semua
Terus secara nggak terasa dampaknya memang cukup mengerikan buat kita sebagai warga Negara. Yang tadinya sebagai warga Negara kita seharusnya dilindungi dan harus dipikirin oleh Negara, sekarang sebagai warga Negara di mata Negara kita hanya menjadi seperti layaknya konsumen yang menghuni sebuah Negara. Dan konyolnya seperti layaknya konsumen yang berada di dalam perekonoman pasar bebas, kita wajib untuk mengurus diri sendiri dengan dipaksa untuk terjun dalam aliran besar yang bernama pasar bebas tadi. Kita dipersilakan menjadi kaya raya [kalau bisa lho] sekaligus juga menjadi miskin [salah sendiri karena nggak mampu bersaing]. Kita dipersilakan jadi pandai sekaligus juga pastinya ada yang jadi bodoh [kalau nggak mampu sekolah]. Kita juga dipersilakan untuk berhasil meraih prestasi puncak & sukses tapi sekaligus juga dipersilakan menjadi terpuruk-puruk. Karena semua ini sudah bukan tanggung jawab Negara lagi untuk mengentas warga Negara dari keadaan yang dialaminya. Ingat kita ini
Jadi nggak heran kalau BBM mahal, rakyat nggak mampu beli minyak tanah untuk masak itu urusan konsumen, salah sendiri nggak mampu beli
Nantinya di negeri tercinta ini yang kaya akan bertambah kaya, dan yang miskin akan malah terpuruk lebih dahsyat lagi. Jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin juga akan bertambah dalam dan lebar. Konyolnya mereka yang menjalankan roda pemerintahan akan selalu mengusahakan dirinya dan keluarganya untuk tetap terjamin keberkelimpahannya dan kesejahteraannya. Lihat saja rakyatnya terpuruk Negara mau bangkrut, gaji DPR dan para eksekutif negeri ini termasuk para pengelola BUMN justru malah berkelimpahan [rumah mewah ada di mana2, mobil mewah, anak sekolah di manca Negara, istri belanja ke kota-kota besar dunia, etc.]. Lebih konyol lagi, Negara pada prakteknya justru banyak melindungi kepentingan para pengusaha. Kalau ada sengketa antara pengusaha dan buruh, pastinya buruh yang dikalahkan. Begitu juga, lihat saja dengan mudahnya Negara memberikan ijin para pengusaha swasta untuk mengelola bidang-bidang yang menurut UUD 45 seharusnya menjadi tanggung jawab Negara, seperti bidang kesehatan & pendidikan. Bingung menyediakan lapangan kerja, warga negaranya dipersilakan untuk menjadi TKI yang bergaji murah tanpa memikirkan harkat & martabatnya sebagai warga Negara sebuah bangsa yang besar bernama
Dari paparan di atas, ‘sejatinya’ Negara kita tercinta ini
Kembali ke urusan Capres & Cawapres tadi, kalau lihat yang dijanjikan untuk rakyat yang ada di slogan & jargonnya, kok saya jadi pesimis.
Thursday, May 21, 2009
Haruskah semua ‘impian’ kita bisa terwujud?

Semua orang pasti punya ‘mimpi’. Bukan mimpi dalam arti kembangnya tidur lho ya… tapi mimpi dalam arti cita-cita atau keinginan yang kepingin diraih. Saya ingat banget pada waktu masih duduk di kelas 3 SD kepingin banget bisa jadi pilot pesawat komersial yang bisa terbang ke kota-kota besar di dunia. Logika berpikir pada saat itu hanyalah kepingin bisa lihat kota-kota di luar negeri.
Kenyataannya, saat saya lulus SMA dan kepingin ikutan test ke sekolah penerbangan di Curug, ibu angkat saya melarangnya. Dan justru menganjurkan untuk kuliah di
Bosan jadi wartawan selama 5 tahun dan gara-gara sering dapet side job iklan company profile perusahaan-perusahaan yang mau go public di tahun 90-an, kok akhirnya saya malah tertarik dengan dunia advertising [mimpi saya waktu jadi wartawan]. Mulailah saya belajar secara otodidak design commercial art dan creative copywriting. Eh, nggak nyangka ketika iseng-iseng nglamar ke perusahaan advertising ternyata diterima.
Mulailah di tahun 90, aku bisa bekerja sesuai dengan bidang baru yang aku minati, dan I begitu seterusnya pokoknya ngalir aja. Tahun-tahun 90-an bidang advertising memang lagi booming, bahkan banyak tenaga ahli asing yang ikutan masuk
Asyiiknya pada tahun segitu yang namanya proses film itu belum bisa dilakukan di
Namun tiba-tiba di tahun 2003 banyak banget investor yang akhirnya membangun usaha pemrosesan film [post house] di
Kembali ke urusan mimpi saat kecil dulu, walaupun pada akhirnya nggak berasil menjadi pilot, toh keinginan untuk bisa melihat kota-kota besar dunia pun akhirnya terwujud juga. Walaupun belum semua
Di tahun 2003 pun, gara-gara baca buku-bukunya Robert T Kiyosaki seri Rich Dad, Poor Dad. Aku juga mulai tergoda dengan impian baru lagi. Entahlah kalau membayangkan bisa punya ‘peternakan uang’ dan mempersilakan uang kita bekerja untuk kita, kok asyik banget ya… Kita bisa menjadi tuan bagi diri kita sendiri. Nah, mulailah aku membangun mimpi untuk menjadi pengusaha. Seperti biasa akupun belajar sendiri secara otodidak. Bahkan ikutan gabung sama temen-temen seperjuangan di komunitas Tangan di Atas : www.tangandiatas.com Sharing kisah perjuangan dan perjalanan usaha pun aku tulis khusus di blogku, www.endrowahmar.blogspot.com
Yang namanya duit melayang untuk proses belajar juga sudah banyak. Dimarahi istri gara-gara bangkrutnya Toko Sepatu di pusat grosir MetroTanah Abang, Toko handphone di Mall Pondok Gede, warnet di depan Mall Cijantung, bahkan terakhir usaha rental alat berat excavator di Boyolali. Tapi ini semua
Saya yakin 1000% banyak dari kita yang sebenarnya punya mimpi dahsyat tapi belum bisa mewujudkannya. Bahkan saya juga yakin pastinya ada di antara kita yang berdiam diri membiarkan mimpinya tetap menjadi impian tanpa berusaha untuk mewujudkannya. Lalu apa sich yang menyebabkan kita tidak bisa merealisasikan mimpi kita? Saya yakin impian itu pasti sudah lama ada di pikiran, dan mungkin sudah ada perencanaan cara maupun strategi untuk mencapainya?
Setiap orang pasti mempunyai cita-cita dan impian dalam hidupnya.. seperti : memiliki rumah dan mobil mewah, menjadi orang terkenal, mengunjungi tempat-tempat eksotik di seluruh dunia, menikmati pola hidup yang luar biasa, bebas waktu dan financial dan bisa melakukan apa saja yang ingin kita lakukan bersama keluarga dan orang-orang yang paling kita sayangi dalam hidup kita. Tetapi pertanyaannya : “Kenapa banyak dari kita tidak bisa merealisasikan impian kita?” Inilah yang hingga tulisan ini dibuat jawabannya belum aku dapatkan.
Kata hati
Dengarkan selalu kata hati kita…
Kenapa?
Karena ia jujur dan bicara apa adanya
Asahlah selalu ketajamannya…
Mengapa?
Karena seiring dengan waktu ia bisa tumpul
bahkan kurang peka
Jagalah selalu dengan dzikir dan fikir…
Untuk apa?
Karena sejatinya ia begitu mudah tergelincir